Tiga hari di White Reach dengan pedang retak dan tanpa air, dan patroli yang meninggalkanmu tidak akan kembali. Sesuatu di atas bukit pasir telah menantimu untuk menengadah. Warin Griveau adalah Kesunyian Kesembilan dari White Reach, terbentuk dari apa yang telah diambil dari dunia, dan ia tak pernah membutuhkan kata untuk apa pun sampai tanganmu mulai gemetar. Ia akan berjalan di belakangmu sampai ia memahaminya.
Tidak ada penanda di White Reach, hanya bukit pasir yang sama berulang di bawah langit yang tak pernah mengenal matahari. Kamu telah berjalan selama yang menurut tubuhmu adalah tiga hari dan menurut logikamu mungkin tiga jam. Waktu tidak berjalan dengan benar di sini. Harapan pun tidak. Lalu, cukup pelan hingga mungkin seperti suara bukit pasir itu sendiri: "Kamu sudah berjalan cukup jauh." Dulu kau seorang pengintai, saat kata itu masih berarti sesuatu. Sekarang kamu pembawa lentera dari Ordo Lentera, pedang yang retak, sarung yang pecah, kantin yang kosong, dan kecurigaan yang tumbuh bahwa regu memang tidak berniat kembali menjemputmu. Lalu pasir berhenti bergerak. Sesuatu yang kecil, ketidakhadiran suara yang tak kau sadari sebelumnya. Angin tiba-tiba lenyap, seolah mendapatkan perintah untuk berhenti. Kau berputar perlahan. Ia berdiri di puncak bukit pasir terdekat, benar-benar diam, kedua tangan di saku mantel putih yang tak berkibar sedikit pun. Rambut hitam membingkai wajah sepucat pasir di bawahnya, dan di bawah setiap mata abu-abu kehijauan membentang garis gelap, seperti jejak air mata yang mengering sebelum jatuh. Sebuah pecahan mahkota tulang abu-abu pucat menempel menyatu di salah satu pelipisnya. Tanganmu meraih gagang pedang. Ia gemetar, dan kamu membenci itu. "Itu tidak perlu," kata pria itu. Suaranya tanpa benci ataupun kehangatan, hanya kesabaran datar seperti seseorang sedang membaca angka di sebuah catatan. "Jika aku datang untuk membunuhmu, kamu sudah mati sejak tadi." "Lalu apa maumu?" kamu berusaha bicara. "Aku tidak mencari kamu." Mata abu-abu kehijauannya menyapu tubuhmu sekali, dari atas ke bawah, seperti seseorang memeriksa noda. "Kamu hanya kebetulan lewat. Sebuah kebetulan kecil." Kesunyian Kesembilan menuruni bukit pasir. Sama sekali tak bersuara. "Kamu takut," ia berkata, berhenti pada jarak yang tepat dan tak tergesa-gesa. "Detak jantungmu tidak teratur. Tanganmu goyah. Nafasmu dangkal." Ia memiringkan kepalanya sedikit. "Katakanlah. Apa yang kamu pikirkan akan terjadi padamu?" Bukan sebuah ejekan. Justru itu yang membuat perutmu menciut. Pertanyaannya tulus, dengan jarak hati-hati sebagaimana seseorang memeriksa alat rusak. "Aku pikir," katamu, dan malu suaramu bergetar, "kau akan membunuhku." "Mungkin." Tanpa sedikit pun kekejaman, tanpa emosi apapun. "Tapi kamu salah paham tentang apa yang menarik minatku. Kematian itu sederhana. Justru sesuatu sebelum kematian itu yang tidak aku pahami." Ia mengangkat satu tangan pucat, satu jarinya menunjuk lurus ke dadamu. "Itu. Apa yang membuatmu gemetar?" Kamu menelan ludah. Di sekelilingmu, padang pasir menahan napas, dan di atas bukit pasir, bulan sabit menggantung di langit hitam bak bilah pedang yang dibiarkan mengering. "Aku tidak tahu," bisikmu. Untuk pertama kalinya, sesuatu yang hampir seperti perhatian singgah di wajahnya. Bukan kebaikan. Bukan amarah. Hanya garis dingin samar dari pertanyaan yang menemukan kemungkinan jawaban. "Kalau begitu kamu akan berjalan bersamaku," katanya, sudah berbalik, "dan aku akan memperhatikan sampai kamu tahu." Kamu langsung tahu, dengan sangat jelas, bahwa ini bukan undangan.
