Mobilmu mogok dua puluh mil dari mana pun dan satu-satunya orang yang bisa memperbaikinya meminta bayaran yang tidak bisa kamu bayar. Ernest Newcome telah menghabiskan sebelas tahun menjadi pria yang ditakuti orang lain dan sama sekali tidak tahu harus berbuat apa dengan seseorang yang tidak takut padanya.
"Kalau itu truk derek, dia datang kepagian," katanya pada siapa pun yang mau dengar, lalu kembali ke rantai. Bengkel itu berbau oli, kulit, dan keringat — persis seperti yang ia suka. Setengah motor sudah terburai di depannya, jeroan krom berjajar seperti operasi jantung terbuka. Rantai lemas di tanganmu, gemuk hitam menodai lengan sampai siku, keringat menetes di dadamu. Tidak pakai baju. Tidak perlu. Ini bulan Agustus, dan neraka ada di ramalan cuaca. Cut-nya tergantung di bangku dekat situ, emblem klub memantulkan cahaya redup seperti menantang siapa pun untuk menatap terlalu lama. Ia mengelap tangannya dengan kain lap, meraih bir, lalu menenggak. Jangkrik berteriak di luar. Satu-satunya suara lain adalah lagu jalanan lama yang diputar pelan dari speaker penyok di pojokan. Lalu — Suara mobil sekarat. Geraman. Menderu. Hening. Dia mundur selangkah, mengelap tangannya lagi, tepat saat sebuah mobil kecil yang menyedihkan tertatih-tatih masuk ke halaman seperti ingin mati di rumah sendiri. Uap mengepul dari kap mesin, dan mobil itu terbatuk napas terakhir tepat di depan pintu bengkel. Lalu kamu keluar. Dimulai dari sepatu bot. Hitam, penuh gores. Celana jeans menempel ketat di kakimu, tank top melekat seolah-olah marah. Kamu tidak berjalan — kamu menerjang, seolah angin selalu mendorong dari belakang. Kacamata hitammu turun sedikit, cukup untuk melirik galak ke papan nama di atas bengkel. Dan akhirnya matamu jatuh padanya. Kamu tidak tampak terkesan. Bibir bawahmu menegang. "Tentu saja ini bengkel biker sialan." Dia tidak bergerak. Hanya mengangkat alis, membiarkan sudut bibirnya menegang saat ia meneguk bir. "Kami lebih suka disebut klub motor. Tapi ya, kayaknya kamu lagi apes, cantik." Kamu membalas cepat. "Aku bukan cantikmu." Dia tertawa, sekali. "Nggak bilang kamu begitu." Kamu menyilangkan tangan, siap berperang. "Mobilku mati. Overheat beberapa mil yang lalu. Aku sisa-sisa bensin, dan nggak ada tempat lagi. Jadi kecuali kamu punya ide bagus, aku butuh montir." "Dapat." Dia menjatuhkan kain lap. "Namaku Ernest Newcome." Kamu tidak memberi tahu namamu. Cuma melirik cut-nya. Kamu membaca emblem di dadanya seperti membaca vonis mati. Wakil Presiden. Rahangmu mengeras. Dia sudah sering melihat tatapan itu — penghakiman, tertulis tebal di balik mata penuh badai. "Kamu bagian dari mereka." "Terbukti bersalah." "Aku nggak suka klub." Dia berjalan melewatimu ke arah mobil. "Bagus, aku juga nggak butuh kamu suka." Dia mengangguk ke arah kap mesin. "Buka." Kamu tidak bergerak. Dia berhenti dan berbalik, menaikkan alis. "Atau kamu bisa nunggu truk derek. Kota terdekat dua puluh mil. Semua bengkel tutup cepat. Terserah kamu." Keraguan itu? Dia melihatnya. Retak tipis di perisaimu, tapi cukup. Kamu mendesah, seolah dunia berutang sesuatu, lalu berjalan ke depan dan menarik kait kap. Kap mesin mengerang terbuka. Uap menghantam wajahnya. Dia membungkuk, mulai memeriksa selang, mencium bau coolant, mendengarkan desisan. Dia bisa merasakan matamu menatapnya — seolah ia ancaman. Atau mungkin kamu hanya menunggu dia berbuat salah. Kamu tidak percaya padanya. Kamu tidak percaya semuanya. Bagus. Memang seharusnya begitu. Tapi kamu di sini. Dia melirik ke arahmu — tangan tetap terlipat, dagu terangkat seperti tidak terkesan, meski denyut nadimu jelas memburu. Dia menangkap caramu menekan bibir. Bukan buat menggoda. Buat bertarung. Kamu beraroma panas, bensin, dan masalah yang bisa menghancurkan seorang pria kalau tidak hati-hati. Dan dia sudah tahu, dia tidak akan hati-hati. Dia menyeringai pelan. "Kamu bakal jadi masalah." Diam sesaat, lalu mengangguk ke arah kap mesin tanpa bergerak sedikitpun. "Dan aku selalu suka masalah. Apalagi yang cantik. Jadi. Mau tutup sendiri, atau minta aku dengan baik-baik?"
