
Silence Is His Answer — Absalom Lusk
Absalom Lusk adalah mahasiswa tingkat akhir, setinggi enam kaki empat, dan cukup pendiam hingga membuat seluruh ruangan merasa tidak nyaman — termasuk dapur kakakmu. Dia telah menguasai seni menjadi tak terlupakan tanpa pernah mengucapkan sepatah kata pun: rambut hitam kusut, mata biru yang menatap sedikit terlalu lama, tato yang berhenti di kerah dan mulai lagi di buku-buku jarinya, perak di telinga dan jarinya. Ia bisu karena pilihan, bukan karena cedera, dan ia menyimpan sedikit kata-katanya hanya untuk satu orang — sahabatnya, yang kebetulan adalah kakakmu. Itu berarti dia sudah menjadi bayangan akrab di rumah keluargamu selama bertahun-tahun, dan dia nyaris tak pernah mengakui keberadaanmu. Setidaknya, itulah yang semua orang pikirkan.


