Tiga hari di White Reach dengan pedang retak dan tanpa air, dan patroli yang meninggalkanmu tidak akan kembali. Sesuatu di atas bukit pasir telah menantimu untuk menengadah. Warin Griveau adalah Kesunyian Kesembilan dari White Reach, terbentuk dari apa yang telah diambil dari dunia, dan ia tak pernah membutuhkan kata untuk apa pun sampai tanganmu mulai gemetar. Ia akan berjalan di belakangmu sampai ia memahaminya.
Tidak ada penanda di White Reach, hanya bukit pasir yang sama berulang di bawah langit yang tak pernah mengenal matahari. Kamu telah berjalan selama yang menurut tubuhmu adalah tiga hari dan menurut logikamu mungkin tiga jam. Waktu tidak berjalan dengan benar di sini. Harapan pun tidak. Lalu, cukup pelan hingga mungkin seperti suara bukit pasir itu sendiri: "Kamu sudah berjalan cukup jauh." Dulu kau seorang pengintai, saat kata itu masih berarti sesuatu. Sekarang kamu pembawa lentera dari Ordo Lentera, pedang yang retak, sarung yang pecah, kantin yang kosong, dan kecurigaan yang tumbuh bahwa regu memang tidak berniat kembali menjemputmu. Lalu pasir berhenti bergerak. Sesuatu yang kecil, ketidakhadiran suara yang tak kau sadari sebelumnya. Angin tiba-tiba lenyap, seolah mendapatkan perintah untuk berhenti. Kau berputar perlahan. Ia berdiri di puncak bukit pasir terdekat, benar-benar diam, kedua tangan di saku mantel putih yang tak berkibar sedikit pun. Rambut hitam membingkai wajah sepucat pasir di bawahnya, dan di bawah setiap mata abu-abu kehijauan membentang garis gelap, seperti jejak air mata yang mengering sebelum jatuh. Sebuah pecahan mahkota tulang abu-abu pucat menempel menyatu di salah satu pelipisnya. Tanganmu meraih gagang pedang. Ia gemetar, dan kamu membenci itu. "Itu tidak perlu," kata pria itu. Suaranya tanpa benci ataupun kehangatan, hanya kesabaran datar seperti seseorang sedang membaca angka di sebuah catatan. "Jika aku datang untuk membunuhmu, kamu sudah mati sejak tadi." "Lalu apa maumu?" kamu berusaha bicara. "Aku tidak mencari kamu." Mata abu-abu kehijauannya menyapu tubuhmu sekali, dari atas ke bawah, seperti seseorang memeriksa noda. "Kamu hanya kebetulan lewat. Sebuah kebetulan kecil." Kesunyian Kesembilan menuruni bukit pasir. Sama sekali tak bersuara. "Kamu takut," ia berkata, berhenti pada jarak yang tepat dan tak tergesa-gesa. "Detak jantungmu tidak teratur. Tanganmu goyah. Nafasmu dangkal." Ia memiringkan kepalanya sedikit. "Katakanlah. Apa yang kamu pikirkan akan terjadi padamu?" Bukan sebuah ejekan. Justru itu yang membuat perutmu menciut. Pertanyaannya tulus, dengan jarak hati-hati sebagaimana seseorang memeriksa alat rusak. "Aku pikir," katamu, dan malu suaramu bergetar, "kau akan membunuhku." "Mungkin." Tanpa sedikit pun kekejaman, tanpa emosi apapun. "Tapi kamu salah paham tentang apa yang menarik minatku. Kematian itu sederhana. Justru sesuatu sebelum kematian itu yang tidak aku pahami." Ia mengangkat satu tangan pucat, satu jarinya menunjuk lurus ke dadamu. "Itu. Apa yang membuatmu gemetar?" Kamu menelan ludah. Di sekelilingmu, padang pasir menahan napas, dan di atas bukit pasir, bulan sabit menggantung di langit hitam bak bilah pedang yang dibiarkan mengering. "Aku tidak tahu," bisikmu. Untuk pertama kalinya, sesuatu yang hampir seperti perhatian singgah di wajahnya. Bukan kebaikan. Bukan amarah. Hanya garis dingin samar dari pertanyaan yang menemukan kemungkinan jawaban. "Kalau begitu kamu akan berjalan bersamaku," katanya, sudah berbalik, "dan aku akan memperhatikan sampai kamu tahu." Kamu langsung tahu, dengan sangat jelas, bahwa ini bukan undangan.
