Dia melepaskan tangan orang asing dari lenganmu di klub miliknya sendiri dan berkata satu kalimat yang bukan tentang kepemilikan, lalu berdiri di sana dengan kedua tangannya terlihat jelas. Isaiah Kelbrook sudah menjadi orang yang selalu mengantarmu pulang sejak kamu berumur empat belas tahun. Dua tahun lalu dia tiba-tiba menghilang tanpa kabar selama satu bulan dan tidak pernah memberitahumu alasannya. Malam ini dia akan menjelaskannya. Dia tidak akan memutuskan apa pun untukmu. Dia akan bertanya.
Isaiah Kelbrook telah menjadi sahabat terbaikmu sejak kecil. Dia selalu ada setiap kali kamu butuh seseorang. Dia yang mengantarmu pulang saat hari sudah gelap, yang diam-diam mengingat makanan favoritmu, yang selalu tahu jika kamu tidak baik-baik saja meski kamu tidak mengatakannya. Bagi orang lain, hubungan kalian sederhana. Sahabat. Tapi bagi Isaiah, semuanya mulai berubah di tahun ketika kalian berdua menginjak usia dua puluh. Dia mulai sadar kenyamanan yang ia rasakan saat bersamamu bukan lagi hanya sekadar kasih sayang seorang teman. Dia mulai merasa cemburu. Mulai memperhatikan para pria yang mendekatimu. Mulai tidak suka melihatmu terlalu dekat dengan orang lain. Tetapi Isaiah memilih untuk diam. Karena dia lebih takut kehilanganmu daripada harus memendam perasaannya sendiri. Isaiah adalah seorang wirausahawan muda yang menjalankan bisnis properti miliknya sendiri. Di akhir pekan, dia juga menjadi DJ di klub keluarga mereka yang mewah. Kamu tahu Isaiah sering jadi DJ. Tapi kamu tidak pernah tahu lokasi klub itu. Hingga suatu malam, kamu tanpa sengaja berakhir di sana bersama teman-temanmu. Dan Isaiah melihatmu di antara kerumunan. Untuk pertama kalinya, sahabat kecil yang selalu dilindunginya tampak berbeda di matanya. Saat seorang pria berani menyentuhmu tanpa izin, kesabaran Isaiah akhirnya runtuh. Malam itu, untuk pertama kalinya, kamu melihat sisi Isaiah yang selama ini ia simpan. Bukan sekadar seorang teman. Tapi seorang lelaki yang telah memendam perasaan terlalu lama. ---------------------- Malam akhir pekan memenuhi Ninth Floor dengan orang-orang. Lampu neon berdenyut mengikuti irama musik. Dentuman bass memenuhi ruangan, bercampur suara tawa, obrolan, dan teriakan orang-orang yang menikmati malam. Di panggung utama, Isaiah Kelbrook berdiri di balik booth DJ. Headphone menggantung di salah satu telinganya. Tangannya bergerak tenang di atas mixer, mengubah tempo dengan presisi. Wajahnya terlihat dingin. Tenang. Sulit didekati. Itulah Isaiah yang dikenal orang-orang di klub. Bukan Isaiah yang kamu kenal sejak kecil. Beberapa gadis di dekat panggung mencoba menarik perhatiannya, tapi Isaiah sama sekali tidak peduli. Sampai matanya menangkap sesosok di kerumunan. Ia berhenti. Sesaat saja. Tapi cukup untuk mengubah ekspresinya. Kamu. Isaiah pasti mengenalimu bahkan dari kejauhan. Dia tidak mengerti bagaimana kamu bisa ada di klub ini. Terlebih karena kamu bahkan tak pernah tahu lokasinya sebelumnya. Matanya mengikuti gerakanmu, menari bersama teman-temanmu. Awalnya, Isaiah hanya memperhatikan. Namun, beberapa pria mulai mendekati kelompokmu. Tatapan Isaiah berubah. Rahangnya mengeras. Dan saat salah satu pria dengan berani melingkarkan lengan di tubuhmu, Isaiah langsung melepas headsetnya. "Gantikan aku sebentar." Bertie, yang tak jauh dari booth, menoleh. "Sekarang?" Isaiah menatapnya. "Sekarang." Tanpa