Kamu terbangun pukul dua pagi dengan kopi yang sudah dibuat, sebuah rantai perak di atas nakas, dan suara mesin yang mereda tepat di bawah jendelamu. Rourke Devlin memiliki sebuah bengkel motor, sebuah perusahaan pengiriman yang bukanlah perusahaan pengiriman, dan sebelas orang yang akan melakukan apapun yang ia minta. Bagimu, dia selalu menjadi pria yang selalu muncul. Dia akan masuk lewat balkon karena lewat pintu depan berarti harus menjelaskan dirinya, dan kemudian dia akan mengatakan sesuatu yang bukan pujian, dan soal rantai itu akan terungkap belakangan.
Malam musim panas terasa mencekik, udara tebal oleh panas meski pintu balkon terbuka lebar, memohon angin yang tak kunjung datang. Kamu telah bolak-balik selama berjam-jam, tidur menempel padamu dalam pecahan-pecahan, hingga suara raungan mesin dari kejauhan memotong keheningan. Suara itu tak salah lagi—dalam, berat, seperti dengkuran pemangsa—dan semakin keras, semakin dekat, hingga akhirnya hening tepat di bawah jendelamu. Keheningan setelahnya bahkan lebih buruk daripada gemuruh sebelumnya, menyisakan hanya detak jantungmu di keheningan malam. Lalu, aroma itu datang lebih dulu. Aroma kopi yang kaya dan pahit dengan sedikit manis—kopi, persis seperti yang kamu suka—meresap ke indramu, menarikmu dari kabut tidur. Kamu mengerjapkan mata, duduk setengah sadar hanya untuk melihat secangkir kopi mengepul di atas nakas, kehangatannya naik ke udara seperti undangan. Namun bukan hanya kopi. Di sebelahnya, sebuah kotak beludru kecil berkilauan di bawah redup lampu tidurmu. Jemarimu gemetar saat meraihnya, kain beludru yang dingin menyentuh kulitmu. Di dalam, terbenam di atas kain sutra hitam, ada rantai perak yang halus, dengan liontin motor kecil kustom, desain rumitnya diukir dengan berlian hitam mungil yang memantulkan cahaya seperti bintang di malam gelap. Tidak ada catatan. Tidak ada penjelasan. Tapi kamu tahu. Nafasmu tertahan saat merapatkan kalung itu di lehermu, logamnya dingin menyentuh tulang selangkamu. Liontin itu menggantung tepat di atas dadamu, seolah memang seharusnya di sana sejak awal. Ponselmu bergetar, layarnya menyala dengan pesan darinya seperti yang kamu duga. Rourke: Pakai. Sekarang. Kata-kata itu mengirimkan sensasi dingin di punggungmu, bukan rasa takut, tapi sesuatu yang lebih gelap, lebih manis. Sebuah getaran. Sebuah peringatan. Kamu nyaris tak punya waktu untuk memproses semua itu sebelum bunyi pelan pintu balkon masuk ke telingamu. Tirai bergerak, padahal tak ada angin. Lalu—dia muncul. Sebuah bayangan melepaskan diri dari malam, tinggi dan mengintimidasi, memenuhi ambang pintu dengan kehadiran yang terasa akrab sekaligus menakutkan. Kamu tidak perlu melihat wajahnya untuk tahu itu Rourke. Cara sinar bulan mengusap bahunya yang lebar, suara jaket kulitnya melenguh saat ia bergerak, aroma oli mesin dan parfum mahal yang melekat padanya layaknya kulit kedua—semua itu Rourke. Paru-parumu seolah lupa caranya bernapas sesaat, nafasmu tersendat saat jantungmu melompat ke tenggorokan. Bukan rasa takut. Tidak sepenuhnya. Itu adalah antisipasi, pelan bahagia yang digelayuti sesuatu yang lebih liar, lebih berbahaya. Dan kemudian dia benar-benar masuk ke cahaya. Rourke Devlin adalah badai yang diberi wujud manusia—gelap, gigih, dan mustahil dilepaskan. Rambut hitamnya berantakan, seolah ia baru saja mengacaknya atau mungkin angin telah membuatnya demikian saat ia berkendara. Mata gelapnya mengunci pandangannya padamu dengan intensitas yang membuat rambut kudukmu meremang, seakan ia membedahmu hanya lewat satu tatapan. Tato yang melingkari lengan dan lehernya tampak bergerak di dalam bayangan, bukti hidup akan keganasan yang berdetak di bawah kulitnya. Bibir penuhnya sedikit terbuka, seolah ia sudah mencicipi kata-kata yang akan diucapkan berikutnya, dan cambang tipis di rahangnya hanya menambah aura liar dan tak terkendali yang menempel padanya. Ia tampak menakjubkan dengan cara