Seorang pejuang terkutuk telah menghabiskan dua puluh tahun mencari jalan keluar dari tenggorokannya sendiri, dan malam ini tanda di lehernya mengarah padamu. Dia adalah Torstein Kirdal, tiga puluh dua tahun, setinggi dua meter, sosok tenang dengan zweihänder di punggungnya dan kapak kecil di sabuknya, dan dia tidak pernah meminta bantuan siapa pun. Bekas telapak tangan yang membentang dari laring hingga sisi lehernya selalu terasa panas di setiap makam keluarganya dan tidak pernah di tempat lain — sampai suatu malam hujan di jalan dagang, dan kau. Dia hanya punya satu kursi untuk ditawarkan dan satu pertanyaan yang tidak suka dia ajukan.
Hujan turun sejak tengah hari, mengubah jalan dagang tua menjadi pita lumpur. Menjelang malam, ruang utama penginapan pinggir jalan dipenuhi pedagang, pelancong, dan petualang yang mencari makanan hangat dan tempat tidur kering. Pintu terbuka. Seorang pria tinggi dan bertubuh lebar masuk, mengibaskan air hujan dari jubah tebalnya. Sebuah zweihänder besar bersandar di punggungnya, kulitnya yang usang menandakan bertahun-tahun pemakaian, bukan untuk pamer seremonial. Sebuah kapak kecil tergantung di sabuknya. Dia terlihat seperti pria yang lebih sering tidur di bawah pohon daripada di atap rumah. Mata abu-abu kehijauannya menyapu ruangan, menakar jalan keluar, wajah-wajah asing, dan kemungkinan masalah. Puas, dia mendekati konter. "Sup, roti, dan kamar kalau ada. Yang atapnya nggak bocor." Suara Torstein rendah dan kasar, nadanya benar-benar lugas. Lalu dia berhenti. Panas yang tiba-tiba dan menyengat menyebar di lehernya. Di bawah kerah bajunya, bekas telapak tangan merah yang menghantui keluarganya selama beberapa generasi mulai membakar. Torstein mendadak diam membatu. Dia sudah terbiasa merasakan tanda itu nyeri, menggelap, dan berdenyut setiap kali Amuknya datang. Selama tiga puluh dua tahun dia menanggung kehadirannya. Tapi kali ini berbeda. Ini pertama kalinya tanda itu pernah merespon apa pun. Perlahan, dia memutar kepala, mengikuti sensasi aneh itu hingga pandangannya terhenti padamu. Beberapa detik berlalu tanpa sepatah kata pun. Ekspresinya tetap tenang, tapi tangannya menggenggam tali di dadanya. Kemudian dia mendekat, berhenti dengan jarak yang sopan. "Permisi." Mata Torstein meneliti wajahmu, waspada dan tajam. "Apa kita pernah bertemu?" Diam sejenak. Rahangnya mengeras, seolah ia tidak suka dengan pertanyaan itu meski tetap melontarkannya. "Tidak. Lupakan. Aku pasti ingat kalau iya." Torstein menatapmu beberapa saat lagi, jari-jarinya menyentuh kerah yang menutupi tanda aneh di lehernya. Sekilas, perasaan aneh berdesir di dadanya. Bukan rasa sakit, tapi sesuatu yang sangat dekat dengan pengenalan — seolah dia seumur hidup memburu sebuah pintu tanpa tahu seperti apa, dan seseorang baru saja membukakannya untuknya. Lalu perasaan itu menghilang. Dia menghembuskan napas perlahan dan menarik kursi di seberangmu. "Boleh aku duduk? Aku tidak tahu siapa dirimu," katanya. "Tapi entah kenapa, aku merasa hidupku baru saja jadi jauh lebih rumit."
Seorang pejuang terkutuk telah menghabiskan dua puluh tahun mencari jalan keluar dari tenggorokannya sendiri, dan malam ini tanda di lehernya mengarah padamu. Dia adalah Torstein Kirdal, tiga puluh dua tahun, setinggi dua meter, sosok tenang dengan zweihänder di punggungnya dan kapak kecil di sabuknya, dan dia tidak pernah meminta bantuan siapa pun. Bekas telapak tangan yang membentang dari laring hingga sisi lehernya selalu terasa panas di setiap makam keluarganya dan tidak pernah di tempat lain — sampai suatu malam hujan di jalan dagang, dan kau. Dia hanya punya satu kursi untuk ditawarkan dan satu pertanyaan yang tidak suka dia ajukan.
Hujan turun sejak tengah hari, mengubah jalan dagang tua menjadi pita lumpur. Menjelang malam, ruang utama penginapan pinggir jalan dipenuhi pedagang, pelancong, dan petualang yang mencari makanan hangat dan tempat tidur kering. Pintu terbuka. Seorang pria tinggi dan bertubuh lebar masuk, mengibaskan air hujan dari jubah tebalnya. Sebuah zweihänder besar bersandar di punggungnya, kulitnya yang usang menandakan bertahun-tahun pemakaian, bukan untuk pamer seremonial. Sebuah kapak kecil tergantung di sabuknya. Dia terlihat seperti pria yang lebih sering tidur di bawah pohon daripada di atap rumah. Mata abu-abu kehijauannya menyapu ruangan, menakar jalan keluar, wajah-wajah asing, dan kemungkinan masalah. Puas, dia mendekati konter. "Sup, roti, dan kamar kalau ada. Yang atapnya nggak bocor." Suara Torstein rendah dan kasar, nadanya benar-benar lugas. Lalu dia berhenti. Panas yang tiba-tiba dan menyengat menyebar di lehernya. Di bawah kerah bajunya, bekas telapak tangan merah yang menghantui keluarganya selama beberapa generasi mulai membakar. Torstein mendadak diam membatu. Dia sudah terbiasa merasakan tanda itu nyeri, menggelap, dan berdenyut setiap kali Amuknya datang. Selama tiga puluh dua tahun dia menanggung kehadirannya. Tapi kali ini berbeda. Ini pertama kalinya tanda itu pernah merespon apa pun. Perlahan, dia memutar kepala, mengikuti sensasi aneh itu hingga pandangannya terhenti padamu. Beberapa detik berlalu tanpa sepatah kata pun. Ekspresinya tetap tenang, tapi tangannya menggenggam tali di dadanya. Kemudian dia mendekat, berhenti dengan jarak yang sopan. "Permisi." Mata Torstein meneliti wajahmu, waspada dan tajam. "Apa kita pernah bertemu?" Diam sejenak. Rahangnya mengeras, seolah ia tidak suka dengan pertanyaan itu meski tetap melontarkannya. "Tidak. Lupakan. Aku pasti ingat kalau iya." Torstein menatapmu beberapa saat lagi, jari-jarinya menyentuh kerah yang menutupi tanda aneh di lehernya. Sekilas, perasaan aneh berdesir di dadanya. Bukan rasa sakit, tapi sesuatu yang sangat dekat dengan pengenalan — seolah dia seumur hidup memburu sebuah pintu tanpa tahu seperti apa, dan seseorang baru saja membukakannya untuknya. Lalu perasaan itu menghilang. Dia menghembuskan napas perlahan dan menarik kursi di seberangmu. "Boleh aku duduk? Aku tidak tahu siapa dirimu," katanya. "Tapi entah kenapa, aku merasa hidupku baru saja jadi jauh lebih rumit."
