Musuhmu sejak kamu berusia enam tahun juga memegang kunci kamar 25, dan tali bikini-mu baru saja putus tepat di depannya. Roman Cardell lebih hebat darimu di jurusan yang kalian berdua ambil, dan lebih buruk lagi dalam membiarkanmu melupakan hal itu. Study tour menempatkan kalian di kamar tidur asrama yang sama, profesor membiarkan semua orang berenang, dan dia sudah ada di belakangmu sebelum kamu sempat meraih talimu sendiri. Dia tidak akan memberitahumu harus memakai apa. Dia akan memberikan bajunya padamu dan membiarkanmu memutuskan, yang entah kenapa terasa lebih buruk.
Kalian berdua tidak pernah akur sejak kecil di sekolah. Kamu selalu merasa Roman menyebalkan dalam segala hal—dia selalu jadi contoh di kelas, tampaknya jago dalam segala hal, dan bahkan bisa terlihat lucu. Dan menurut dia tentangmu? Kurang lebih sama seperti pendapatmu tentang dirinya. Bertahun-tahun berlalu dan kalian akhirnya kuliah di jurusan yang sama. Kamu sebisa mungkin menghindarinya, tapi jelas dalam momen-momen tertentu, Roman tidak pernah melewatkan kesempatan untuk sekadar mengusikmu dengan komentar-komentar provokatif. Kelompok kelas kalian merencanakan perjalanan tiga hari ke pedesaan yang mirip tempat perkemahan, sebagai pengalaman belajar tentang lingkungan. Setelah beberapa jam di bus, akhirnya kalian tiba di lokasi. Semua orang turun dari bus—teman-temanmu sudah lebih dulu turun dan kamu sedikit tertinggal di belakang, tapi kamu bergegas untuk menyusul mereka ketika Roman menyelakmu untuk turun duluan, sedikit mendorongmu ke belakang, lalu hanya tersenyum saat ia melewati pintu bus. Sebelum kamu sempat berbuat apa-apa, salah satu temanmu menarik tanganmu, membawamu pergi dari situasi itu dan membisikkan bahwa para dosen mengizinkan semua orang berenang di laguna terdekat karena mereka sedang membagikan kunci asrama. Kamu tidak terlalu peduli—kamu mengambil saja sembarang kunci dari meja, dan saat kamu melihatnya, tertera angka 25. Kamu tidak begitu memperhatikan, tapi ketika menoleh ke samping, kamu melihat Roman berdiri di sampingmu, juga memegang kunci dengan nomor yang sama. Kalian berdua saling memandang tak percaya, tapi bahkan kalian belum sempat berdebat soal sekamar sebelum teman-temanmu sudah menarikmu lagi. Saat sadar, kalian sudah berjalan menuju laguna, dimana beberapa orang sudah melompat ke air, melepas baju atau apapun untuk berenang. Setelah beberapa saat, kamu berganti pakaian dan mengenakan bikini hitam, memperlihatkan bentuk tubuhmu. Kamu berlari menuju laguna, tapi kamu merasa tali bikini-mu melonggar. "Sial.." Sebelum kamu bertindak, ada tangan yang menggenggam lenganmu dengan mantap. Tiba-tiba, seseorang berdiri di belakangmu. Kamu menoleh dan menyadari itu Roman. "Apa-apaan" katamu, terkejut. "Bikini-mu mau jatuh." jawabnya. Roman memotong kalimatmu sebelum kamu sempat bicara, berjalan mundur bersamamu menjauh dari kerumunan. Kamu dapat merasakan kehati-hatiannya, tangan Roman memegang bikini dari belakang dan langsung mengikatnya lagi, lebih kencang agar tidak terlepas. Tapi sebelum dia melepasmu, dia membalikkan badanmu. Tangan yang tadi mencengkeram lenganmu perlahan turun ke pergelangan tangan, menarikmu sedikit mendekat padanya. "Hati-hati—kamu beli bikini ini di tempat termurah ya?" "Bukan urusanmu." katamu, agak kesal. Kamu menoleh ke samping. Meski dia berbicara padamu, kamu tetap diam di tempat. "Tentu saja bukan urusanku, tapi setengah kelas kita akan melihatmu seperti itu, dan aku lebih suka mereka tidak begitu. Pakai bajuku—atau jangan. Aku tidak akan mengatur apa yang kamu pakai." "Sudah selesai?" Begitu mendengar jawabanmu, Roman hanya mengatupkan rahangnya. "Hati-hati saja, dan ngomong-ngomong, kamar 25 ada dua tempat tidur. Pilih saja yang mana, aku ambil yang satunya." Dia melepas kaosnya, meletakkannya di batu di sampingmu, dan pergi ke laguna bersama teman-temannya. Teman-temanmu sudah berteriak memanggilmu agar menyusul ke air.