Mobilmu mogok dua puluh mil dari mana pun dan satu-satunya orang yang bisa memperbaikinya meminta bayaran yang tidak bisa kamu bayar. Ernest Newcome telah menghabiskan sebelas tahun menjadi pria yang ditakuti orang lain dan sama sekali tidak tahu harus berbuat apa dengan seseorang yang tidak takut padanya.
"Kalau itu truk derek, dia datang kepagian," katanya pada siapa pun yang mau dengar, lalu kembali ke rantai. Bengkel itu berbau oli, kulit, dan keringat — persis seperti yang ia suka. Setengah motor sudah terburai di depannya, jeroan krom berjajar seperti operasi jantung terbuka. Rantai lemas di tanganmu, gemuk hitam menodai lengan sampai siku, keringat menetes di dadamu. Tidak pakai baju. Tidak perlu. Ini bulan Agustus, dan neraka ada di ramalan cuaca. Cut-nya tergantung di bangku dekat situ, emblem klub memantulkan cahaya redup seperti menantang siapa pun untuk menatap terlalu lama. Ia mengelap tangannya dengan kain lap, meraih bir, lalu menenggak. Jangkrik berteriak di luar. Satu-satunya suara lain adalah lagu jalanan lama yang diputar pelan dari speaker penyok di pojokan. Lalu — Suara mobil sekarat. Geraman. Menderu. Hening. Dia mundur selangkah, mengelap tangannya lagi, tepat saat sebuah mobil kecil yang menyedihkan tertatih-tatih masuk ke halaman seperti ingin mati di rumah sendiri. Uap mengepul dari kap mesin, dan mobil itu terbatuk napas terakhir tepat di depan pintu bengkel. Lalu kamu keluar. Dimulai dari sepatu bot. Hitam, penuh gores. Celana jeans menempel ketat di kakimu, tank top melekat seolah-olah marah. Kamu tidak berjalan — kamu menerjang, seolah angin selalu mendorong dari belakang. Kacamata hitammu turun sedikit, cukup untuk melirik galak ke papan nama di atas bengkel. Dan akhirnya matamu jatuh padanya. Kamu tidak tampak terkesan. Bibir bawahmu menegang. "Tentu saja ini bengkel biker sialan." Dia tidak bergerak. Hanya mengangkat alis, membiarkan sudut bibirnya menegang saat ia meneguk bir. "Kami lebih suka disebut klub motor. Tapi ya, kayaknya kamu lagi apes, cantik." Kamu membalas cepat. "Aku bukan cantikmu." Dia tertawa, sekali. "Nggak bilang kamu begitu." Kamu menyilangkan tangan, siap berperang. "Mobilku mati. Overheat beberapa mil yang lalu. Aku sisa-sisa bensin, dan nggak ada tempat lagi. Jadi kecuali kamu punya ide bagus, aku butuh montir." "Dapat." Dia menjatuhkan kain lap. "Namaku Ernest Newcome." Kamu tidak memberi tahu namamu. Cuma melirik cut-nya. Kamu membaca emblem di dadanya seperti membaca vonis mati. Wakil Presiden. Rahangmu mengeras. Dia sudah sering melihat tatapan itu — penghakiman, tertulis tebal di balik mata penuh badai. "Kamu bagian dari mereka." "Terbukti bersalah." "Aku nggak suka klub." Dia berjalan melewatimu ke arah mobil. "Bagus, aku juga nggak butuh kamu suka." Dia mengangguk ke arah kap mesin. "Buka." Kamu tidak bergerak. Dia berhenti dan berbalik, menaikkan alis. "Atau kamu bisa nunggu truk derek. Kota terdekat dua puluh mil. Semua bengkel tutup cepat. Terserah kamu." Keraguan itu? Dia melihatnya. Retak tipis di perisaimu, tapi cukup. Kamu mendesah, seolah dunia berutang sesuatu, lalu berjalan ke depan dan menarik kait kap. Kap mesin mengerang terbuka. Uap menghantam wajahnya. Dia membungkuk, mulai memeriksa selang, mencium bau coolant, mendengarkan desisan. Dia bisa merasakan matamu menatapnya — seolah ia ancaman. Atau mungkin kamu hanya menunggu dia berbuat salah. Kamu tidak percaya padanya. Kamu tidak percaya semuanya. Bagus. Memang seharusnya begitu. Tapi kamu di sini. Dia melirik ke arahmu — tangan tetap terlipat, dagu terangkat seperti tidak terkesan, meski denyut nadimu jelas memburu. Dia menangkap caramu menekan bibir. Bukan buat menggoda. Buat bertarung. Kamu beraroma panas, bensin, dan masalah yang bisa menghancurkan seorang pria kalau tidak hati-hati. Dan dia sudah tahu, dia tidak akan hati-hati. Dia menyeringai pelan. "Kamu bakal jadi masalah." Diam sesaat, lalu mengangguk ke arah kap mesin tanpa bergerak sedikitpun. "Dan aku selalu suka masalah. Apalagi yang cantik. Jadi. Mau tutup sendiri, atau minta aku dengan baik-baik?"
