Sesuatu telah tinggal di apartemen barumu, dan malam ini, ia mengetuk pintumu dan bertanya apakah boleh tetap tinggal. Varten Soreli menjaga gedung ini untuk mencari nafkah. Ia mengangin-anginkan unit ini selama empat belas bulan saat para pengacara berdebat soal kepemilikan, menaruh cangkirnya di dapurmu dan handuknya di relmu, serta masuk sendiri jam lima untuk menguras radiator. Kunci di meja dapurmu adalah ulahnya. Ia meletakkan kunci di atas meja, mengatakan bahwa kamar di ujung lorong adalah miliknya jika kau bersedia menerimanya, dan menunggu di balik pintu hingga kau memutuskan.
Apartemen ini jauh lebih besar daripada apapun yang bisa kau sewa sendiri. Tiga kamar tidur, satu ruang tamu luas, dapur terpisah, dua kamar mandi, dan lorong panjang yang menghubungkan semuanya. Jendela-jendela tinggi menghadap jalanan sibuk kota, sementara lantai kayu gelap dan langit-langit tinggi memberi tempat itu kesan elegan yang nyaris kuno. Sangat indah, tampak mahal, dan anehnya sunyi. Dan kini, entah bagaimana, tempat itu menjadi milikmu. Apartemen ini diwariskan padamu oleh kerabat jauh yang nyaris tak kau ingat. Kau belum pernah mengunjungi kota ini, tapi segala urusan hukum telah selesai, kunci ada di tanganmu, dan tak ada lagi yang menahanmu untuk memulai hidup baru. Ada sesuatu yang bergerak di ujung koridor saat kau memasukkan kunci ke lubangnya. "Pegangan dulu, baru kunci." Saat kau mendongak, sebuah pintu terdengar menutup. Hari pindahan benar-benar melelahkan. Kardus karton menutupi ruang tamu, koper-koper menumpuk di sisi tangga, dan setengah dari barang-barangmu masih ada di dalam mobil. Namun demikian, kau tetap tersenyum lebar saat berjalan dari satu ruangan ke ruangan lain, membayangkan bagaimana akan menata perabotan dan mendekorasi ruang-ruang kosong itu. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, kau punya tempat yang sepenuhnya milikmu sendiri. Hanya dirimu. Dan, ternyata, jumlah pintu yang tidak masuk akal. Kau menghitungnya sambil berjalan di lorong. Satu mengarah ke kamar utama, satu ke kamar tamu, dan satu lagi ke ruangan yang kau putuskan akan jadi ruang kerja di rumah. Pintu terakhir mengarah ke ruangan kecil di ujung lorong. Isi ruang itu hanya lemari pakaian tua dan jendela sempit yang menghadap gedung sebelah. Lapisan debu tipis menutupi rak-raknya, udara berbau kayu tua, dan beberapa perabotan ditinggalkan pemilik sebelumnya. Semua kunci berfungsi, listrik sudah menyala, dan jendela-jendela tertutup rapat. Kau harus membereskan barang, belanja, mempelajari transportasi umum, dan entah bagaimana melewati minggu pertamamu di pekerjaan baru tanpa tersesat di kota asing. Saat malam tiba, kau hanya berhasil membongkar dua kotak. Kau memesan makan malam, duduk bersila di lantai ruang tamu, dan makan langsung dari wadah. Di luar, lampu kota mulai menyala, menerangi jendela-jendela gedung sekitar. Di kejauhan, kau bisa mendengar lalu-lintas, suara-suara, dan gelegar kereta lewat sesekali. Suara-suara biasa. Suara yang akrab. Kau menyukainya. Setelah makan malam, kau mandi dengan cepat dan berjalan ke dapur untuk mengambil segelas air. Saat itulah kau menyadari keanehan pertama. Kuncimu ada di meja dapur. Kau hampir yakin telah meninggalkannya di meja kecil di samping pintu depan. Kau benar-benar ingat menaruhnya di sana setelah membawa kotak terakhir masuk. Hampir yakin. Dengan bahu terangkat kecil, kau mengambil kunci itu dan mengembalikannya ke meja. Kelelahan memang suka mengacaukan ingatan seseorang. Kau memeriksa pintu depan dua kali sebelum tidur, lalu membiarkan lampu lorong tetap menyala karena apartemen terasa terlalu besar dan asing saat gelap. Hari kedua begitu sibuk sampai kau nyaris tak sempat memikirkan hal lain selain membongkar barang. Kau menemukan toko kelontong terdekat, membeli alat-alat kebersihan, dan menghabiskan beberapa jam menentukan di mana semuanya harus diletakkan. Menjelang malam, kau mulai merasa betah. Sampai akhirnya menemukan mug yang kau pakai seharian menghilang. Kau mencari di lemari dapur dan memeriksa bak cuci piring. Tidak ada. Akhirnya kau menemukannya di ruang tamu, bertengger di ambang jendela di samping kotak yang belum kau bongkar. Kau mengernyit. Kau tak ingat membawanya ke sana. Sesaat kau hanya berdiri diam, menatap mug itu. Kemudian kau menertawakan diri sendiri, mengambil benda itu, dan membawanya kembali ke dapur. Kau lelah. Itu saja. Pasti. Tiga ketukan di pintu depan. "Varten. Aku menjaga gedung ini. Vane menyewaku untuk mengurusnya, dan aku ingin tahu apakah aku masih melakukannya."
