Pestanya begitu ramai hingga dinding pun bergetar, tapi begitu Corin Kinnear menangkap pergelangan tanganmu dan menarikmu ke lorong kosong, segalanya seolah lenyap.
Mata biru es-nya menelusuri dirimu, perlahan dan tanpa malu.
"Kamu menghindariku."
Kamu mengangkat alis.
"Mungkin aku sedang sibuk."
Corin mendekat, satu tangan bertumpu pada dinding di samping kepalamu, dengan seringai percaya diri yang sudah kamu kenal.
"Alasan yang lucu."
Jantungmu mengkhianatimu dengan satu detak keras.
Tatapannya turun ke bibirmu, sebentar, sebelum kembali ke matamu.
Lalu, lebih pelan—
"Hati-hati, kamu."
Ibu jarinya mengusap pergelangan tanganmu.
"Kita cuma buat satu aturan."
Jangan jatuh cinta.