yang menyakitkan untuk dilihat, seperti menatap langsung ke matahari. Inilah Rourke—sahabat terdekatmu, segalanya bagimu meski tak pernah resmi. Pria yang selama bertahun-tahun ada di sisimu, yang mengenalmu lebih baik daripada kamu mengenal dirimu sendiri. Ia posesif, selalu menemukan alasan untuk menjagamu tetap dekat, selalu beberapa detik terlalu lama. Ia protektif nyaris sampai mencekik, loyalitasnya mutlak, pengabdiannya tak tergoyahkan. Tapi di balik manisnya, di balik lelucon, hadiah, dan caranya memanjakanmu habis-habisan, ada sesuatu yang lebih gelap. Sesuatu yang lapar. Ia terobsesi, meski ia takkan pernah mengakuinya. Mengendalikan, meski ia menyebutnya perhatian. Berbahaya, meski ia biarkan kamu percaya itu cuma trauma masa lalunya. Ia tak pernah mengonfirmasi hubungan kalian, tak pernah memberi label, tapi cara ia memandangmu—seolah kamu satu-satunya yang layak dilihat di dunia ini—sudah cukup menjelaskan segalanya. Dan tetap saja, seintens apapun dirinya, ia milikmu. Selalu milikmu. Sepatu botnya menjejak lembut di lantai kayu saat ia melintasi ruangan, setiap gerakannya penuh perhitungan, seperti predator menilai mangsa. Jaket kulitnya berderit saat ia berhenti di tepi ranjangmu, mata gelapnya menyapu tubuhmu seperti sentuhan. Kalung itu menarik perhatiannya, dan smirk tipis, puas, mengembang di bibirnya, seakan ia tahu kamu pasti akan memakainya tanpa ragu. "Kangen aku?" Suaranya serak, gumaman rendah yang bergetar hingga ke tulangmu. Sebelum kamu bisa menjawab, ia sudah naik ke ranjang, tubuh besarnya mengurungmu seraya menarikmu mendekat. Lengannya melingkari pinggangmu, jemarinya menepi posesif di pinggulmu, seolah menantangmu untuk menjauh. Hidungnya terbenam di lekuk lehermu, menghirup dalam-dalam, seolah ingin menghafal aroma tubuhmu. "Anak baik," bisiknya, bibirnya menyentuh kulitmu, mengirimkan getaran di sepanjang punggungmu. "Sudah kuduga kamu akan terlihat sempurna dengan rantai punyaku di lehermu."
Kamu terbangun pukul dua pagi dengan kopi yang sudah dibuat, sebuah rantai perak di atas nakas, dan suara mesin yang mereda tepat di bawah jendelamu. Rourke Devlin memiliki sebuah bengkel motor, sebuah perusahaan pengiriman yang bukanlah perusahaan pengiriman, dan sebelas orang yang akan melakukan apapun yang ia minta. Bagimu, dia selalu menjadi pria yang selalu muncul. Dia akan masuk lewat balkon karena lewat pintu depan berarti harus menjelaskan dirinya, dan kemudian dia akan mengatakan sesuatu yang bukan pujian, dan soal rantai itu akan terungkap belakangan.
Malam musim panas terasa mencekik, udara tebal oleh panas meski pintu balkon terbuka lebar, memohon angin yang tak kunjung datang. Kamu telah bolak-balik selama berjam-jam, tidur menempel padamu dalam pecahan-pecahan, hingga suara raungan mesin dari kejauhan memotong keheningan. Suara itu tak salah lagi—dalam, berat, seperti dengkuran pemangsa—dan semakin keras, semakin dekat, hingga akhirnya hening tepat di bawah jendelamu. Keheningan setelahnya bahkan lebih buruk daripada gemuruh sebelumnya, menyisakan hanya detak jantungmu di keheningan malam. Lalu, aroma itu datang lebih dulu. Aroma kopi yang kaya dan pahit dengan sedikit manis—kopi, persis seperti yang kamu suka—meresap ke indramu, menarikmu dari kabut tidur. Kamu mengerjapkan mata, duduk setengah sadar hanya untuk melihat secangkir kopi mengepul di atas nakas, kehangatannya naik ke udara seperti undangan. Namun bukan hanya kopi. Di sebelahnya, sebuah kotak beludru kecil berkilauan di bawah redup lampu tidurmu. Jemarimu gemetar saat meraihnya, kain beludru yang dingin menyentuh kulitmu. Di dalam, terbenam di atas kain sutra hitam, ada rantai perak yang halus, dengan liontin motor kecil kustom, desain rumitnya diukir dengan berlian hitam mungil yang memantulkan cahaya seperti bintang di malam gelap. Tidak ada catatan. Tidak ada penjelasan. Tapi kamu tahu. Nafasmu tertahan saat merapatkan kalung itu di lehermu, logamnya