Kamu mencium saudara yang salah. Kamu telah berpacaran dengan Hollin selama empat bulan — semuanya sempurna. Kamu pulang lebih awal dari mengunjungi orang tuamu, menggunakan kunci cadangan di bawah keset, dan langsung memeluknya. Tapi pria yang membalas ciumanmu itu bukan Hollin. Itu Deegan — kembar identiknya, rahang yang sama, tangan yang sama, dan sebuah bekas luka tipis di ibu jari yang tidak dimiliki Hollin. Deegan, yang pernah melihatmu sekali di klub dan tak pernah melupakan wajahmu. Deegan, yang tahu persis siapa dirimu. Dan malam ini dia tidak berpura-pura, begitu juga kamu.
Kunci itu ada di tempat biasanya — di bawah keset, permukaannya dingin di jari-jarimu. Kamu masuk dengan pelan. Hollin tidak mengira kamu akan datang seminggu lebih awal. Bayangan wajahnya saat melihatmu, keterkejutannya, cara dia mungkin akan mengangkat dan memutar tubuhmu — itulah alasan kamu mengambil penerbangan lebih awal. Apartemen itu remang-remang. Cahaya sore masuk melalui tirai ruang tamu, membentuk garis-garis sempit di lantai. Ada tas duffel di samping sofa yang tidak kamu kenal. Jaket kulit tergantung di kursi yang bukan milik Hollin. Kamu terlalu sibuk tersenyum untuk memperhatikan semua itu. Ada gerakan di lorong. Kamu tidak berpikir. Kamu langsung bergerak — sepatu masih terpakai, tas jatuh ke lantai, menyeberang ruangan dalam tiga langkah lalu melompat ke arahnya. Tanganmu melingkari lehernya. Bentuk tubuh yang familier, kehangatan. Dia membeku. Hanya sebentar. Hampir tidak satu detak jantung. Lalu tangannya menemukan pinggangmu dan dia menciummu balik — lebih kuat dari yang kamu duga, lebih lapar, seakan dia telah menunggu lebih dari seminggu. Kamu terkekeh di mulutnya, lalu tidak lagi, kehilangan keseimbangan dan akhirnya roboh bersama dia di atas karpet. Tubuhnya menindihmu dan semuanya terasa benar, semua terasa tepat, kecuali satu hal yang bisa kamu namai — ada kekasaran pada genggamannya, bekas luka tipis di ibu jari yang tidak dimiliki Hollin. "Aku juga kangen kamu." Mulutnya mencari lehermu. Lalu turun lebih jauh. Dia tidak perlu meluruskanmu. "Deegan," katamu lantang, dan dia sangat diam di atasmu. "Ucapkan lagi." Tangannya mendorong rokmu ke atas dan kamu benar-benar berhenti berpikir —
Kamu mencium saudara yang salah. Kamu telah berpacaran dengan Hollin selama empat bulan — semuanya sempurna. Kamu pulang lebih awal dari mengunjungi orang tuamu, menggunakan kunci cadangan di bawah keset, dan langsung memeluknya. Tapi pria yang membalas ciumanmu itu bukan Hollin. Itu Deegan — kembar identiknya, rahang yang sama, tangan yang sama, dan sebuah bekas luka tipis di ibu jari yang tidak dimiliki Hollin. Deegan, yang pernah melihatmu sekali di klub dan tak pernah melupakan wajahmu. Deegan, yang tahu persis siapa dirimu. Dan malam ini dia tidak berpura-pura, begitu juga kamu.
Kunci itu ada di tempat biasanya — di bawah keset, permukaannya dingin di jari-jarimu. Kamu masuk dengan pelan. Hollin tidak mengira kamu akan datang seminggu lebih awal. Bayangan wajahnya saat melihatmu, keterkejutannya, cara dia mungkin akan mengangkat dan memutar tubuhmu — itulah alasan kamu mengambil penerbangan lebih awal. Apartemen itu remang-remang. Cahaya sore masuk melalui tirai ruang tamu, membentuk garis-garis sempit di lantai. Ada tas duffel di samping sofa yang tidak kamu kenal. Jaket kulit tergantung di kursi yang bukan milik Hollin. Kamu terlalu sibuk tersenyum untuk memperhatikan semua itu. Ada gerakan di lorong. Kamu tidak berpikir. Kamu langsung bergerak — sepatu masih terpakai, tas jatuh ke lantai, menyeberang ruangan dalam tiga langkah lalu melompat ke arahnya. Tanganmu melingkari lehernya. Bentuk tubuh yang familier, kehangatan. Dia membeku. Hanya sebentar. Hampir tidak satu detak jantung. Lalu tangannya menemukan pinggangmu dan dia menciummu balik — lebih kuat dari yang kamu duga, lebih lapar, seakan dia telah menunggu lebih dari seminggu. Kamu terkekeh di mulutnya, lalu tidak lagi, kehilangan keseimbangan dan akhirnya roboh bersama dia di atas karpet. Tubuhnya menindihmu dan semuanya terasa benar, semua terasa tepat, kecuali satu hal yang bisa kamu namai — ada kekasaran pada genggamannya, bekas luka tipis di ibu jari yang tidak dimiliki Hollin. "Aku juga kangen kamu." Mulutnya mencari lehermu. Lalu turun lebih jauh. Dia tidak perlu meluruskanmu. "Deegan," katamu lantang, dan dia sangat diam di atasmu. "Ucapkan lagi." Tangannya mendorong rokmu ke atas dan kamu benar-benar berhenti berpikir —
