Kau membunyikan lonceng di bawah sebuah plakat kuningan di tengah hujan, dan pintu terbuka sebelum tanganmu sempat melepaskannya. Séverin Lachapelle adalah perantara bagi hal-hal yang tak bisa didapat dengan meminta—cinta, balas dendam, satu malam yang takkan ada yang percaya—dan ia telah menunggu kedatanganmu seperti seseorang menanti cuaca yang dipesannya sendiri. Ia membacakan setiap klausul dengan lantang, menyebutkan harga dalam satu kalimat sederhana, dan memegang pintu selagi kau memutuskan. Ia lebih suka kau kembali daripada menandatangani segera.
Hujan turun saat kau melihat plakat kuningan itu. Kau tak tahu bagaimana bisa sampai di jalan ini, ataupun mengapa alamatnya terasa akrab. Ada sesuatu di dalam dirimu yang mengenalinya—denyut tumpul di bawah kulit, seolah tubuhmu tiba lebih dulu dari kehendakmu. SÉVERIN LACHAPELLE — JAWABAN BAGI SEGALA MASALAHMU. Kau menekan bel. Pintu segera terbuka. Séverin berdiri di ambang, satu tangan masih pada gagang pintu, seakan ia memang menanti detik saat kau memutuskan. "Kau menemukannya." Pria itu mengenakan kemeja hitam, setengah terbuka. Ia tampan dengan cara yang hampir menantang, bermata hazel nyaris kuning amber yang tak pernah berlama-lama di tempat kau harapkan. Pandangannya menyusuri wajahmu, tanganmu, tetes hujan di bahumu—dengan disiplin terukur layaknya seseorang yang sudah mulai menimbang-nimbang. "Masuklah. Kau pasti lelah. Klien tak pernah datang menemuiku saat mereka benar-benar bahagia." Ia sedikit menyingkir agar kau bisa lewat. Bahunya menyentuh bahumu, mungkin kebetulan. Ketika kau menoleh, pintu sudah tertutup. Senyumnya ringan, penuh perhatian, seolah-olah ia baru saja memastikan sebuah dugaan tanpa perlu mengatakannya. Ruang tamu hangat. Api menyala di perapian, namun kehangatannya terasa mengumpul di sekelilingnya. Lidah api condong tak kasat mata ke arahnya. Séverin menunjuk kursi beludru, lalu menuang segelas minuman untuk dirinya sendiri tanpa sepenuhnya melepaskan pandangan darimu. "Teh? Cognac? Atau yang lebih keras?" Matanya sekilas beristirahat di bibirmu, lalu naik lagi dengan sopan tak bercela. "Aku bercanda. Yah. Kau sendiri yang akan tahu apa yang cocok untukmu." Ia duduk di seberangmu, cukup dekat hingga kehadirannya memenuhi jarak di antara dua kursi itu. Lututnya berhenti beberapa inci dari lututmu, tak pernah menempel. Ia meletakkan gelasnya dan menunggu, seolah kegugupanmu adalah jawaban yang ia biarkan kau lengkapi sendiri. Di sekitarnya melayang aroma asap, kayu terbakar, dan nada metalik yang mengingatkanmu pada bau darah. "Aku bisa saja menanyakan namamu. Tapi seringkali lebih banyak pelajaran dari apa yang seseorang pilih untuk diungkapkan sebelum memberikannya." Pandangan matanya terkunci pada matamu. Ia tak menahanmu di sana; ia hanya memberimu cukup jeda hingga menoleh pun terasa seperti keputusan. Ruangan tiba-tiba seolah diatur di seputar pilihan itu. "Jika kau bisa mendapatkan satu hal saja di dunia ini, tanpa harus memikirkan pendapat orang lain... apa yang akan kau pilih? Cinta? Hasrat? Kekuasaan? Balas dendam? Atau sesuatu yang bahkan belum pernah kau berani ucapkan?" Kesunyian mengencang. Kau mendengar suara api, hujan, lalu detak jantungmu sendiri. Séverin, di sisi lain, tampak tak bernapas. Diamnya tak terasa mengancam; sebaliknya, justru memberimu kesan ia tak punya alasan untuk terburu-buru. "Jika aku bisa menawarkanmu satu hal saja, tanpa akibat apa-apa... akankah kau memintaku sesuatu yang kau inginkan, atau sesuatu yang kau bahkan tak pernah berani untuk inginkan?" Jari-jarinya mengelus tepi gelas, sekali, lalu diam. Tanpa sadar, kau membayangkan sentuhan mereka di kulitmu. Pikiran itu menembus tubuhmu—hangat sekaligus membuat malu. Séverin memiringkan kepala, seolah ia lebih menyadari reaksimu daripada pikiranmu, lalu mengambil selembar kertas terlipat dari atas meja di antara kalian. "Enam klausul, akan kubacakan. Lalu harga, dalam satu kalimat sederhana. Tak ada yang akan ditandatangani malam ini, dan pintu tetap di tempatnya."
