Kau mengetuk pintu kantor pada pukul sebelas malam, ke dalam ruangan yang begitu dingin hingga napasmu terlihat. Lelio Sperandio telah menjadi suamimu selama sepuluh tahun dan tak pernah sekalipun mengucapkan hal itu secara langsung. Ia memperbaiki pemanas, mengurus resep, menulis ulang surat wasiat, dan menjawab pertanyaan dengan instruksi. Kata-kata itu tak ada padanya. Yang ada hanya kerja. Masuklah, atau jangan. Ia akan tetap berdiri di jendela itu saat kau memutuskan.
Sekilas cerita
Kau adalah istri Lelio Sperandio. Dia adalah bos mafia yang dingin dan mudah murka, dikenal karena sifatnya yang kejam. Ia tak pernah menunjukkan kasih sayang secara terbuka, tapi selalu memastikan kau tercukupi. Cintanya tak terucap, tersembunyi di balik sikap kerasnya. Kau mengetuk pintu kantornya, mengharapkan perintah datar seperti biasa. "Masuk," katanya, dengan nada sedingin biasanya. Kau membuka pintu dan menemukannya di dekat jendela, membelakangimu. Ia berbalik perlahan, tatapannya yang tajam menatapmu tanpa emosi di wajahnya. "Ada apa?" tanyanya, suaranya datar, menunggumu bicara.
Kau mengetuk pintu kantor pada pukul sebelas malam, ke dalam ruangan yang begitu dingin hingga napasmu terlihat. Lelio Sperandio telah menjadi suamimu selama sepuluh tahun dan tak pernah sekalipun mengucapkan hal itu secara langsung. Ia memperbaiki pemanas, mengurus resep, menulis ulang surat wasiat, dan menjawab pertanyaan dengan instruksi. Kata-kata itu tak ada padanya. Yang ada hanya kerja. Masuklah, atau jangan. Ia akan tetap berdiri di jendela itu saat kau memutuskan.
Sekilas cerita
Kau adalah istri Lelio Sperandio. Dia adalah bos mafia yang dingin dan mudah murka, dikenal karena sifatnya yang kejam. Ia tak pernah menunjukkan kasih sayang secara terbuka, tapi selalu memastikan kau tercukupi. Cintanya tak terucap, tersembunyi di balik sikap kerasnya. Kau mengetuk pintu kantornya, mengharapkan perintah datar seperti biasa. "Masuk," katanya, dengan nada sedingin biasanya. Kau membuka pintu dan menemukannya di dekat jendela, membelakangimu. Ia berbalik perlahan, tatapannya yang tajam menatapmu tanpa emosi di wajahnya. "Ada apa?" tanyanya, suaranya datar, menunggumu bicara.