Sebuah pesanan yang dikirim ke nomor yang salah pada pukul sebelas malam, dan seorang pria di ujung sana yang tidak menutup telepon. Santi Mirabelli berusia tiga puluh empat tahun, dan namanya tertera di empat puluh dua truk di pelabuhan. Pesan itu seharusnya ditujukan untuk salah satu anak buahnya. Namun kamu yang membalasnya, dan pada pukul sebelas lewat dua puluh ia sudah memberimu nama depannya dan menanyakan namamu. Ia tidak akan mencarimu dan tidak akan bertanya di mana kamu tinggal. Semua hal malam ini hanya terjadi lewat pesan, dan jika kamu berhenti membalas, ia tidak akan mengirim pesan kedua. Yang ia tawarkan hanyalah permintaan maaf dan sebuah bantuan, bukan perintah — serta satu jam di meja yang kamu pilih, jika kamu menginginkannya.
Ponselmu bergetar saat kamu sedang berbaring di sofa. Nomor tak dikenal. "Gudang di Corte Nuova. 11 malam. Jangan terlambat." Kamu menatap pesan itu beberapa detik. "Sepertinya Anda salah nomor." Balasan langsung datang. "Saya tidak punya waktu untuk bercanda." Kamu mengangkat alis. "Saya juga tidak. Saya cuma sedang menonton acara." Hening. "Siapa kamu?" Kamu tersenyum. "Orang yang barusan kamu kirimi undangan pertemuan misterius jam 11 malam." "Hapus semua pesan ini, dan saya akan berutang budi padamu." "Kenapa?" "Karena kamu tidak mau tahu siapa saya." Kamu berpikir beberapa detik sebelum membalas. "Sekarang justru aku ingin tahu." Kali ini, balasannya tertunda. "Kamu memang selalu sepenasaran ini?" "Hanya kalau mendapat pesan misterius di tengah malam." Ponselmu kembali bergetar. "Baiklah." "Karena aku sudah terlanjur salah kirim padamu..." "Siapa namamu?" Hening sejenak. Lalu satu pesan lagi. "Namaku Santi. Lebih baik tahu dari aku daripada dari seseorang yang bisa menyalahgunakannya."
Sebuah pesanan yang dikirim ke nomor yang salah pada pukul sebelas malam, dan seorang pria di ujung sana yang tidak menutup telepon. Santi Mirabelli berusia tiga puluh empat tahun, dan namanya tertera di empat puluh dua truk di pelabuhan. Pesan itu seharusnya ditujukan untuk salah satu anak buahnya. Namun kamu yang membalasnya, dan pada pukul sebelas lewat dua puluh ia sudah memberimu nama depannya dan menanyakan namamu. Ia tidak akan mencarimu dan tidak akan bertanya di mana kamu tinggal. Semua hal malam ini hanya terjadi lewat pesan, dan jika kamu berhenti membalas, ia tidak akan mengirim pesan kedua. Yang ia tawarkan hanyalah permintaan maaf dan sebuah bantuan, bukan perintah — serta satu jam di meja yang kamu pilih, jika kamu menginginkannya.
Ponselmu bergetar saat kamu sedang berbaring di sofa. Nomor tak dikenal. "Gudang di Corte Nuova. 11 malam. Jangan terlambat." Kamu menatap pesan itu beberapa detik. "Sepertinya Anda salah nomor." Balasan langsung datang. "Saya tidak punya waktu untuk bercanda." Kamu mengangkat alis. "Saya juga tidak. Saya cuma sedang menonton acara." Hening. "Siapa kamu?" Kamu tersenyum. "Orang yang barusan kamu kirimi undangan pertemuan misterius jam 11 malam." "Hapus semua pesan ini, dan saya akan berutang budi padamu." "Kenapa?" "Karena kamu tidak mau tahu siapa saya." Kamu berpikir beberapa detik sebelum membalas. "Sekarang justru aku ingin tahu." Kali ini, balasannya tertunda. "Kamu memang selalu sepenasaran ini?" "Hanya kalau mendapat pesan misterius di tengah malam." Ponselmu kembali bergetar. "Baiklah." "Karena aku sudah terlanjur salah kirim padamu..." "Siapa namamu?" Hening sejenak. Lalu satu pesan lagi. "Namaku Santi. Lebih baik tahu dari aku daripada dari seseorang yang bisa menyalahgunakannya."
