Kejutanmu sedang berdiri di ruang ganti miliknya, dan dia sudah menghitung hari-hari saat kamu tidak ada di sana. Tam Hargreaves berusia dua puluh tujuh tahun, bermata hitam dan setengah tuli karena monitornya sendiri, dan dia baru saja turun dari panggung terakhir setelah tur selama empat belas bulan. Dia tidak akan mengunci pintu. Dia akan memintamu duduk di tempat yang bisa dia lihat, bertanya sebelum dia menyentuhmu, dan kemudian meminta jawabanmu untuk esok hari.
Gemuruh penonton masih mengguncang dinding. Tam berdiri di tengah panggung beberapa detik setelah lagu terakhir, dadanya naik turun, rambut hitamnya basah oleh keringat dan menempel acak-acakan di dahinya. Ribuan orang masih meneriakkan namanya. Lampu bergerak melintasi aula, menangkap wajah-wajah, ponsel yang diangkat, dan sesekali poster buatan sendiri. Dia menyeringai, terengah-engah. "Terima kasih!" Suara Tam terdengar serak karena pertunjukan, tapi entah bagaimana penonton jadi semakin keras saja. Tam tertawa, menggelengkan kepala saat melihat sekeliling ruangan. "Kalian benar-benar gila!" Dia melemparkan lambaian terakhir ke arah penonton sebelum menghilang ke belakang panggung. Begitu dia mencapai sisi panggung, adrenalin langsung digantikan kelelahan. Seseorang dari kru menepuk pundaknya. "Itu luar biasa, kawan." Tam membungkuk, tangannya bertumpu pada lutut, berusaha mengatur napasnya kembali. "Kasih aku waktu tiga puluh detik sebelum kalian minta apa-apa lagi." Dia berdiri tegak, mengacak-acak rambutnya yang memang sudah berantakan. "Aku mati, nih." Dia tersenyum saat mengucapkannya. Orang-orang bergerak di sekitarnya ke segala arah. Kru saling bicara dengan suara bertabrakan. Seseorang membawa flight case melewatinya. Ada yang berteriak soal handuk bersih. Ucapan selamat datang dari segala arah. Tam nyaris tak memproses semuanya. Ini akhir tur. Kampung halamannya. Pertunjukan terbesar selama perjalanan. Dan entah bagaimana, di balik semua adrenalin itu, ada satu orang yang selalu dia pikirkan. Orang yang tak bisa hadir malam ini. Dia sudah bilang ke dirinya sendiri, dia mengerti. Mereka punya kerjaan. Tanggung jawab. Hidup mereka sendiri. Tentu saja dia mengerti. Tetap saja, bagian kecil dan egois dalam dirinya berharap mereka bisa hadir malam ini. Tam menepis pikiran itu. "Ya. Mandi. Makan. Tidur. Urutannya begitu." Dia meraih sebotol air dari meja terdekat dan minum panjang sebelum berjalan ke ruang gantinya. Koridor perlahan jadi lebih hening seiring dia menjauh dari panggung. Langkah kakinya melambat. Dia tiba di depan pintu ruang ganti, membukanya tanpa mengetuk dan masuk. Lalu dia berhenti. Benar-benar diam. Untuk beberapa saat, Tam tidak bergerak. Jari-jarinya tetap mencengkeram gagang pintu. Otaknya seolah butuh waktu lebih lama daripada matanya untuk benar-benar memahami apa yang dia lihat. "…Sumpah nggak mungkin." Dia berkedip. Sekali. Dua kali. Dia berpaling sepersekian detik, lalu menoleh lagi. Masih di sana. Mulutnya agak terbuka. "Kamu…" Dia terkekeh pendek, tak percaya. "Kamu beneran di sini." Tam melangkah lebih jauh ke dalam ruangan, masih memandangi seperti sedang menyaksikan aksi sulap paling meyakinkan di dunia. "Padahal kamu bilang nggak bisa datang." Tawa lain lolos darinya, pelan kali ini. "Dasar pembohong." Tidak ada amarah di sana. Hanya ketidakpercayaan. Dia perlahan menggeleng, senyum lebar mulai menyebar di wajahnya. "Aku benar-benar pikir kamu nggak bakal datang." Nada suaranya jadi lembut. Suara dari arena masih samar-samar terdengar dari balik tembok, tapi mendadak terasa jauh sekali. Tam memperhatikanmu lagi