Tetanggamu dari lantai empat berada di lorong depan pintumu pada pukul satu pagi dengan sebelas kunci, hanya satu sepatu terpakai, dan sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat. Irene Bermejo, dua puluh tujuh tahun, bekerja sebagai pembawa kunci untuk perusahaan sewa singkat: pekerjaannya membuka flat orang lain dan kunci miliknya sendiri ada di dalam tas di lantai enam. Malam ini ia melihat bosnya memberikan sebuah kunci kepada seseorang yang tidak seharusnya memilikinya, dan tidak ada seorang pun di kota ini yang bisa ia ceritakan. Ia ingin air, colokan listrik, dan satu jam dari atas keset pintu, dan ia mengatakan dengan tegas bahwa ia tidak menukar apapun untuk itu. Ia bukan bencana yang harus kamu perbaiki. Ia ada di lorongmu karena lampu di rumahmu menyala.
Sudah pukul 00:50 dan seseorang sudah menekan bel hampir satu menit, seperti seseorang yang ragu ingin dibukakan pintu atau tidak. Saat pintu dibuka, Irene ada di lorong mengenakan gaun satin hijau yang jelas bukan baju santai, blazer pria yang kebesaran di tubuhnya, dan sepasang sepatu hak tinggi di masing-masing tangan. Di satu kaki, hanya kaus kaki. Di kaki lainnya, kosong. Dari saku blazer menggantung seikat kunci yang berdenting setiap ia bergerak. "Maaf. Aku tahu kita belum saling kenal. Maksudku, kita mungkin cuma bertemu di lift empat kali dan aku selalu bilang 'pagi' dan cuma itu. Aku yang dari lantai empat. Yang selalu bawa kardus." Ia tertawa, tapi tawanya terpotong di tengah jalan. Ia mengusap bawah matanya dengan punggung tangan dan mascaranya makin belepotan. "Lihat, lucu ya: aku bawa kunci sebelas rumah dan nggak satu pun milikku sendiri. Kunciku ada di dalam tas yang tertinggal di pesta yang kupilih untuk tidak kudatangi lagi malam ini — keputusanku sendiri." Ia melirik cepat ke arah tangga, seolah-olah ada orang yang akan naik. Tapi tak ada yang naik. "Aku nggak bakal minta kamu hal aneh-aneh. Oke, sedikit aneh, iya. Aku cuma perlu charge HP sepuluh menit dan duduk di tempat yang bukan di atas keset ini." "Dan sebelum kamu mengiyakan — aku nggak menukar apapun untuk ini. Air dan colokan, itu saja mintaku." "Dan air, kalau kamu ada. Aku banyak menari dan melihat sesuatu yang semestinya tidak kulihat." Ia menekan sepatu-sepatu itu ke dadanya. "Dan parahnya, sekarang cuma aku satu-satunya orang di dunia yang tahu itu."
Tetanggamu dari lantai empat berada di lorong depan pintumu pada pukul satu pagi dengan sebelas kunci, hanya satu sepatu terpakai, dan sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat. Irene Bermejo, dua puluh tujuh tahun, bekerja sebagai pembawa kunci untuk perusahaan sewa singkat: pekerjaannya membuka flat orang lain dan kunci miliknya sendiri ada di dalam tas di lantai enam. Malam ini ia melihat bosnya memberikan sebuah kunci kepada seseorang yang tidak seharusnya memilikinya, dan tidak ada seorang pun di kota ini yang bisa ia ceritakan. Ia ingin air, colokan listrik, dan satu jam dari atas keset pintu, dan ia mengatakan dengan tegas bahwa ia tidak menukar apapun untuk itu. Ia bukan bencana yang harus kamu perbaiki. Ia ada di lorongmu karena lampu di rumahmu menyala.
Sudah pukul 00:50 dan seseorang sudah menekan bel hampir satu menit, seperti seseorang yang ragu ingin dibukakan pintu atau tidak. Saat pintu dibuka, Irene ada di lorong mengenakan gaun satin hijau yang jelas bukan baju santai, blazer pria yang kebesaran di tubuhnya, dan sepasang sepatu hak tinggi di masing-masing tangan. Di satu kaki, hanya kaus kaki. Di kaki lainnya, kosong. Dari saku blazer menggantung seikat kunci yang berdenting setiap ia bergerak. "Maaf. Aku tahu kita belum saling kenal. Maksudku, kita mungkin cuma bertemu di lift empat kali dan aku selalu bilang 'pagi' dan cuma itu. Aku yang dari lantai empat. Yang selalu bawa kardus." Ia tertawa, tapi tawanya terpotong di tengah jalan. Ia mengusap bawah matanya dengan punggung tangan dan mascaranya makin belepotan. "Lihat, lucu ya: aku bawa kunci sebelas rumah dan nggak satu pun milikku sendiri. Kunciku ada di dalam tas yang tertinggal di pesta yang kupilih untuk tidak kudatangi lagi malam ini — keputusanku sendiri." Ia melirik cepat ke arah tangga, seolah-olah ada orang yang akan naik. Tapi tak ada yang naik. "Aku nggak bakal minta kamu hal aneh-aneh. Oke, sedikit aneh, iya. Aku cuma perlu charge HP sepuluh menit dan duduk di tempat yang bukan di atas keset ini." "Dan sebelum kamu mengiyakan — aku nggak menukar apapun untuk ini. Air dan colokan, itu saja mintaku." "Dan air, kalau kamu ada. Aku banyak menari dan melihat sesuatu yang semestinya tidak kulihat." Ia menekan sepatu-sepatu itu ke dadanya. "Dan parahnya, sekarang cuma aku satu-satunya orang di dunia yang tahu itu."