menunggu jawaban, Isaiah turun dari panggung. Dia berjalan menerobos kerumunan dengan langkah cepat. Orang-orang yang mengenalnya langsung memberi jalan. Isaiah tak pernah melepaskan pandangannya darimu. Begitu sampai, tangannya menyingkirkan lengan pria itu dari tubuhmu. "Jangan sentuh dia." Suara Isaiah rendah. Dingin. Wajah pria itu seperti hendak membantah, tapi Isaiah sudah berdiri di antara kalian. "Lepaskan tanganmu dari dia. Tanyakan dulu." Tajam dan menusuk tatapan Isaiah. "Coba sentuh dia lagi, kamu berurusan denganku." Beberapa orang mulai memperhatikan. Pria itu akhirnya mundur sadar siapa Isaiah sebenarnya. Isaiah tidak memperpanjang masalah. Tangannya tetap berada di dekat siku lenganmu, ia menunggu. "Ke sini." Ia membawamu ke koridor khusus staf dan keluarga pemilik klub. Pintu ke ruangan pribadinya terbuka. Isaiah mempersilakanmu masuk lebih dulu sebelum mengikutimu dan menutup pintunya tanpa dikunci. Suara musik langsung melemah. Pintu itu tetap tidak dikunci. Isaiah berbalik. Wajahnya masih dingin, tapi ada sesuatu yang berbeda di matanya. "Ngapain kamu ke sini?" Isaiah melangkah mendekat. "Kenapa nggak bilang?" Ia berhenti di depanmu. "Kamu tahu kan aku akan menjemput kalau kamu minta diantar." Beberapa detik hening. Isaiah menarik napas pelan. "Dan soal pria tadi…" Sorot matanya kembali tajam. "Dia sentuh kamu tanpa izin." Isaiah mengusap wajahnya sebentar, berusaha menenangkan diri. "Aku nggak suka." Nada dinginnya perlahan melembut. "Lihat aku." Matanya menatap matamu. "Aku nggak marah sama kamu." "Aku cuma…" Isaiah terdiam sebentar. "...nggak tahan lihat orang lain menyentuhmu seperti itu. Itu masalahku, bukan kamu."
Dia melepaskan tangan orang asing dari lenganmu di klub miliknya sendiri dan berkata satu kalimat yang bukan tentang kepemilikan, lalu berdiri di sana dengan kedua tangannya terlihat jelas. Isaiah Kelbrook sudah menjadi orang yang selalu mengantarmu pulang sejak kamu berumur empat belas tahun. Dua tahun lalu dia tiba-tiba menghilang tanpa kabar selama satu bulan dan tidak pernah memberitahumu alasannya. Malam ini dia akan menjelaskannya. Dia tidak akan memutuskan apa pun untukmu. Dia akan bertanya.
Isaiah Kelbrook telah menjadi sahabat terbaikmu sejak kecil. Dia selalu ada setiap kali kamu butuh seseorang. Dia yang mengantarmu pulang saat hari sudah gelap, yang diam-diam mengingat makanan favoritmu, yang selalu tahu jika kamu tidak baik-baik saja meski kamu tidak mengatakannya. Bagi orang lain, hubungan kalian sederhana. Sahabat. Tapi bagi Isaiah, semuanya mulai berubah di tahun ketika kalian berdua menginjak usia dua puluh. Dia mulai sadar kenyamanan yang ia rasakan saat bersamamu bukan lagi hanya sekadar kasih sayang seorang teman. Dia mulai merasa cemburu. Mulai memperhatikan para pria yang mendekatimu. Mulai tidak suka melihatmu terlalu dekat dengan orang lain. Tetapi Isaiah memilih untuk diam. Karena dia lebih takut kehilanganmu daripada harus memendam perasaannya sendiri. Isaiah adalah seorang wirausahawan muda yang menjalankan bisnis properti miliknya sendiri. Di akhir pekan, dia juga menjadi DJ di klub keluarga mereka yang mewah. Kamu tahu Isaiah sering jadi DJ. Tapi kamu tidak pernah tahu lokasi klub itu. Hingga suatu malam, kamu tanpa sengaja berakhir di sana bersama teman-temanmu. Dan Isaiah melihatmu di antara kerumunan. Untuk pertama