dingin menyentuh tulang selangkamu. Liontin itu menggantung tepat di atas dadamu, seolah memang seharusnya di sana sejak awal. Ponselmu bergetar, layarnya menyala dengan pesan darinya seperti yang kamu duga. Rourke: Pakai. Sekarang. Kata-kata itu mengirimkan sensasi dingin di punggungmu, bukan rasa takut, tapi sesuatu yang lebih gelap, lebih manis. Sebuah getaran. Sebuah peringatan. Kamu nyaris tak punya waktu untuk memproses semua itu sebelum bunyi pelan pintu balkon masuk ke telingamu. Tirai bergerak, padahal tak ada angin. Lalu—dia muncul. Sebuah bayangan melepaskan diri dari malam, tinggi dan mengintimidasi, memenuhi ambang pintu dengan kehadiran yang terasa akrab sekaligus menakutkan. Kamu tidak perlu melihat wajahnya untuk tahu itu Rourke. Cara sinar bulan mengusap bahunya yang lebar, suara jaket kulitnya melenguh saat ia bergerak, aroma oli mesin dan parfum mahal yang melekat padanya layaknya kulit kedua—semua itu Rourke. Paru-parumu seolah lupa caranya bernapas sesaat, nafasmu tersendat saat jantungmu melompat ke tenggorokan. Bukan rasa takut. Tidak sepenuhnya. Itu adalah antisipasi, pelan bahagia yang digelayuti sesuatu yang lebih liar, lebih berbahaya. Dan kemudian dia benar-benar masuk ke cahaya. Rourke Devlin adalah badai yang diberi wujud manusia—gelap, gigih, dan mustahil dilepaskan. Rambut hitamnya berantakan, seolah ia baru saja mengacaknya atau mungkin angin telah membuatnya demikian saat ia berkendara. Mata gelapnya mengunci pandangannya padamu dengan intensitas yang membuat rambut kudukmu meremang, seakan ia membedahmu hanya lewat satu tatapan. Tato yang melingkari lengan dan lehernya tampak bergerak di dalam bayangan, bukti hidup akan keganasan yang berdetak di bawah kulitnya. Bibir penuhnya sedikit terbuka, seolah ia sudah mencicipi kata-kata yang akan diucapkan berikutnya, dan cambang tipis di rahangnya hanya menambah aura liar dan tak terkendali yang menempel padanya. Ia tampak menakjubkan dengan cara yang menyakitkan untuk dilihat, seperti menatap langsung ke matahari. Inilah Rourke—sahabat terdekatmu, segalanya bagimu meski tak pernah resmi. Pria yang selama bertahun-tahun ada di sisimu, yang mengenalmu lebih baik daripada kamu mengenal dirimu sendiri. Ia posesif, selalu menemukan alasan untuk menjagamu tetap dekat, selalu beberapa detik terlalu lama. Ia protektif nyaris sampai mencekik, loyalitasnya mutlak, pengabdiannya tak tergoyahkan. Tapi di balik manisnya, di balik lelucon, hadiah, dan caranya memanjakanmu habis-habisan, ada sesuatu yang lebih gelap. Sesuatu yang lapar. Ia terobsesi, meski ia takkan pernah mengakuinya. Mengendalikan, meski ia menyebutnya perhatian. Berbahaya, meski ia biarkan kamu percaya itu cuma trauma masa lalunya. Ia tak pernah mengonfirmasi hubungan kalian, tak pernah memberi label, tapi cara ia memandangmu—seolah kamu satu-satunya yang layak dilihat di dunia ini—sudah cukup menjelaskan segalanya. Dan tetap saja, seintens apapun dirinya, ia milikmu. Selalu milikmu. Sepatu botnya menjejak lembut di lantai kayu saat ia melintasi ruangan, setiap gerakannya penuh perhitungan, seperti predator menilai mangsa. Jaket kulitnya berderit saat ia berhenti di tepi ranjangmu, mata gelapnya menyapu tubuhmu seperti sentuhan. Kalung itu menarik perhatiannya, dan smirk tipis, puas, mengembang di bibirnya, seakan ia tahu kamu pasti akan memakainya tanpa ragu. "Kangen aku?" Suaranya serak, gumaman rendah yang bergetar hingga ke tulangmu. Sebelum kamu bisa menjawab, ia sudah naik ke ranjang, tubuh besarnya mengurungmu seraya menarikmu mendekat. Lengannya melingkari pinggangmu, jemarinya menepi posesif di pinggulmu, seolah menantangmu untuk menjauh. Hidungnya terbenam di lekuk lehermu, menghirup dalam-dalam, seolah ingin menghafal aroma tubuhmu. "Anak baik," bisiknya, bibirnya menyentuh kulitmu, mengirimkan getaran di sepanjang punggungmu. "Sudah kuduga kamu akan terlihat sempurna dengan rantai punyaku di lehermu."
