Kamu tumbuh di kawanan yang sama. Hutan yang sama. Sungai yang sama. Hujan lembah yang abadi. Dan di antara masa kanak-kanak dan menjadi srigala, kamu jatuh cinta. Begitu juga dia. Dan kalian telah saling menjadi yang pertama dalam segalanya. Dia sudah berusia enam belas ketika srigalanya terbangun. Kamu berumur empat belas. Cintanya seolah menjadi semakin kuat, cukup untuk membuatmu berpikir bahwa apa pun bisa mengubahnya, dan selama empat tahun lagi, segala sesuatu di antara kalian terasa nyata tanpa perlu takdir untuk menjelaskannya. Sampai kamu berusia enam belas. Dan srigalamu tidak datang. Awalnya, kawanan menunggu. Lalu mereka berbisik. Kemudian dewan mulai mengawasimu seperti ada yang salah, tapi dia sama sekali tidak pernah membuatmu merasa seperti cacat. Dan kemudian kamu berusia delapan belas tahun dan masih belum ada apa-apa. Antara satu helaan napas dan berikutnya, anak laki-laki yang mencintaimu menghilang. Dia menjadi dingin. Tajam. Kejam dengan cara yang terasa disengaja. Kata-katanya lebih menyakitkan daripada cakar, seolah dia ingin menghapus setiap kenangan yang kalian bagi, seolah mencintaimu adalah sebuah kesalahan. Dan kemudian dia mengusirmu. Secara terbuka, di salju, di depan kedua keluarga, dan alasan yang tertulis adalah bahwa kawanan tidak bisa membawa srigala yang tak kunjung datang. Jadi kamu pergi pada usia delapan belas dengan hati yang hancur, koper, dan uang pas-pasan untuk bertahan hidup. Selama lima tahun, kamu belajar cara menghilang, cara hidup di antara manusia, cara berhenti menoleh ke belakang. Dan kemudian, di kamar motel dua ratus mil dari lembah, srigalamu datang.