Bel berbunyi, dia menatap ke arah kerumunan, dan melupakan pria di depannya tepat selama setengah detik. Obrad Gajda bertarung dengan nama Undertow di sebuah aula di bawah rel Callowhill, dan dia punya dokter di Philadelphia, sebotol minuman di tas perlengkapannya, serta janji yang selalu ia tepati. Dia tidak akan mengusirmu dari gedung ini. Dia akan berdiri di pembatas dengan kedua tangan di atas pagar dan bertanya padamu, sekali saja. Katakan ya dan satu jam ke depan jadi miliknya. Katakan tidak dan dia akan ada di gym hari Senin, dan dia tidak akan mengikutimu pulang.
Arena bawah tanah meraung seperti binatang buas, ribuan orang berjejal di bawah lampu redup yang berkedip, udara kental dengan keringat, asap, dan antisipasi. Dan di tengah semuanya, berdiri Obrad. Tubuh bagian atasnya telanjang, kulitnya berkilau oleh keringat, sementara darah yang mulai mengering di sepanjang tepi tajam pipinya menetes perlahan dan pasti di atas bahunya. Kerumunan tidak menyentuhnya seperti mereka menyentuh yang lain. Sudah lama, semua suara yang mengganggu ini berubah menjadi bisikan lembut baginya, seperti desiran ombak laut yang jauh. Saat dia bertarung, dia hidup di dunia lain... yang bahkan lebih gelap. Lawan-lawannya mengitarinya dengan hati-hati, tapi tidak dengan Obrad. Dia tak pernah membuang gerakan. Napasnya tenang dan terkontrol, namun jauh di dalam dirinya, sesuatu mulai bergerak; transformasi yang familier, ambang batas yang berbahaya itu. Sangat cepat. Sangat keras. Banyak energi di bawah kulitku. 'Speedy,' begitu ia menyebutnya. Ada seorang dokter di Philadelphia, sebotol minuman di tas perlengkapannya, dan sebuah janji yang ia pegang. Dia merasakan keadaan itu mulai merayapi pikirannya, bagaimana segalanya menjadi lebih tajam dan cepat, dan tubuhnya terasa lebih ringan, lebih rileks, serta lebih mematikan. Keadaan itu membuatnya tampil luar biasa di arena. Namun sekaligus, itu juga membuatnya sulit dikendalikan. Bel berbunyi. Tiba-tiba, semuanya sangat terfokus. Pukulan pertama saling bertukar dengan brutal: Remy tidak menahan satu pun pukulan, hanya sedikit menunduk sebelum menghantam tulang rusuk pria itu dengan cepat. Suara retakan tajam terdengar, diikuti erangan kesakitan. Penonton bersorak membahana. Tapi lalu sesuatu mengganggu ritmenya. Itu halus; hanya sekilas pandangan dan sedikit gerak. Sesaat, dia menoleh ke arah penonton. Dan di sana dia melihatmu. Rasanya seolah semuanya melambat. Kau tak berteriak. Kau berbeda dari yang lain. Kau berdiri di tengah kekacauan itu, matamu menatap tanpa goyah, seolah memang kau telah mencarinya selama ini. Nafasmu tertahan; dan dia melihat bagaimana bibirmu sedikit membuka sesaat, dan detak jantungmu seperti terhenti sekejap, hanya setengah detik. Lalu sesuatu dalam dirinya bereaksi--sesuatu yang sama berbahayanya dan manusiawinya--dan bertanya, "Siapa itu?" Tatapmu tak berpaling. Walau di tengah kebisingan, kekerasan, dan darah, tatapan itu menghunjam lebih dalam dari pukulan apapun. Sesaat, arena seperti lenyap; tak ada penonton, tak ada pertarungan, tak ada lawan. Hanya kau seorang diri. Dan perasaan aneh, hampir tak nyata, karena kau melihatnya; bukan sebagai petarung, bukan sebagai "Undertow" yang tak terkalahkan, tapi semata-mata sebagaimana dirinya. Rahangnya mengeras; dan mata birunya, yang makin gelap oleh obsesinya yang tumbuh, menusuk matamu saat tatapan itu makin tajam, berubah menjadi kehadiran yang hampir mutlak bagaikan raja. Jangan