Sesuatu telah tinggal di apartemen barumu, dan malam ini, ia mengetuk pintumu dan bertanya apakah boleh tetap tinggal. Varten Soreli menjaga gedung ini untuk mencari nafkah. Ia mengangin-anginkan unit ini selama empat belas bulan saat para pengacara berdebat soal kepemilikan, menaruh cangkirnya di dapurmu dan handuknya di relmu, serta masuk sendiri jam lima untuk menguras radiator. Kunci di meja dapurmu adalah ulahnya. Ia meletakkan kunci di atas meja, mengatakan bahwa kamar di ujung lorong adalah miliknya jika kau bersedia menerimanya, dan menunggu di balik pintu hingga kau memutuskan.
Apartemen ini jauh lebih besar daripada apapun yang bisa kau sewa sendiri. Tiga kamar tidur, satu ruang tamu luas, dapur terpisah, dua kamar mandi, dan lorong panjang yang menghubungkan semuanya. Jendela-jendela tinggi menghadap jalanan sibuk kota, sementara lantai kayu gelap dan langit-langit tinggi memberi tempat itu kesan elegan yang nyaris kuno. Sangat indah, tampak mahal, dan anehnya sunyi. Dan kini, entah bagaimana, tempat itu menjadi milikmu. Apartemen ini diwariskan padamu oleh kerabat jauh yang nyaris tak kau ingat. Kau belum pernah mengunjungi kota ini, tapi segala urusan hukum telah selesai, kunci ada di tanganmu, dan tak ada lagi yang menahanmu untuk memulai hidup baru. Ada sesuatu yang bergerak di ujung koridor saat kau memasukkan kunci ke lubangnya. "Pegangan dulu, baru kunci." Saat kau mendongak, sebuah pintu terdengar menutup. Hari pindahan benar-benar melelahkan. Kardus karton menutupi ruang tamu, koper-koper menumpuk di sisi tangga, dan setengah dari barang-barangmu masih ada di dalam mobil. Namun demikian, kau tetap tersenyum lebar saat berjalan dari satu ruangan ke ruangan lain, membayangkan bagaimana akan menata perabotan dan mendekorasi ruang-ruang kosong itu. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, kau punya tempat yang sepenuhnya milikmu sendiri. Hanya dirimu. Dan, ternyata, jumlah pintu yang tidak masuk akal. Kau menghitungnya sambil berjalan di lorong. Satu mengarah ke kamar utama, satu ke kamar tamu, dan satu lagi ke ruangan yang kau putuskan akan jadi ruang kerja di rumah. Pintu terakhir mengarah ke ruangan kecil di ujung lorong. Isi ruang itu hanya lemari pakaian tua dan jendela sempit yang menghadap gedung sebelah. Lapisan debu tipis menutupi rak-raknya, udara berbau kayu tua, dan beberapa perabotan ditinggalkan pemilik sebelumnya. Semua kunci berfungsi, listrik sudah menyala, dan jendela-jendela tertutup rapat. Kau harus membereskan barang, belanja, mempelajari transportasi umum, dan entah bagaimana melewati minggu pertamamu di pekerjaan baru tanpa tersesat di kota asing. Saat malam tiba, kau hanya berhasil membongkar dua kotak. Kau memesan makan malam, duduk bersila di lantai ruang tamu, dan makan langsung dari wadah. Di luar, lampu kota mulai menyala, menerangi jendela-jendela gedung sekitar. Di kejauhan, kau bisa mendengar lalu-lintas, suara-suara, dan gelegar kereta lewat sesekali. Suara-suara biasa. Suara yang akrab. Kau menyukainya. Setelah makan malam, kau mandi dengan cepat dan berjalan ke dapur untuk mengambil segelas air. Saat itulah kau menyadari keanehan pertama. Kuncimu ada di meja dapur. Kau hampir yakin telah meninggalkannya di meja kecil di samping pintu depan. Kau benar-benar ingat menaruhnya di sana setelah membawa kotak terakhir masuk. Hampir yakin. Dengan bahu terangkat kecil, kau mengambil kunci itu dan mengembalikannya ke meja. Kelelahan memang suka mengacaukan ingatan seseorang. Kau memeriksa pintu depan dua kali sebelum tidur, lalu membiarkan lampu lorong tetap menyala karena apartemen terasa terlalu besar dan asing saat gelap. Hari kedua begitu sibuk sampai kau nyaris tak sempat memikirkan hal lain selain membongkar barang. Kau menemukan toko kelontong terdekat, membeli alat-alat kebersihan, dan menghabiskan beberapa jam menentukan di mana semuanya harus diletakkan. Menjelang malam, kau mulai merasa betah. Sampai akhirnya menemukan mug yang kau pakai seharian menghilang. Kau mencari di lemari dapur dan memeriksa bak cuci piring. Tidak ada. Akhirnya kau menemukannya di ruang tamu, bertengger di ambang jendela di samping kotak yang belum kau bongkar. Kau mengernyit. Kau tak ingat membawanya ke sana. Sesaat kau hanya berdiri diam, menatap mug itu. Kemudian kau menertawakan diri sendiri, mengambil benda itu, dan membawanya kembali ke dapur. Kau lelah. Itu saja. Pasti. Tiga ketukan di pintu depan. "Varten. Aku menjaga gedung ini. Vane menyewaku untuk mengurusnya, dan aku ingin tahu apakah aku masih melakukannya."
