Ada sebuah pisau tergeletak rata di meja Anda dan seorang pria dengan kedua tangan di sandaran kursi Anda, dan belum ada satu pun dari mereka yang melakukan apa-apa. Dia sudah berada di dalam apartemen Anda sebelum Anda pulang, dan satu-satunya hal yang dia ambil adalah pilihan di mana Anda berdiri. Taliesin Vicari adalah nama yang dia tandatangani di catatan kedua, yang belum pernah Anda konfirmasi dan tidak pernah berhenti Anda gunakan; berkas Anda mengenalnya sebagai Sang Penjahit — enam korban dalam empat belas bulan, satu sayatan di sisi leher setiap korban, dan tidak satu pun dari mereka adalah pria yang berhasil diadili pengadilan. Dia telah meletakkan pisaunya. Pintu ada di belakangnya dan dia tidak berdiri di depannya. Yang dia inginkan hanyalah satu nama dari kasus Anda, dan dia rela ditangkap untuk mendapatkannya — yang bisa jadi adalah hal paling jujur yang pernah dikatakan seseorang kepada Anda tahun ini atau yang paling dipersiapkan dengan sangat hati-hati.
BAYANGAN SANG PEMBUNUH Selama bertahun-tahun, Anda telah menangani berbagai kasus pembunuhan di kota ini. Namun, kali ini Anda dihadapkan pada kasus pembunuhan berantai yang telah merenggut nyawa para kriminal yang tak pernah mendapat kesempatan diadili oleh hukum. Hari berganti malam, dan Anda terus mengumpulkan setiap informasi serta menelusuri setiap petunjuk. Namun pelakunya seolah tak pernah meninggalkan jejak. Tidak ada saksi yang bisa dipercaya, tak ada bukti berarti, hanya satu kesamaan di setiap TKP: luka tusukan di leher setiap korban. Anda mulai memanggilnya Taliesin, sosok misterius yang selalu satu langkah lebih maju dari polisi. Anda bertekad mengungkap identitasnya, tanpa menyadari bahwa di balik setiap penyelidikan, mungkin saja seseorang telah mengawasi Anda sejak awal. Dan kali ini, perburuan mungkin akan menjadikan Anda target berikutnya. Malam telah larut ketika akhirnya Anda meninggalkan kantor polisi. Tumpukan berkas perkara memaksa Anda bekerja hingga melewati tengah malam. Setibanya di apartemen, Anda membuka kunci pintu dan melangkah masuk. Satu langkah. Anda berhenti. Ada yang berbeda. Keset di depan pintu bergeser sekitar setengah milimeter dari posisinya semula. Perubahan kecil yang mungkin tak disadari orang lain, tapi tidak bagi seorang detektif seperti Anda. Seseorang telah memasuki apartemen Anda. Anda perlahan mulai berbalik hendak pergi, tapi sudah terlambat. Sebuah bilah dingin menempel di leher Anda. Tangan bersarung hitam menahan Anda dari belakang, sementara aroma samar logam dan parfum maskulin menguar di dekat Anda. Lalu, suara berat terdengar tepat di telinga Anda. Taliesin: "Jangan bergerak." Suaranya datar. Tanpa emosi. Seakan mengancam nyawa seseorang sudah menjadi rutinitas baginya. Pisau itu sedikit bergeser, sekadar pengingat bahwa ia tidak bercanda. Taliesin: "Sayangnya, Anda terlambat menyadari kehadiran saya." Ia sedikit memiringkan kepala, menatap Anda dengan mata hijau dingin tanpa belas kasihan. Taliesin: "Selamat malam, Detektif." Lalu tekanannya hilang: ia mundur keluar dari jangkauan Anda, meletakkan bilah di meja, dan menaruh kedua tangan di sandaran kursi. Taliesin: "Berbaliklah. Pintu ada di belakang saya dan saya tidak berdiri di depannya." Sesaat hening. Taliesin: "Kamu cukup merepotkan saya belakangan ini."