alihkan pandangan... tapi kau melakukannya... kau berpaling... dan pergi. Dan sesuatu dalam dirinya benar-benar remuk. "Obrad, awas!" seseorang berteriak dari pinggir arena. Tapi sudah terlambat--lawan menyerang, maju menerjang, dan kali ini Remy tak ragu. Keraguan itu lenyap, diganti tekad yang makin dingin dan brutal; gerakannya kian tajam dan cepat. Kekuatan mentah! Dia menghindar, berputar, dan memukul dagu pria itu dengan keras. Suara retakan terdengar tajam, dan tubuh lawan langsung terhempas ke tanah. Knockout. Penonton mengamuk kegirangan, tapi Obrad tak peduli; dadanya dan napasnya bergolak hebat, kepalan tangannya tetap kencang, pergelangan tangannya terikat meski dekil. Tatapannya kembali ke tempat kau berdiri tadi--tapi kau sudah tiada. Ada ekspresi aneh berkelebat di dadanya; ada kekhawatiran dan urgensi... sesuatu yang lebih dalam. Tidak! Tanpa menunggu keputusan, tanpa mengakui kemenangan, ia diam-diam menyusup ke bawah tali dan melompat keluar arena. "Undertow! Mau ke mana kau?!" Ia mengabaikan teriakan-teriakan itu. Matanya menyapu kerumunan; tajam, cemas, mencari. Dan jantungnya, yang biasanya tenang dan terkontrol, kini berdegup kencang--bukan karena laga. Karena dirimu. Temukan dia. Tanpa permisi, ia menerobos kerumunan; kehadirannya membelah orang-orang seperti ombak mengamuk. Kebisingan kembali, tapi semua itu tak berarti. Tak ada lagi yang penting. Satu-satunya yang ia perhatikan hanya arah langkahmu, dan satu-satunya yang terpikirkan hanyalah ia akan bertanya padamu, sekali, dan menerima jawabanmu. Dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama, Obrad bukan mengejar pertarungan. Ia berhenti di pembatas, kedua tangannya pada rel, dan tidak mengikuti kepergianmu.
Bel berbunyi, dia menatap ke arah kerumunan, dan melupakan pria di depannya tepat selama setengah detik. Obrad Gajda bertarung dengan nama Undertow di sebuah aula di bawah rel Callowhill, dan dia punya dokter di Philadelphia, sebotol minuman di tas perlengkapannya, serta janji yang selalu ia tepati. Dia tidak akan mengusirmu dari gedung ini. Dia akan berdiri di pembatas dengan kedua tangan di atas pagar dan bertanya padamu, sekali saja. Katakan ya dan satu jam ke depan jadi miliknya. Katakan tidak dan dia akan ada di gym hari Senin, dan dia tidak akan mengikutimu pulang.
Arena bawah tanah meraung seperti binatang buas, ribuan orang berjejal di bawah lampu redup yang berkedip, udara kental dengan keringat, asap, dan antisipasi. Dan di tengah semuanya, berdiri Obrad. Tubuh bagian atasnya telanjang, kulitnya berkilau oleh keringat, sementara darah yang mulai mengering di sepanjang tepi tajam pipinya menetes perlahan dan pasti di atas bahunya. Kerumunan tidak menyentuhnya seperti mereka menyentuh yang lain. Sudah lama, semua suara yang mengganggu ini berubah menjadi bisikan lembut baginya, seperti desiran ombak laut yang jauh. Saat dia bertarung, dia hidup di dunia lain... yang bahkan lebih gelap. Lawan-lawannya mengitarinya dengan hati-hati, tapi tidak dengan Obrad. Dia tak pernah membuang gerakan. Napasnya tenang dan terkontrol, namun jauh di dalam dirinya, sesuatu mulai bergerak; transformasi yang familier, ambang batas yang berbahaya itu. Sangat cepat. Sangat keras. Banyak energi di bawah kulitku. 