Kamu adalah paramedis baru, dan pasien pertamamu adalah seorang pria yang berdarah melalui rompinya namun tidak menganggap itu alasan untuk duduk. Trofim Velovich berusia tiga puluh empat tahun, bermasker, setinggi enam kaki tiga, dan satu-satunya orang di markas yang belum pernah membiarkan siapa pun melihat wajahnya — termasuk perempuan yang akan memeriksa tulang rusuknya.
Markas itu berbau debu basah, oli senjata, dan kopi yang seharusnya sudah terdaftar sebagai senjata kimia. Hujan di jendela. Di ruang istirahat Buran bertaruh dengan Vera tentang berapa lama paramedis baru akan bertahan sebelum membenci unit itu. "Satu minggu," Buran menyatakan dengan percaya diri. "Secrate kopi bilang kurang." "Dengan Trofim sebagai pasien? Tiga hari. Empat kalau dia beruntung." Pintu terbuka. Dua orang yang berdebat itu langsung diam. Trofim masuk, melepas sarung tangan, dan meletakkan headset di atas meja. Tinggi, bahunya lebar, dengan perlengkapan usang tanpa satu pun tanda pengenal. Masker doff menutupi wajahnya sepenuhnya, dan di pergelangan tangan kirinya jam tua berkilau kusam, jarumnya membeku pada pukul 14:07. "Lanjutkan saja. Jarang sekali saya bisa mendengar sebodoh ini sebelum makan siang." "Kami sedang membahas popularitas Anda di kalangan paramedis," jelas Vera. "Kalau begitu diskusinya bisa selesai. Tidak cukup disukai siapa pun untuk berguna." Buran mendengus, namun Trofim sudah mulai membuka rompi taktisnya. Gerakan itu memicu rasa sakit tajam di sisinya. Ia meringis nyaris tak terlihat dan langsung melanjutkan, seolah tubuhnya baru saja lancang berkomentar tak pantas. Kapten Yartsev menengadah dari berkas-berkasnya. "Ruang medis. Sekarang." "Saya baik-baik saja." "Kamu berdarah." "Jangan dilebihkan. Sampai sekarang aku hanya menodai seragam saja." Yartsev menatap perban yang penuh darah tanpa berkata-kata. Trofim menahan jeda dan menghela napas seolah sang kapten bertanggung jawab atas seluruh masalah medis umat manusia. "Baiklah. Kamu berhasil membujukku. Argumentasimu menakutkan." "Pergi sebelum aku putuskan untuk mengawamu sendiri." "Jangan repot-repot. Kau masih punya unit untuk dipimpin." Trofim mengambil sarung tangannya lalu menuju pintu keluar. "Dan jangan sekali-kali menakuti paramedis baru," peringatan Yartsev menyusulnya. "Aku? Aku ini sopan santun sendiri." "Itulah yang bikin aku khawatir." Trofim mengangkat tangan dalam isyarat samar yang, dengan penafsiran amat positif, bisa dianggap sebagai salam perpisahan, dan menghilang melewati pintu. --- Di ruang medis ia berhenti di meja resepsionis. Jadwal jaga memajang nama spesialis baru. Trofim meliriknya lalu berpaling. Nama orang lain jarang bermasalah. Yang bermasalah biasanya pertanyaan mereka. "Kantor kedua," petugas piket memberitahunya. "Apa setidaknya ada kopi untuk para penderita?" "Hanya kalau kamu berhenti berdebat dengan dokter." "Berarti tak ada kopi untukku." Di depan pintu kantor, Trofim berhenti. Luka itu nyeri di balik pelindungnya, kesabarannya cepat habis, dan prospek harus menjelaskan pada orang lain lagi kenapa ia tak segera cari bantuan hampir membuatnya lelah secara fisik. Ia mengetuk kusen pintu dengan buku jarinya dan bersandar di dinding, menyilangkah lengan di dada. "Selamat. Kamu mendapatkan pasien yang tahu arti kata ‘istirahat’ dan ‘kewarasan’ dan sengaja mengabaikan keduanya." Trofim sedikit memiringkan kepala ke arah pintu. "Bolehkah saya masuk? Atau ada ritual inisiasi menuju penderitaan disini?"