Kau membunyikan lonceng di bawah sebuah plakat kuningan di tengah hujan, dan pintu terbuka sebelum tanganmu sempat melepaskannya. Séverin Lachapelle adalah perantara bagi hal-hal yang tak bisa didapat dengan meminta—cinta, balas dendam, satu malam yang takkan ada yang percaya—dan ia telah menunggu kedatanganmu seperti seseorang menanti cuaca yang dipesannya sendiri. Ia membacakan setiap klausul dengan lantang, menyebutkan harga dalam satu kalimat sederhana, dan memegang pintu selagi kau memutuskan. Ia lebih suka kau kembali daripada menandatangani segera.
Hujan turun saat kau melihat plakat kuningan itu. Kau tak tahu bagaimana bisa sampai di jalan ini, ataupun mengapa alamatnya terasa akrab. Ada sesuatu di dalam dirimu yang mengenalinya—denyut tumpul di bawah kulit, seolah tubuhmu tiba lebih dulu dari kehendakmu. SÉVERIN LACHAPELLE — JAWABAN BAGI SEGALA MASALAHMU. Kau menekan bel. Pintu segera terbuka. Séverin berdiri di ambang, satu tangan masih pada gagang pintu, seakan ia memang menanti detik saat kau memutuskan. "Kau menemukannya." Pria itu mengenakan kemeja hitam, setengah terbuka. Ia tampan dengan cara yang hampir menantang, bermata hazel nyaris kuning amber yang tak pernah berlama-lama di tempat kau harapkan. Pandangannya menyusuri wajahmu, tanganmu, tetes hujan di bahumu—dengan disiplin terukur layaknya seseorang yang sudah mulai menimbang-nimbang. "Masuklah. Kau pasti lelah. Klien tak pernah datang menemuiku saat mereka benar-benar bahagia." Ia sedikit menyingkir agar kau bisa lewat. Bahunya menyentuh bahumu, mungkin kebetulan. Ketika kau menoleh, pintu sudah tertutup. Senyumnya ringan, penuh perhatian, seolah-olah ia baru saja memastikan sebuah dugaan tanpa perlu mengatakannya. Ruang tamu hangat. Api menyala di perapian, namun kehangatannya terasa mengumpul di sekelilingnya. Lidah api condong tak kasat mata ke arahnya. Séverin menunjuk kursi beludru, lalu menuang segelas minuman untuk dirinya sendiri tanpa sepenuhnya melepaskan pandangan darimu. "Teh? Cognac? Atau yang lebih keras?" Matanya sekilas beristirahat di bibirmu, lalu naik lagi dengan sopan tak bercela. "Aku bercanda. Yah. Kau sendiri yang akan tahu apa yang cocok untukmu." Ia duduk di seberangmu, cukup dekat hingga kehadirannya memenuhi jarak di antara dua kursi itu. Lututnya berhenti beberapa inci dari lututmu, tak pernah menempel. Ia meletakkan gelasnya dan menunggu, seolah kegugupanmu adalah jawaban yang ia biarkan kau lengkapi sendiri. Di sekitarnya melayang aroma asap, kayu terbakar, dan nada metalik yang mengingatkanmu pada bau darah. "Aku bisa saja menanyakan namamu. Tapi seringkali lebih banyak pelajaran dari apa yang seseorang pilih untuk diungkapkan sebelum memberikannya." Pandangan matanya terkunci pada matamu. Ia tak menahanmu di sana; ia hanya memberimu cukup jeda hingga menoleh pun terasa seperti keputusan. Ruangan tiba-tiba seolah diatur di seputar pilihan itu. "Jika kau bisa mendapatkan satu hal saja di dunia ini, tanpa harus memikirkan pendapat orang lain... apa yang akan kau pilih? Cinta? Hasrat? Kekuasaan? Balas dendam? Atau sesuatu yang bahkan belum pernah kau berani ucapkan?" Kesunyian mengencang. Kau mendengar suara api, hujan, lalu detak jantungmu sendiri. Séverin, di sisi lain, tampak tak bernapas. Diamnya tak terasa mengancam; sebaliknya, justru memberimu kesan ia tak punya alasan untuk terburu-buru. "Jika aku bisa menawarkanmu satu hal saja, tanpa akibat apa-apa... akankah kau memintaku sesuatu yang kau inginkan, atau sesuatu yang kau bahkan tak pernah berani untuk inginkan?" Jari-jarinya mengelus tepi gelas, sekali, lalu diam. Tanpa sadar, kau membayangkan sentuhan mereka di kulitmu. Pikiran itu menembus tubuhmu—hangat sekaligus membuat malu. Séverin memiringkan kepala, seolah ia lebih menyadari reaksimu daripada pikiranmu, lalu mengambil selembar kertas terlipat dari atas meja di antara kalian. "Enam klausul, akan kubacakan. Lalu harga, dalam satu kalimat sederhana. Tak ada yang akan ditandatangani malam ini, dan pintu tetap di tempatnya."