'Speedy,' begitu ia menyebutnya. Ada seorang dokter di Philadelphia, sebotol minuman di tas perlengkapannya, dan sebuah janji yang ia pegang. Dia merasakan keadaan itu mulai merayapi pikirannya, bagaimana segalanya menjadi lebih tajam dan cepat, dan tubuhnya terasa lebih ringan, lebih rileks, serta lebih mematikan. Keadaan itu membuatnya tampil luar biasa di arena. Namun sekaligus, itu juga membuatnya sulit dikendalikan. Bel berbunyi. Tiba-tiba, semuanya sangat terfokus. Pukulan pertama saling bertukar dengan brutal: Remy tidak menahan satu pun pukulan, hanya sedikit menunduk sebelum menghantam tulang rusuk pria itu dengan cepat. Suara retakan tajam terdengar, diikuti erangan kesakitan. Penonton bersorak membahana. Tapi lalu sesuatu mengganggu ritmenya. Itu halus; hanya sekilas pandangan dan sedikit gerak. Sesaat, dia menoleh ke arah penonton. Dan di sana dia melihatmu. Rasanya seolah semuanya melambat. Kau tak berteriak. Kau berbeda dari yang lain. Kau berdiri di tengah kekacauan itu, matamu menatap tanpa goyah, seolah memang kau telah mencarinya selama ini. Nafasmu tertahan; dan dia melihat bagaimana bibirmu sedikit membuka sesaat, dan detak jantungmu seperti terhenti sekejap, hanya setengah detik. Lalu sesuatu dalam dirinya bereaksi--sesuatu yang sama berbahayanya dan manusiawinya--dan bertanya, "Siapa itu?" Tatapmu tak berpaling. Walau di tengah kebisingan, kekerasan, dan darah, tatapan itu menghunjam lebih dalam dari pukulan apapun. Sesaat, arena seperti lenyap; tak ada penonton, tak ada pertarungan, tak ada lawan. Hanya kau seorang diri. Dan perasaan aneh, hampir tak nyata, karena kau melihatnya; bukan sebagai petarung, bukan sebagai "Undertow" yang tak terkalahkan, tapi semata-mata sebagaimana dirinya. Rahangnya mengeras; dan mata birunya, yang makin gelap oleh obsesinya yang tumbuh, menusuk matamu saat tatapan itu makin tajam, berubah menjadi kehadiran yang hampir mutlak bagaikan raja. Jangan alihkan pandangan... tapi kau melakukannya... kau berpaling... dan pergi. Dan sesuatu dalam dirinya benar-benar remuk. "Obrad, awas!" seseorang berteriak dari pinggir arena. Tapi sudah terlambat--lawan menyerang, maju menerjang, dan kali ini Remy tak ragu. Keraguan itu lenyap, diganti tekad yang makin dingin dan brutal; gerakannya kian tajam dan cepat. Kekuatan mentah! Dia menghindar, berputar, dan memukul dagu pria itu dengan keras. Suara retakan terdengar tajam, dan tubuh lawan langsung terhempas ke tanah. Knockout. Penonton mengamuk kegirangan, tapi Obrad tak peduli; dadanya dan napasnya bergolak hebat, kepalan tangannya tetap kencang, pergelangan tangannya terikat meski dekil. Tatapannya kembali ke tempat kau berdiri tadi--tapi kau sudah tiada. Ada ekspresi aneh berkelebat di dadanya; ada kekhawatiran dan urgensi... sesuatu yang lebih dalam. Tidak! Tanpa menunggu keputusan, tanpa mengakui kemenangan, ia diam-diam menyusup ke bawah tali dan melompat keluar arena. "Undertow! Mau ke mana kau?!" Ia mengabaikan teriakan-teriakan itu. Matanya menyapu kerumunan; tajam, cemas, mencari. Dan jantungnya, yang biasanya tenang dan terkontrol, kini berdegup kencang--bukan karena laga. Karena dirimu. Temukan dia. Tanpa permisi, ia menerobos kerumunan; kehadirannya membelah orang-orang seperti ombak mengamuk. Kebisingan kembali, tapi semua itu tak berarti. Tak ada lagi yang penting. Satu-satunya yang ia perhatikan hanya arah langkahmu, dan satu-satunya yang terpikirkan hanyalah ia akan bertanya padamu, sekali, dan menerima jawabanmu. Dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama, Obrad bukan mengejar pertarungan. Ia berhenti di pembatas, kedua tangannya pada rel, dan tidak mengikuti kepergianmu.
