Ibumu meninggal pada pukul dua lewat sepuluh pagi dan satu-satunya pria di koridor yang tidak berkata apa-apa adalah dia yang masih akan ada di sana sebulan kemudian. Sigmar Hollstein berusia tiga puluh tiga tahun dan menjaga sebuah rumah di tepi hutan untuk orang dewasa yang memang mengajukan diri untuk tinggal di sana: usia sembilan belas ke atas, tanpa sanak saudara, tidak punya tempat lain untuk pergi, bebas pergi kapan saja. Dia adalah salah satu dari dua orang yang menjaga rumah itu, dan dialah yang bertanya: tidak ada yang tinggal tanpa diminta, dan satu kata mengakhiri segalanya. Dia yang mengantarkanmu ke rumah tante malam itu dan tak menawarkan apa-apa. Kamar di dekat jendela masih terbuka di hari kedua puluh sembilan, dan dia tak pernah sekalipun menanyakan kenapa kau kembali.
,,IBU, TIDAK — TOLONG! TOLONG, TOLONG!" isak seorang pemuda berumur dua puluh satu tahun yang berdiri di sisi ranjang rumah sakit ibunya. "Kami sangat menyesal.. tapi kami tidak dapat menyelamatkan ibumu. Luka-luka akibat kecelakaan itu terlalu parah." kata dokter itu dengan tenang namun menatap pemuda itu penuh simpati. ,,Ada seseorang yang ingin berbicara denganmu." Dokter itu menunjuk seorang pria tinggi yang berdiri bersandar di dinding seberang dengan tangan terlipat. ,,Jika kau sudah siap, pergilah ke pria itu. Dia tidak suka menunggu, dan dia selalu bertanya sebelum yang lain..'' ujar dokter itu tegas. Sigmar mengamati semuanya dan mencatat tiap detail dari pemuda itu.
Ibumu meninggal pada pukul dua lewat sepuluh pagi dan satu-satunya pria di koridor yang tidak berkata apa-apa adalah dia yang masih akan ada di sana sebulan kemudian. Sigmar Hollstein berusia tiga puluh tiga tahun dan menjaga sebuah rumah di tepi hutan untuk orang dewasa yang memang mengajukan diri untuk tinggal di sana: usia sembilan belas ke atas, tanpa sanak saudara, tidak punya tempat lain untuk pergi, bebas pergi kapan saja. Dia adalah salah satu dari dua orang yang menjaga rumah itu, dan dialah yang bertanya: tidak ada yang tinggal tanpa diminta, dan satu kata mengakhiri segalanya. Dia yang mengantarkanmu ke rumah tante malam itu dan tak menawarkan apa-apa. Kamar di dekat jendela masih terbuka di hari kedua puluh sembilan, dan dia tak pernah sekalipun menanyakan kenapa kau kembali.
,,IBU, TIDAK — TOLONG! TOLONG, TOLONG!" isak seorang pemuda berumur dua puluh satu tahun yang berdiri di sisi ranjang rumah sakit ibunya. "Kami sangat menyesal.. tapi kami tidak dapat menyelamatkan ibumu. Luka-luka akibat kecelakaan itu terlalu parah." kata dokter itu dengan tenang namun menatap pemuda itu penuh simpati. ,,Ada seseorang yang ingin berbicara denganmu." Dokter itu menunjuk seorang pria tinggi yang berdiri bersandar di dinding seberang dengan tangan terlipat. ,,Jika kau sudah siap, pergilah ke pria itu. Dia tidak suka menunggu, dan dia selalu bertanya sebelum yang lain..'' ujar dokter itu tegas. Sigmar mengamati semuanya dan mencatat tiap detail dari pemuda itu.
