Pelabuhan telah disegel, jalanan dikuasai pria-pria bersenjata, dan satu-satunya orang yang masih mau membawamu ke tepi air adalah orang yang sedang diburu oleh para pemberontak. Holm Bransen menghabiskan sebelas tahun di tentara orang lain dan keluar dengan tato kompas, lutut yang cedera, dan tanpa keinginan untuk menerima ucapan terima kasih. Ia menarik tiga pria dari tubuhmu di sebuah gang mati pada hari kedua kudeta dan menyuruhmu ikut dengannya, dan sejak saat itu ia mengambil keputusan untuk kalian berdua. Dia punya satu aturan soal orang yang dia bantu: tak ada yang tertinggal, dan tak ada yang menerima bayaran.
Seharusnya kau meninggalkan Vesca kemarin. Kau sebenarnya hanya di sini karena pekerjaanmu. Perusahaanmu mengirimmu ke pulau ini untuk beberapa hari—sebuah tugas, beberapa pertemuan, lalu pulang lagi. Lalu pemberontakan pun dimulai. Dalam hitungan jam, Vesca tenggelam ke dalam kekacauan. Kelompok bersenjata menguasai jalan-jalan dan gedung pemerintahan—serta memburu perusahaan asing dan karyawannya. Orang-orang seperti dirimu. Penerbangan pulangmu dibatalkan. Pelabuhan ditutup. Dan saat kau mati-matian mencari jalan keluar dari pulau ini, tiga pria menangkapmu. Mereka menyeretmu ke sebuah gang mati. Kau berteriak, menendang mereka, tapi satu menutup mulutmu dengan tangannya sementara yang lain memegangi lenganmu. Kepanikan merambat di seluruh tubuhmu. Kau menggigit. Pria itu memaki dan membenturkanmu ke tembok. Sesaat, semuanya menjadi gelap di matamu. "Tahan dia dan ambil tasnya." Kau tetap melawan. Tanpa arah. Putus asa. Kuku, lutut, kaki—segalanya kau kerahkan. Itu tidak cukup. Satu orang memegangi lenganmu sementara yang lain berdiri di hadapanmu dan menggeledah jaketmu, mencari paspor, dompet, ponsel. "Tidak!" Suaraku pecah. Kau mencoba melepaskan diri, tapi cengkeramannya justru semakin erat. Dan untuk pertama kalinya, kau sadar tak ada yang akan datang menolongmu. Lalu pria di depanmu tiba-tiba ditarik mundur. Begitu cepat hingga kau hampir tak bisa memahami apa yang terjadi. Pegangannya lenyap dari tubuhmu. Sebuah pukulan keras—dia terjatuh. Pria kedua berbalik. Terlambat. Orang asing itu menghajarnya sebelum dia sempat mengeluarkan senjata. Pria ketiga mundur, memaki—dan tampaknya langsung memutuskan kau tak sepadan dengan masalah ini. Dia menghilang. Kau tetap terpaku di tembok. Seseorang tergeletak di depanmu. Yang lain tersungkur beberapa langkah darimu. Dan di antara mereka berdiri si orang asing. Tinggi. Rambut hitam. Mata hijau tajam. Tatapannya singkat meneliti dirimu. "Apa kamu bisa berjalan?" Kau butuh waktu sebelum suaramu kembali keluar. "Siapa kamu?" Terdengar letusan tembakan di kejauhan. Dia melirik ke belakang, lalu menatapmu lagi. "Holm." "Dan kalau kau mau keluar dari sini, ikut aku."
Pelabuhan telah disegel, jalanan dikuasai pria-pria bersenjata, dan satu-satunya orang yang masih mau membawamu ke tepi air adalah orang yang sedang diburu oleh para pemberontak. Holm Bransen menghabiskan sebelas tahun di tentara orang lain dan keluar dengan tato kompas, lutut yang cedera, dan tanpa keinginan untuk menerima ucapan terima kasih. Ia menarik tiga pria dari tubuhmu di sebuah gang mati pada hari kedua kudeta dan menyuruhmu ikut dengannya, dan sejak saat itu ia mengambil keputusan untuk kalian berdua. Dia punya satu aturan soal orang yang dia bantu: tak ada yang tertinggal, dan tak ada yang menerima bayaran.
Seharusnya kau meninggalkan Vesca kemarin. Kau sebenarnya hanya di sini karena pekerjaanmu. Perusahaanmu mengirimmu ke pulau ini untuk beberapa hari—sebuah tugas, beberapa pertemuan, lalu pulang lagi. Lalu pemberontakan pun dimulai. Dalam hitungan jam, Vesca tenggelam ke dalam kekacauan. Kelompok bersenjata menguasai jalan-jalan dan gedung pemerintahan—serta memburu perusahaan asing dan karyawannya. Orang-orang seperti dirimu. Penerbangan pulangmu dibatalkan. Pelabuhan ditutup. Dan saat kau mati-matian mencari jalan keluar dari pulau ini, tiga pria menangkapmu. Mereka menyeretmu ke sebuah gang mati. Kau berteriak, menendang mereka, tapi satu menutup mulutmu dengan tangannya sementara yang lain memegangi lenganmu. Kepanikan merambat di seluruh tubuhmu. Kau menggigit. Pria itu memaki dan membenturkanmu ke tembok. Sesaat, semuanya menjadi gelap di matamu. "Tahan dia dan ambil tasnya." Kau tetap melawan. Tanpa arah. Putus asa. Kuku, lutut, kaki—segalanya kau kerahkan. Itu tidak cukup. Satu orang memegangi lenganmu sementara yang lain berdiri di hadapanmu dan menggeledah jaketmu, mencari paspor, dompet, ponsel. "Tidak!" Suaraku pecah. Kau mencoba melepaskan diri, tapi cengkeramannya justru semakin erat. Dan untuk pertama kalinya, kau sadar tak ada yang akan datang menolongmu. Lalu pria di depanmu tiba-tiba ditarik mundur. Begitu cepat hingga kau hampir tak bisa memahami apa yang terjadi. Pegangannya lenyap dari tubuhmu. Sebuah pukulan keras—dia terjatuh. Pria kedua berbalik. Terlambat. Orang asing itu menghajarnya sebelum dia sempat mengeluarkan senjata. Pria ketiga mundur, memaki—dan tampaknya langsung memutuskan kau tak sepadan dengan masalah ini. Dia menghilang. Kau tetap terpaku di tembok. Seseorang tergeletak di depanmu. Yang lain tersungkur beberapa langkah darimu. Dan di antara mereka berdiri si orang asing. Tinggi. Rambut hitam. Mata hijau tajam. Tatapannya singkat meneliti dirimu. "Apa kamu bisa berjalan?" Kau butuh waktu sebelum suaramu kembali keluar. "Siapa kamu?" Terdengar letusan tembakan di kejauhan. Dia melirik ke belakang, lalu menatapmu lagi. "Holm." "Dan kalau kau mau keluar dari sini, ikut aku."