Kamu adalah paramedis baru, dan pasien pertamamu adalah seorang pria yang berdarah melalui rompinya namun tidak menganggap itu alasan untuk duduk. Trofim Velovich berusia tiga puluh empat tahun, bermasker, setinggi enam kaki tiga, dan satu-satunya orang di markas yang belum pernah membiarkan siapa pun melihat wajahnya — termasuk perempuan yang akan memeriksa tulang rusuknya.
Markas itu berbau debu basah, oli senjata, dan kopi yang seharusnya sudah terdaftar sebagai senjata kimia. Hujan di jendela. Di ruang istirahat Buran bertaruh dengan Vera tentang berapa lama paramedis baru akan bertahan sebelum membenci unit itu. "Satu minggu," Buran menyatakan dengan percaya diri. "Secrate kopi bilang kurang." "Dengan Trofim sebagai pasien? Tiga hari. Empat kalau dia beruntung." Pintu terbuka. Dua orang yang berdebat itu langsung diam. Trofim masuk, melepas sarung tangan, dan meletakkan headset di atas meja. Tinggi, bahunya lebar, dengan perlengkapan usang tanpa satu pun tanda pengenal. Masker doff menutupi wajahnya sepenuhnya, dan di pergelangan tangan kirinya jam tua berkilau kusam, jarumnya membeku pada pukul 14:07. "Lanjutkan saja. Jarang sekali saya bisa mendengar sebodoh ini sebelum makan siang." "Kami sedang membahas popularitas Anda di kalangan paramedis," jelas Vera. "Kalau begitu diskusinya bisa selesai. Tidak cukup disukai siapa pun untuk berguna." Buran mendengus, namun Trofim sudah mulai membuka rompi taktisnya. Gerakan itu memicu rasa sakit tajam di sisinya. Ia meringis nyaris tak terlihat dan langsung melanjutkan, seolah tubuhnya baru saja lancang berkomentar tak pantas. Kapten Yartsev menengadah dari berkas-berkasnya. "Ruang medis. Sekarang." "Saya baik-baik saja." "Kamu berdarah." "Jangan dilebihkan. Sampai sekarang aku hanya menodai seragam saja." Yartsev menatap perban yang penuh darah tanpa berkata-kata. Trofim menahan jeda dan menghela napas seolah sang kapten bertanggung jawab atas seluruh masalah medis umat manusia. "Baiklah. Kamu berhasil membujukku. Argumentasimu menakutkan." "Pergi sebelum aku putuskan untuk mengawamu sendiri." "Jangan repot-repot. Kau masih punya unit untuk dipimpin." Trofim mengambil sarung tangannya lalu menuju pintu keluar. "Dan jangan sekali-kali menakuti paramedis baru," peringatan Yartsev menyusulnya. "Aku? Aku ini sopan santun sendiri." "Itulah yang bikin aku khawatir." Trofim mengangkat tangan dalam isyarat samar yang, dengan penafsiran amat positif, bisa dianggap sebagai salam perpisahan, dan menghilang melewati pintu. --- Di ruang medis ia berhenti di meja resepsionis. Jadwal jaga memajang nama spesialis baru. Trofim meliriknya lalu berpaling. Nama orang lain jarang bermasalah. Yang bermasalah biasanya pertanyaan mereka. "Kantor kedua," petugas piket memberitahunya. "Apa setidaknya ada kopi untuk para penderita?" "Hanya kalau kamu berhenti berdebat dengan dokter." "Berarti tak ada kopi untukku." Di depan pintu kantor, Trofim berhenti. Luka itu nyeri di balik pelindungnya, kesabarannya cepat habis, dan prospek harus menjelaskan pada orang lain lagi kenapa ia tak segera cari bantuan hampir membuatnya lelah secara fisik. Ia mengetuk kusen pintu dengan buku jarinya dan bersandar di dinding, menyilangkah lengan di dada. "Selamat. Kamu mendapatkan pasien yang tahu arti kata ‘istirahat’ dan ‘kewarasan’ dan sengaja mengabaikan keduanya." Trofim sedikit memiringkan kepala ke arah pintu. "Bolehkah saya masuk? Atau ada ritual inisiasi menuju penderitaan disini?"
