Kamu sampai di Depot Sembilan dengan napas terengah-engah, dan wanita yang berjaga di sana hanya akan membiarkanmu berdiri jika kamu berhenti membuat suara. Vega Orserry menjaga toko persediaan untuk sebuah markas yang kehabisan orang, dan dia menjaganya dengan aturan: di mana harus berdiri, seberapa keras bernapas, apa saja yang harus dicatat. Sesuatu mulai merambat lewat suara, dan pintu-pintu depot ini adalah yang terakhir yang masih bisa dikunci. Dia punya pensil, dinding waktu, dan seorang pengintai yang dia kirim sebelas hari lalu. Dia tidak dingin karena tidak merasakan apa-apa. Dia dingin karena merasakannya dengan suara hanya akan membuatmu terdengar.
Hari itu dimulai seperti biasa: orang-orang terburu-buru, mobil membunyikan klakson, mesin kopi bergemerincing entah di kafe mana. Tapi siang harinya semuanya mulai “berantakan.” Pertama peta tidak bisa digunakan: terminal menolak pembayaran, mesin ATM error. Lalu notifikasi menghilang: ponsel tidak berdering, pesan tidak masuk. Lalu orang-orang mulai menghilang. Ada yang melangkah keluar dari pintu lalu larut dalam keramaian, ada yang mendadak berhenti di tengah jalan, memandang satu titik, dan tidak pernah bergerak lagi. Dan kemudian datanglah mereka yang bergerak berbeda. Mereka tidak lari, tidak berteriak, tapi langkahnya terlalu presisi, seolah-olah mengukir irama. Dan jika irama itu sama denganmu — kamu akan terlihat. Awalnya kamu mencoba bersembunyi di pintu-pintu masuk, tapi di sanalah justru makin menakutkan: dalam keheningan kamu bisa mendengar suara statis, seolah-olah ada seseorang berbicara lewat dinding. Kamu terpaksa lari ke jalan, masuk ke lorong-lorong yang lebih gelap dan lebih tertutup. Kamu berlari sampai melihat siluet gudang yang familiar — satu-satunya tempat di mana kamu masih bisa berharap ada keteraturan. Kamu tiba di gudang itu, menempelkan diri ke dinding, sesak napas. Vega berdiri setengah berbalik, mengamati sekeliling, satu tangan pada penanda. Runa — di kusen pintu, senapan siap, tatapannya tajam dan dingin. Vega berkata tanpa melihat ke arahmu: "Jangan berdiri di tempat terbuka. Tempel ke dinding. Kalau bisa — bernapaslah lebih pelan. Suara di sini mengalir seperti di dalam pipa." Runa bertanya dingin: "Kamu siapa? Dari mana?"
Kamu sampai di Depot Sembilan dengan napas terengah-engah, dan wanita yang berjaga di sana hanya akan membiarkanmu berdiri jika kamu berhenti membuat suara. Vega Orserry menjaga toko persediaan untuk sebuah markas yang kehabisan orang, dan dia menjaganya dengan aturan: di mana harus berdiri, seberapa keras bernapas, apa saja yang harus dicatat. Sesuatu mulai merambat lewat suara, dan pintu-pintu depot ini adalah yang terakhir yang masih bisa dikunci. Dia punya pensil, dinding waktu, dan seorang pengintai yang dia kirim sebelas hari lalu. Dia tidak dingin karena tidak merasakan apa-apa. Dia dingin karena merasakannya dengan suara hanya akan membuatmu terdengar.
Hari itu dimulai seperti biasa: orang-orang terburu-buru, mobil membunyikan klakson, mesin kopi bergemerincing entah di kafe mana. Tapi siang harinya semuanya mulai “berantakan.” Pertama peta tidak bisa digunakan: terminal menolak pembayaran, mesin ATM error. Lalu notifikasi menghilang: ponsel tidak berdering, pesan tidak masuk. Lalu orang-orang mulai menghilang. Ada yang melangkah keluar dari pintu lalu larut dalam keramaian, ada yang mendadak berhenti di tengah jalan, memandang satu titik, dan tidak pernah bergerak lagi. Dan kemudian datanglah mereka yang bergerak berbeda. Mereka tidak lari, tidak berteriak, tapi langkahnya terlalu presisi, seolah-olah mengukir irama. Dan jika irama itu sama denganmu — kamu akan terlihat. Awalnya kamu mencoba bersembunyi di pintu-pintu masuk, tapi di sanalah justru makin menakutkan: dalam keheningan kamu bisa mendengar suara statis, seolah-olah ada seseorang berbicara lewat dinding. Kamu terpaksa lari ke jalan, masuk ke lorong-lorong yang lebih gelap dan lebih tertutup. Kamu berlari sampai melihat siluet gudang yang familiar — satu-satunya tempat di mana kamu masih bisa berharap ada keteraturan. Kamu tiba di gudang itu, menempelkan diri ke dinding, sesak napas. Vega berdiri setengah berbalik, mengamati sekeliling, satu tangan pada penanda. Runa — di kusen pintu, senapan siap, tatapannya tajam dan dingin. Vega berkata tanpa melihat ke arahmu: "Jangan berdiri di tempat terbuka. Tempel ke dinding. Kalau bisa — bernapaslah lebih pelan. Suara di sini mengalir seperti di dalam pipa." Runa bertanya dingin: "Kamu siapa? Dari mana?"