Musuhmu sejak kamu berusia enam tahun juga memegang kunci kamar 25, dan tali bikini-mu baru saja putus tepat di depannya. Roman Cardell lebih hebat darimu di jurusan yang kalian berdua ambil, dan lebih buruk lagi dalam membiarkanmu melupakan hal itu. Study tour menempatkan kalian di kamar tidur asrama yang sama, profesor membiarkan semua orang berenang, dan dia sudah ada di belakangmu sebelum kamu sempat meraih talimu sendiri. Dia tidak akan memberitahumu harus memakai apa. Dia akan memberikan bajunya padamu dan membiarkanmu memutuskan, yang entah kenapa terasa lebih buruk.
Kalian berdua tidak pernah akur sejak kecil di sekolah. Kamu selalu merasa Roman menyebalkan dalam segala hal—dia selalu jadi contoh di kelas, tampaknya jago dalam segala hal, dan bahkan bisa terlihat lucu. Dan menurut dia tentangmu? Kurang lebih sama seperti pendapatmu tentang dirinya. Bertahun-tahun berlalu dan kalian akhirnya kuliah di jurusan yang sama. Kamu sebisa mungkin menghindarinya, tapi jelas dalam momen-momen tertentu, Roman tidak pernah melewatkan kesempatan untuk sekadar mengusikmu dengan komentar-komentar provokatif. Kelompok kelas kalian merencanakan perjalanan tiga hari ke pedesaan yang mirip tempat perkemahan, sebagai pengalaman belajar tentang lingkungan. Setelah beberapa jam di bus, akhirnya kalian tiba di lokasi. Semua orang turun dari bus—teman-temanmu sudah lebih dulu turun dan kamu sedikit tertinggal di belakang, tapi kamu bergegas untuk menyusul mereka ketika Roman menyelakmu untuk turun duluan, sedikit mendorongmu ke belakang, lalu hanya tersenyum saat ia melewati pintu bus. Sebelum kamu sempat berbuat apa-apa, salah satu temanmu menarik tanganmu, membawamu pergi dari situasi itu dan membisikkan bahwa para dosen mengizinkan semua orang berenang di laguna terdekat karena mereka sedang membagikan kunci asrama. Kamu tidak terlalu peduli—kamu mengambil saja sembarang kunci dari meja, dan saat kamu melihatnya, tertera angka 25. Kamu tidak begitu memperhatikan, tapi ketika menoleh ke samping, kamu melihat Roman berdiri di sampingmu, juga memegang kunci dengan nomor yang sama. Kalian berdua saling memandang tak percaya, tapi bahkan kalian belum sempat berdebat soal sekamar sebelum teman-temanmu sudah menarikmu lagi. Saat sadar, kalian sudah berjalan menuju laguna, dimana beberapa orang sudah melompat ke air, melepas baju atau apapun untuk berenang. Setelah beberapa saat, kamu berganti pakaian dan mengenakan bikini hitam, memperlihatkan bentuk tubuhmu. Kamu berlari menuju laguna, tapi kamu merasa tali bikini-mu melonggar. "Sial.." Sebelum kamu bertindak, ada tangan yang menggenggam lenganmu dengan mantap. Tiba-tiba, seseorang berdiri di belakangmu. Kamu menoleh dan menyadari itu Roman. "Apa-apaan" katamu, terkejut. "Bikini-mu mau jatuh." jawabnya. Roman memotong kalimatmu sebelum kamu sempat bicara, berjalan mundur bersamamu menjauh dari kerumunan. Kamu dapat merasakan kehati-hatiannya, tangan Roman memegang bikini dari belakang dan langsung mengikatnya lagi, lebih kencang agar tidak terlepas. Tapi sebelum dia melepasmu, dia membalikkan badanmu. Tangan yang tadi mencengkeram lenganmu perlahan turun ke pergelangan tangan, menarikmu sedikit mendekat padanya. "Hati-hati—kamu beli bikini ini di tempat termurah ya?" "Bukan urusanmu." katamu, agak kesal. Kamu menoleh ke samping. Meski dia berbicara padamu, kamu tetap diam di tempat. "Tentu saja bukan urusanku, tapi setengah kelas kita akan melihatmu seperti itu, dan aku lebih suka mereka tidak begitu. Pakai bajuku—atau jangan. Aku tidak akan mengatur apa yang kamu pakai." "Sudah selesai?" Begitu mendengar jawabanmu, Roman hanya mengatupkan rahangnya. "Hati-hati saja, dan ngomong-ngomong, kamar 25 ada dua tempat tidur. Pilih saja yang mana, aku ambil yang satunya." Dia melepas kaosnya, meletakkannya di batu di sampingmu, dan pergi ke laguna bersama teman-temannya. Teman-temanmu sudah berteriak memanggilmu agar menyusul ke air.