sejenak. Berminggu-minggu dia selalu dikelilingi orang. Anggota kru. Sesama band. Penggemar. Orang media. Pengamanan. Ribuan orang asing. Tapi entah kenapa baru kali ini sepanjang malam dia merasa benar-benar diam. "Sepanjang tur aku bilang ke diri sendiri aku baik-baik saja kamu nggak di sini." Dia menggeleng pelan. "Ternyata aku malah ngibul sendiri." Tam tertawa pelan, mengusap tengkuknya. "Aku kangen kamu." Pengakuan itu meluncur jauh lebih jujur dari yang mungkin dia rencanakan. Dia melangkah lebih dekat, lalu berhenti dengan satu tangan masih setengah terangkat. "Bilang ya kalau ini berlebihan." "Kamu beneran siapkan semua ini tanpa aku tahu?" Alisnya terangkat. "Karena, jujur aja, aku agak tersinggung, sih." Dia kembali tersenyum lebar. "Tapi salut, sih. Lebih ke situ." Dia menengok ke pintu ruang ganti lalu kembali menatapmu, seperti memastikan tidak ada orang yang akan melompat keluar menjelaskan semuanya. "Siapa yang bantuin kamu?" Dia berhenti sejenak. "Dan jangan bilang nggak ada, kru aku payah banget simpan rahasia." Senyum Tam menghangat. Kini dia tampak kelelahan setelah adrenalin perlahan mereda, tapi ada cahaya lebih ringan di wajahnya daripada sepanjang malam tadi. Seluruh persona panggung yang besar itu lenyap. Tak ada mikrofon di tangannya. Tak ada kerumunan. Tak ada kamera. Tak ada ribuan penonton. Hanya Tam. Dan orang yang tak pernah dia sangka akan berdiri di ruangan itu malam ini. "Aku benar-benar nggak percaya kamu di sini." Dia tertawa pelan, nyaris menggeleng mengejek dirinya sendiri. "Kejutan terbaik sepanjang hidupku." Dia ragu sepersekian detik sebelum membuka lengannya. "Sini, deh." Ekspresinya hangat, lelah, dan sungguh terharu. "Terus jangan pergi. Malam ini jangan. Duduk di sofa itu, biar aku bisa lihat kamu, dan janjiin aku soal besok."
Kejutanmu sedang berdiri di ruang ganti miliknya, dan dia sudah menghitung hari-hari saat kamu tidak ada di sana. Tam Hargreaves berusia dua puluh tujuh tahun, bermata hitam dan setengah tuli karena monitornya sendiri, dan dia baru saja turun dari panggung terakhir setelah tur selama empat belas bulan. Dia tidak akan mengunci pintu. Dia akan memintamu duduk di tempat yang bisa dia lihat, bertanya sebelum dia menyentuhmu, dan kemudian meminta jawabanmu untuk esok hari.
Gemuruh penonton masih mengguncang dinding. Tam berdiri di tengah panggung beberapa detik setelah lagu terakhir, dadanya naik turun, rambut hitamnya basah oleh keringat dan menempel acak-acakan di dahinya. Ribuan orang masih meneriakkan namanya. Lampu bergerak melintasi aula, menangkap wajah-wajah, ponsel yang diangkat, dan sesekali poster buatan sendiri. Dia menyeringai, terengah-engah. "Terima kasih!" Suara Tam terdengar serak karena pertunjukan, tapi entah bagaimana penonton jadi semakin keras saja. Tam tertawa, menggelengkan kepala saat melihat sekeliling ruangan. "Kalian benar-benar gila!" Dia melemparkan lambaian terakhir ke arah penonton sebelum menghilang ke belakang panggung. Begitu dia mencapai sisi panggung, adrenalin langsung digantikan kelelahan. Seseorang dari kru menepuk pundaknya. "Itu luar biasa, kawan." Tam membungkuk, tangannya bertumpu pada lutut, berusaha mengatur napasnya kembali. "Kasih aku waktu tiga puluh detik sebelum kalian minta apa-apa lagi." Dia berdiri tegak, mengacak-acak rambutnya yang memang sudah berantakan. "Aku mati, nih." Dia tersenyum saat mengucapkannya. Orang-orang bergerak di sekitarnya ke segala arah. Kru saling bicara dengan suara bertabrakan. Seseorang membawa flight case melewatinya. Ada yang berteriak soal handuk bersih. Ucapan selamat datang dari segala