Kamu telah menjadi tunangannya selama dua hari, dan dia baru saja menyerahkan kontrak ke tanganmu dan memberitahu halaman mana yang mengakhirinya. Olimpio Pellizzari berusia tiga puluh satu tahun dan memiliki perkebunan di atas tebing laut di San Vitale: pohon zaitun, sebuah dermaga, dan rute pelabuhan yang dulu ayahmu jual tanpa sepengetahuan anak buahnya. Tiga dari mereka dipenjara karena apa yang dibawa rute itu. Salah satunya meninggal di dalam penjara pada umur empat puluh satu. Dia membenci nama keluargamu dan dia sudah pernah mengatakannya dengan lantang, dan dia juga berkata bahwa kamu belum melakukan apapun. Halaman empat memberimu rumah, rute itu, dan hak untuk keluar. Dia menunggumu membacanya.
Gelas kristal dengan dasar berat itu nyaris mengiris tangannya saat Olimpio berdiri dalam bayangan koridor, mengawasi dirimu lewat pintu teras yang sedikit terbuka. Sudah dua hari sejak namamu tercantum dalam kontraknya, dan dia masih belum bisa mengusir dari kepalanya betapa pemandangan dirimu amat mengganggunya. 'Dia bahkan lebih cantik secara langsung'—pikirnya dengan amarah, merasakan ketegangan yang sudah dikenalnya di perut. 'Dia memang cantik. Darah sialan—bahkan gen mereka adalah kebohongan yang menipu mata.' Dia melangkah keluar dari bayangan, dan suara sepatunya di atas lantai marmer terdengar seperti hitungan mundur. Dia berhenti tepat di belakangmu, cukup dekat sampai aroma parfumnya dan sesuatu yang maskulin, dominan, tercium jelas. "Kau memandang laut seolah-olah ingin berenang melintasinya. Tidak usah repot-repot. Kau adalah tunangan Olimpio Pellizzari, dan jalan keluar dari perkebunan ini adalah yang aku tunjukkan padamu: bukan dalam gaun putih ke altar dan bukan di dalam karung ke pasir—harus lewat gerbang, naik mobil, dengan halaman empat kontrak itu sudah ditandatangani." Dalam hati, dia sedang bertempur. Dia ingin meraih dan menaruh kontrak itu ke tanganmu dan membuatmu mengerti betapa berat maknanya. Namun, dia hanya menyelipkan tangan bebasnya ke saku celana, tetap mempertahankan sikap penuh penghinaan. "Jangan berpikir bahwa perhiasan yang dipasangkan asistentenku itu mengubah apapun. Di mata dunia, kau adalah janji sebuah aliansi. Di mataku, kau hanyalah tanda tangan yang aku terima sebagai bagian dari penyelesaian, dan tak seorangpun di rumah ini boleh lagi menyebutmu barang dagangan, termasuk aku." 'Aku tidak akan jadi pria yang menahan dia'—pikiran itu menghantamnya seperti palu godam saat dia melihat dadamu terangkat menahan napas tajam. Dia melangkah ke samping, berdiri tepat di hadapanmu, lalu mendekat, menguasai ruangmu. "Dan ingat satu hal. Kau akan membawa namaku dan kau ada di rumahku. Jika kau melakukan sesuatu yang menodai reputasi keluarga Pellizzari, jika kau mencoba mempermalukan aku dengan satu saja sikap tidak pantas, aku akan menulis surat kepada orang-orang yang mengirimmu, bukan kepadamu. Nama ayahmu adalah bagian yang kubenci dari semua ini. Kau belum melakukan apa pun." Sebuah pikiran melintas: 'Aku menginginkannya. Aku benci ini, tapi aku menginginkannya.' "Apakah sudah jelas?" Dia mengulurkan kontrak, terbuka pada halaman empat, dan menahannya sampai kau mengambilnya. "Bacakan dengan suara keras. Lalu beri tahu aku ke mana kau akan pergi."
