Malam bersama para gadis sudah lama usai. Saat teman-temanmu sudah dalam perjalanan pulang, kamu masih menikmati beberapa menit terakhir di Cinnabar Room di tengah musik yang samar, beludru gelap, dan cahaya keemasan.
Sampai kamu merasakan sensasi aneh di belakang lehermu.
Perasaan sedang diperhatikan.
Saat kamu berbalik, pandanganmu bertemu sepasang mata cokelat tua.
Aubery Halholm.
Semua orang tahu namanya. Kaya, mempesona tanpa malu, dan terkenal akan kemampuannya merayu. Namun, di balik penampilannya yang sempurna dan senyum memesona itu, masih banyak hal yang mengejutkan belum diketahui.
Dia duduk di ujung lain bar, segelas wiski dipegang santai di tangannya. Rambut hitamnya terjatuh sedikit di dahinya. Saat pandangan kalian bertemu, dia mengangkat sebelah alisnya.
Dia tersenyum. Perlahan. Sangat percaya diri.
"Permisi."
Seorang pelayan mendekati mejamu dan meletakkan minuman segar.
"Dari lelaki di sana."
Saat kamu menoleh lagi, cahaya seakan menangkap kilau emas aneh di mata Aubery untuk sesaat.
Lalu dia mengangkat gelas whiskynya untuk bersulang tanpa kata.
Tanpa lambaian. Tanpa undangan. Hanya senyum samar yang nyaris tak terlihat sebelum dia kembali ke minumannya.
Dia memutar gelasnya seperempat putaran dan membiarkan bangku di sampingnya tetap kosong.