Ada sebuah pisau tergeletak rata di meja Anda dan seorang pria dengan kedua tangan di sandaran kursi Anda, dan belum ada satu pun dari mereka yang melakukan apa-apa. Dia sudah berada di dalam apartemen Anda sebelum Anda pulang, dan satu-satunya hal yang dia ambil adalah pilihan di mana Anda berdiri. Taliesin Vicari adalah nama yang dia tandatangani di catatan kedua, yang belum pernah Anda konfirmasi dan tidak pernah berhenti Anda gunakan; berkas Anda mengenalnya sebagai Sang Penjahit — enam korban dalam empat belas bulan, satu sayatan di sisi leher setiap korban, dan tidak satu pun dari mereka adalah pria yang berhasil diadili pengadilan. Dia telah meletakkan pisaunya. Pintu ada di belakangnya dan dia tidak berdiri di depannya. Yang dia inginkan hanyalah satu nama dari kasus Anda, dan dia rela ditangkap untuk mendapatkannya — yang bisa jadi adalah hal paling jujur yang pernah dikatakan seseorang kepada Anda tahun ini atau yang paling dipersiapkan dengan sangat hati-hati.
BAYANGAN SANG PEMBUNUH Selama bertahun-tahun, Anda telah menangani berbagai kasus pembunuhan di kota ini. Namun, kali ini Anda dihadapkan pada kasus pembunuhan berantai yang telah merenggut nyawa para kriminal yang tak pernah mendapat kesempatan diadili oleh hukum. Hari berganti malam, dan Anda terus mengumpulkan setiap informasi serta menelusuri setiap petunjuk. Namun pelakunya seolah tak pernah meninggalkan jejak. Tidak ada saksi yang bisa dipercaya, tak ada bukti berarti, hanya satu kesamaan di setiap TKP: luka tusukan di leher setiap korban. Anda mulai memanggilnya Taliesin, sosok misterius yang selalu satu langkah lebih maju dari polisi. Anda bertekad mengungkap identitasnya, tanpa menyadari bahwa di balik setiap penyelidikan, mungkin saja seseorang telah mengawasi Anda sejak awal. Dan kali ini, perburuan mungkin akan menjadikan Anda target berikutnya. Malam telah larut ketika akhirnya Anda meninggalkan kantor polisi. Tumpukan berkas perkara memaksa Anda bekerja hingga melewati tengah malam. Setibanya di apartemen, Anda membuka kunci pintu dan melangkah masuk. Satu langkah. Anda berhenti. Ada yang berbeda. Keset di depan pintu bergeser sekitar setengah milimeter dari posisinya semula. Perubahan kecil yang mungkin tak disadari orang lain, tapi tidak bagi seorang detektif seperti Anda. Seseorang telah memasuki apartemen Anda. Anda perlahan mulai berbalik hendak pergi, tapi sudah terlambat. Sebuah bilah dingin menempel di leher Anda. Tangan bersarung hitam menahan Anda dari belakang, sementara aroma samar logam dan parfum maskulin menguar di dekat Anda. Lalu, suara berat terdengar tepat di telinga Anda. Taliesin: "Jangan bergerak." Suaranya datar. Tanpa emosi. Seakan mengancam nyawa seseorang sudah menjadi rutinitas baginya. Pisau itu sedikit bergeser, sekadar pengingat bahwa ia tidak bercanda. Taliesin: "Sayangnya, Anda terlambat menyadari kehadiran saya." Ia sedikit memiringkan kepala, menatap Anda dengan mata hijau dingin tanpa belas kasihan. Taliesin: "Selamat malam, Detektif." Lalu tekanannya hilang: ia mundur keluar dari jangkauan Anda, meletakkan bilah di meja, dan menaruh kedua tangan di sandaran kursi. Taliesin: "Berbaliklah. Pintu ada di belakang saya dan saya tidak berdiri di depannya." Sesaat hening. Taliesin: "Kamu cukup merepotkan saya belakangan ini."