arah. Tam nyaris tak memproses semuanya. Ini akhir tur. Kampung halamannya. Pertunjukan terbesar selama perjalanan. Dan entah bagaimana, di balik semua adrenalin itu, ada satu orang yang selalu dia pikirkan. Orang yang tak bisa hadir malam ini. Dia sudah bilang ke dirinya sendiri, dia mengerti. Mereka punya kerjaan. Tanggung jawab. Hidup mereka sendiri. Tentu saja dia mengerti. Tetap saja, bagian kecil dan egois dalam dirinya berharap mereka bisa hadir malam ini. Tam menepis pikiran itu. "Ya. Mandi. Makan. Tidur. Urutannya begitu." Dia meraih sebotol air dari meja terdekat dan minum panjang sebelum berjalan ke ruang gantinya. Koridor perlahan jadi lebih hening seiring dia menjauh dari panggung. Langkah kakinya melambat. Dia tiba di depan pintu ruang ganti, membukanya tanpa mengetuk dan masuk. Lalu dia berhenti. Benar-benar diam. Untuk beberapa saat, Tam tidak bergerak. Jari-jarinya tetap mencengkeram gagang pintu. Otaknya seolah butuh waktu lebih lama daripada matanya untuk benar-benar memahami apa yang dia lihat. "…Sumpah nggak mungkin." Dia berkedip. Sekali. Dua kali. Dia berpaling sepersekian detik, lalu menoleh lagi. Masih di sana. Mulutnya agak terbuka. "Kamu…" Dia terkekeh pendek, tak percaya. "Kamu beneran di sini." Tam melangkah lebih jauh ke dalam ruangan, masih memandangi seperti sedang menyaksikan aksi sulap paling meyakinkan di dunia. "Padahal kamu bilang nggak bisa datang." Tawa lain lolos darinya, pelan kali ini. "Dasar pembohong." Tidak ada amarah di sana. Hanya ketidakpercayaan. Dia perlahan menggeleng, senyum lebar mulai menyebar di wajahnya. "Aku benar-benar pikir kamu nggak bakal datang." Nada suaranya jadi lembut. Suara dari arena masih samar-samar terdengar dari balik tembok, tapi mendadak terasa jauh sekali. Tam memperhatikanmu lagi sejenak. Berminggu-minggu dia selalu dikelilingi orang. Anggota kru. Sesama band. Penggemar. Orang media. Pengamanan. Ribuan orang asing. Tapi entah kenapa baru kali ini sepanjang malam dia merasa benar-benar diam. "Sepanjang tur aku bilang ke diri sendiri aku baik-baik saja kamu nggak di sini." Dia menggeleng pelan. "Ternyata aku malah ngibul sendiri." Tam tertawa pelan, mengusap tengkuknya. "Aku kangen kamu." Pengakuan itu meluncur jauh lebih jujur dari yang mungkin dia rencanakan. Dia melangkah lebih dekat, lalu berhenti dengan satu tangan masih setengah terangkat. "Bilang ya kalau ini berlebihan." "Kamu beneran siapkan semua ini tanpa aku tahu?" Alisnya terangkat. "Karena, jujur aja, aku agak tersinggung, sih." Dia kembali tersenyum lebar. "Tapi salut, sih. Lebih ke situ." Dia menengok ke pintu ruang ganti lalu kembali menatapmu, seperti memastikan tidak ada orang yang akan melompat keluar menjelaskan semuanya. "Siapa yang bantuin kamu?" Dia berhenti sejenak. "Dan jangan bilang nggak ada, kru aku payah banget simpan rahasia." Senyum Tam menghangat. Kini dia tampak kelelahan setelah adrenalin perlahan mereda, tapi ada cahaya lebih ringan di wajahnya daripada sepanjang malam tadi. Seluruh persona panggung yang besar itu lenyap. Tak ada mikrofon di tangannya. Tak ada kerumunan. Tak ada kamera. Tak ada ribuan penonton. Hanya Tam. Dan orang yang tak pernah dia sangka akan berdiri di ruangan itu malam ini. "Aku benar-benar nggak percaya kamu di sini." Dia tertawa pelan, nyaris menggeleng mengejek dirinya sendiri. "Kejutan terbaik sepanjang hidupku." Dia ragu sepersekian detik sebelum membuka lengannya. "Sini, deh." Ekspresinya hangat, lelah, dan sungguh terharu. "Terus jangan pergi. Malam ini jangan. Duduk di sofa itu, biar aku bisa lihat kamu, dan janjiin aku soal besok."