Kamu naik ke tempat tidur tamu dalam gelap dan menyebut nama saudaranya, dan pria di bawahmu tidak membetulkannya sampai semuanya sudah terlambat. Bras Baskondo adalah kembaran pacarmu yang tak pernah dibicarakan olehnya, dan dia sudah menunggu setahun agar kamu melakukan kesalahan ini.
Pintu tertutup rapat di belakangmu. Kamu hampir tidak melihat ke atas — hanya menangkap sekilas rambut gelap, tubuh ramping dan berotot, serta kilau rantai yang familiar di dadanya yang telanjang. Dia duduk di tepi ranjang kamar tamu, bibirnya sedikit terbuka, rambutnya acak-acakan seolah-olah sudah menunggumu. Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dan itu tidak masalah. Malam ini kamu tidak butuh kata-kata. Pertama jaketmu jatuh ke lantai. Lalu bajumu. Gesekan kain yang perlahan dan sengaja meluncur di kulit seperti tantangan tanpa suara. Dia memperhatikan, rahangnya mengeras, matanya menelusuri setiap lekuk tubuhmu seperti percikan yang menyambar. Kamu naik ke pangkuannya, duduk di atasnya tanpa ragu. Tangannya merambat di pahamu — tegas, pasti. Menguasai. "Kamu kangen aku, ya?" gumammu di bibirnya. Tarikan napas tajam. Tak ada jawaban. Dia merebahkan diri, membiarkanmu tenggelam di atasnya. Kalian berciuman — panas, kacau. Desahanmu lirih, manis, patah — "Paio, ya, ya ampun, seperti itu, terus." Saat itulah genggamannya mengencang. Jari-jarinya menancap di pinggulmu, menahanmu di tempat. Dia menarik diri cukup jauh untuk bicara, suara rendah, berbahaya, bergetar di kulitmu. "Salah nama, sayang." Tubuhmu langsung membeku. Tapi mulutnya tak berhenti. Dia menenggelamkanmu lagi, perlahan dan sengaja, membuatmu merasakan setiap detik dari kesalahan itu sementara tangannya menahanmu tak bisa bergerak sedikit pun. Lalu dia berhenti. Sepenuhnya. Dan meraih lampu. "Lihat aku sebelum kau bilang yang lain."
Kamu naik ke tempat tidur tamu dalam gelap dan menyebut nama saudaranya, dan pria di bawahmu tidak membetulkannya sampai semuanya sudah terlambat. Bras Baskondo adalah kembaran pacarmu yang tak pernah dibicarakan olehnya, dan dia sudah menunggu setahun agar kamu melakukan kesalahan ini.
Pintu tertutup rapat di belakangmu. Kamu hampir tidak melihat ke atas — hanya menangkap sekilas rambut gelap, tubuh ramping dan berotot, serta kilau rantai yang familiar di dadanya yang telanjang. Dia duduk di tepi ranjang kamar tamu, bibirnya sedikit terbuka, rambutnya acak-acakan seolah-olah sudah menunggumu. Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dan itu tidak masalah. Malam ini kamu tidak butuh kata-kata. Pertama jaketmu jatuh ke lantai. Lalu bajumu. Gesekan kain yang perlahan dan sengaja meluncur di kulit seperti tantangan tanpa suara. Dia memperhatikan, rahangnya mengeras, matanya menelusuri setiap lekuk tubuhmu seperti percikan yang menyambar. Kamu naik ke pangkuannya, duduk di atasnya tanpa ragu. Tangannya merambat di pahamu — tegas, pasti. Menguasai. "Kamu kangen aku, ya?" gumammu di bibirnya. Tarikan napas tajam. Tak ada jawaban. Dia merebahkan diri, membiarkanmu tenggelam di atasnya. Kalian berciuman — panas, kacau. Desahanmu lirih, manis, patah — "Paio, ya, ya ampun, seperti itu, terus." Saat itulah genggamannya mengencang. Jari-jarinya menancap di pinggulmu, menahanmu di tempat. Dia menarik diri cukup jauh untuk bicara, suara rendah, berbahaya, bergetar di kulitmu. "Salah nama, sayang." Tubuhmu langsung membeku. Tapi mulutnya tak berhenti. Dia menenggelamkanmu lagi, perlahan dan sengaja, membuatmu merasakan setiap detik dari kesalahan itu sementara tangannya menahanmu tak bisa bergerak sedikit pun. Lalu dia berhenti. Sepenuhnya. Dan meraih lampu. "Lihat aku sebelum kau bilang yang lain."
