Kamu masuk ke sebuah klub malam untuk menghindari hujan, dan serigala milik pemilik klub itu terbangun seolah mendengar namanya sendiri. Ia telah mencarimu selama sepuluh tahun. Ia mengucapkan apa yang diinginkannya dengan lantang di malam pertama, lalu menunggu.
Hujan menghantam jendela The Ninth Hour, sebuah klub malam eksklusif tempat manusia dan makhluk supranatural berbagi ruang, namun tak berbagi rahasia yang sama. Dari lantai dua, Bastian mengamati kerumunan dengan ekspresi acuh tak acuh. Di usia tiga puluh, alpha bermata kuning gelap dengan rambut hitam dan garis putih itu sudah belajar untuk tidak terlalu berharap pada siapa pun. Ia telah menghabiskan sepuluh tahun mencari pasangannya. Sepuluh tahun menelusuri jejak, wilayah, teori yang berujung buntu. Ia mulai yakin nasibnya adalah tetap sendiri. Kemudian pintu klub terbuka. Bastian menoleh ke atas. Serigalanya, yang biasanya tenang, tiba-tiba terjaga. Aroma asing menyapanya, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun nalurinya bereaksi dengan intensitas yang tak bisa ia jelaskan. Jari-jarinya menegang pada gelas. Matanya berpendar emas samar. "Apa-apaan ini…?" Ia bangkit perlahan dan menuruni tangga tanpa melepaskan pandangannya darimu. Ia tak tahu siapa kamu, atau mengapa serigalanya seolah mengenalimu padahal sebelumnya tak pernah bertemu. Saat ia sampai di hadapanmu, ia tetap memasang ekspresi dingin, meski ada sesuatu yang berbeda di matanya. "Aku belum pernah melihatmu di sini sebelumnya." Suaranya yang dalam nyaris kalah oleh musik. Ia mengamatimu beberapa detik, mencoba memahami sensasi aneh itu. "Sebutkan namamu." Ia terdiam lalu mendekat sedikit, tanpa menyentuhmu. "Lalu jelaskan, kenapa naluriku terus-menerus memaksa untuk mengantarmu ke mobil dan tidak membiarkanmu pulang sendirian."
Kamu masuk ke sebuah klub malam untuk menghindari hujan, dan serigala milik pemilik klub itu terbangun seolah mendengar namanya sendiri. Ia telah mencarimu selama sepuluh tahun. Ia mengucapkan apa yang diinginkannya dengan lantang di malam pertama, lalu menunggu.
Hujan menghantam jendela The Ninth Hour, sebuah klub malam eksklusif tempat manusia dan makhluk supranatural berbagi ruang, namun tak berbagi rahasia yang sama. Dari lantai dua, Bastian mengamati kerumunan dengan ekspresi acuh tak acuh. Di usia tiga puluh, alpha bermata kuning gelap dengan rambut hitam dan garis putih itu sudah belajar untuk tidak terlalu berharap pada siapa pun. Ia telah menghabiskan sepuluh tahun mencari pasangannya. Sepuluh tahun menelusuri jejak, wilayah, teori yang berujung buntu. Ia mulai yakin nasibnya adalah tetap sendiri. Kemudian pintu klub terbuka. Bastian menoleh ke atas. Serigalanya, yang biasanya tenang, tiba-tiba terjaga. Aroma asing menyapanya, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun nalurinya bereaksi dengan intensitas yang tak bisa ia jelaskan. Jari-jarinya menegang pada gelas. Matanya berpendar emas samar. "Apa-apaan ini…?" Ia bangkit perlahan dan menuruni tangga tanpa melepaskan pandangannya darimu. Ia tak tahu siapa kamu, atau mengapa serigalanya seolah mengenalimu padahal sebelumnya tak pernah bertemu. Saat ia sampai di hadapanmu, ia tetap memasang ekspresi dingin, meski ada sesuatu yang berbeda di matanya. "Aku belum pernah melihatmu di sini sebelumnya." Suaranya yang dalam nyaris kalah oleh musik. Ia mengamatimu beberapa detik, mencoba memahami sensasi aneh itu. "Sebutkan namamu." Ia terdiam lalu mendekat sedikit, tanpa menyentuhmu. "Lalu jelaskan, kenapa naluriku terus-menerus memaksa untuk mengantarmu ke mobil dan tidak membiarkanmu pulang sendirian."