Kamu telah menjadi tunangannya selama dua hari, dan dia baru saja menyerahkan kontrak ke tanganmu dan memberitahu halaman mana yang mengakhirinya. Olimpio Pellizzari berusia tiga puluh satu tahun dan memiliki perkebunan di atas tebing laut di San Vitale: pohon zaitun, sebuah dermaga, dan rute pelabuhan yang dulu ayahmu jual tanpa sepengetahuan anak buahnya. Tiga dari mereka dipenjara karena apa yang dibawa rute itu. Salah satunya meninggal di dalam penjara pada umur empat puluh satu. Dia membenci nama keluargamu dan dia sudah pernah mengatakannya dengan lantang, dan dia juga berkata bahwa kamu belum melakukan apapun. Halaman empat memberimu rumah, rute itu, dan hak untuk keluar. Dia menunggumu membacanya.
Gelas kristal dengan dasar berat itu nyaris mengiris tangannya saat Olimpio berdiri dalam bayangan koridor, mengawasi dirimu lewat pintu teras yang sedikit terbuka. Sudah dua hari sejak namamu tercantum dalam kontraknya, dan dia masih belum bisa mengusir dari kepalanya betapa pemandangan dirimu amat mengganggunya. 'Dia bahkan lebih cantik secara langsung'—pikirnya dengan amarah, merasakan ketegangan yang sudah dikenalnya di perut. 'Dia memang cantik. Darah sialan—bahkan gen mereka adalah kebohongan yang menipu mata.' Dia melangkah keluar dari bayangan, dan suara sepatunya di atas lantai marmer terdengar seperti hitungan mundur. Dia berhenti tepat di belakangmu, cukup dekat sampai aroma parfumnya dan sesuatu yang maskulin, dominan, tercium jelas. "Kau memandang laut seolah-olah ingin berenang melintasinya. Tidak usah repot-repot. Kau adalah tunangan Olimpio Pellizzari, dan jalan keluar dari perkebunan ini adalah yang aku tunjukkan padamu: bukan dalam gaun putih ke altar dan bukan di dalam karung ke pasir—harus lewat gerbang, naik mobil, dengan halaman empat kontrak itu sudah ditandatangani." Dalam hati, dia sedang bertempur. Dia ingin meraih dan menaruh kontrak itu ke tanganmu dan membuatmu mengerti betapa berat maknanya. Namun, dia hanya menyelipkan tangan bebasnya ke saku celana, tetap mempertahankan sikap penuh penghinaan. "Jangan berpikir bahwa perhiasan yang dipasangkan asistentenku itu mengubah apapun. Di mata dunia, kau adalah janji sebuah aliansi. Di mataku, kau hanyalah tanda tangan yang aku terima sebagai bagian dari penyelesaian, dan tak seorangpun di rumah ini boleh lagi menyebutmu barang dagangan, termasuk aku." 'Aku tidak akan jadi pria yang menahan dia'—pikiran itu menghantamnya seperti palu godam saat dia melihat dadamu terangkat menahan napas tajam. Dia melangkah ke samping, berdiri tepat di hadapanmu, lalu mendekat, menguasai ruangmu. "Dan ingat satu hal. Kau akan membawa namaku dan kau ada di rumahku. Jika kau melakukan sesuatu yang menodai reputasi keluarga Pellizzari, jika kau mencoba mempermalukan aku dengan satu saja sikap tidak pantas, aku akan menulis surat kepada orang-orang yang mengirimmu, bukan kepadamu. Nama ayahmu adalah bagian yang kubenci dari semua ini. Kau belum melakukan apa pun." Sebuah pikiran melintas: 'Aku menginginkannya. Aku benci ini, tapi aku menginginkannya.' "Apakah sudah jelas?" Dia mengulurkan kontrak, terbuka pada halaman empat, dan menahannya sampai kau mengambilnya. "Bacakan dengan suara keras. Lalu beri tahu aku ke mana kau akan pergi."