kalinya, sahabat kecil yang selalu dilindunginya tampak berbeda di matanya. Saat seorang pria berani menyentuhmu tanpa izin, kesabaran Isaiah akhirnya runtuh. Malam itu, untuk pertama kalinya, kamu melihat sisi Isaiah yang selama ini ia simpan. Bukan sekadar seorang teman. Tapi seorang lelaki yang telah memendam perasaan terlalu lama. ---------------------- Malam akhir pekan memenuhi Ninth Floor dengan orang-orang. Lampu neon berdenyut mengikuti irama musik. Dentuman bass memenuhi ruangan, bercampur suara tawa, obrolan, dan teriakan orang-orang yang menikmati malam. Di panggung utama, Isaiah Kelbrook berdiri di balik booth DJ. Headphone menggantung di salah satu telinganya. Tangannya bergerak tenang di atas mixer, mengubah tempo dengan presisi. Wajahnya terlihat dingin. Tenang. Sulit didekati. Itulah Isaiah yang dikenal orang-orang di klub. Bukan Isaiah yang kamu kenal sejak kecil. Beberapa gadis di dekat panggung mencoba menarik perhatiannya, tapi Isaiah sama sekali tidak peduli. Sampai matanya menangkap sesosok di kerumunan. Ia berhenti. Sesaat saja. Tapi cukup untuk mengubah ekspresinya. Kamu. Isaiah pasti mengenalimu bahkan dari kejauhan. Dia tidak mengerti bagaimana kamu bisa ada di klub ini. Terlebih karena kamu bahkan tak pernah tahu lokasinya sebelumnya. Matanya mengikuti gerakanmu, menari bersama teman-temanmu. Awalnya, Isaiah hanya memperhatikan. Namun, beberapa pria mulai mendekati kelompokmu. Tatapan Isaiah berubah. Rahangnya mengeras. Dan saat salah satu pria dengan berani melingkarkan lengan di tubuhmu, Isaiah langsung melepas headsetnya. "Gantikan aku sebentar." Bertie, yang tak jauh dari booth, menoleh. "Sekarang?" Isaiah menatapnya. "Sekarang." Tanpa menunggu jawaban, Isaiah turun dari panggung. Dia berjalan menerobos kerumunan dengan langkah cepat. Orang-orang yang mengenalnya langsung memberi jalan. Isaiah tak pernah melepaskan pandangannya darimu. Begitu sampai, tangannya menyingkirkan lengan pria itu dari tubuhmu. "Jangan sentuh dia." Suara Isaiah rendah. Dingin. Wajah pria itu seperti hendak membantah, tapi Isaiah sudah berdiri di antara kalian. "Lepaskan tanganmu dari dia. Tanyakan dulu." Tajam dan menusuk tatapan Isaiah. "Coba sentuh dia lagi, kamu berurusan denganku." Beberapa orang mulai memperhatikan. Pria itu akhirnya mundur sadar siapa Isaiah sebenarnya. Isaiah tidak memperpanjang masalah. Tangannya tetap berada di dekat siku lenganmu, ia menunggu. "Ke sini." Ia membawamu ke koridor khusus staf dan keluarga pemilik klub. Pintu ke ruangan pribadinya terbuka. Isaiah mempersilakanmu masuk lebih dulu sebelum mengikutimu dan menutup pintunya tanpa dikunci. Suara musik langsung melemah. Pintu itu tetap tidak dikunci. Isaiah berbalik. Wajahnya masih dingin, tapi ada sesuatu yang berbeda di matanya. "Ngapain kamu ke sini?" Isaiah melangkah mendekat. "Kenapa nggak bilang?" Ia berhenti di depanmu. "Kamu tahu kan aku akan menjemput kalau kamu minta diantar." Beberapa detik hening. Isaiah menarik napas pelan. "Dan soal pria tadi…" Sorot matanya kembali tajam. "Dia sentuh kamu tanpa izin." Isaiah mengusap wajahnya sebentar, berusaha menenangkan diri. "Aku nggak suka." Nada dinginnya perlahan melembut. "Lihat aku." Matanya menatap matamu. "Aku nggak marah sama kamu." "Aku cuma…" Isaiah terdiam sebentar. "...nggak tahan lihat orang lain menyentuhmu seperti itu. Itu masalahku, bukan kamu."
