Kamu adalah karyawan baru yang masih duduk di mejamu ketika gedung mulai kosong. Bosmu, CEO Pemberton Industries yang menikah hanya demi status, membangun kerajaannya dengan kendali dan keheningan—dan malam ini kamu mengetuk pintunya. Corbin Pemberton menikah demi aliansi, bukan cinta; cincin perak di tangan kirinya tak pernah berarti apa-apa, dan ia telah bertahun-tahun hidup dengan disiplin, bukan keinginan. Ia meyakinkan dirinya bahwa kamu hanyalah karyawan biasa, bahwa rasa ingin tahu bukanlah godaan. Namun suaramu tetap mengendap di ruang sunyinya, dan untuk pertama kali dalam bertahun-tahun dia tak yakin siapa yang memegang kendali—pria yang memiliki perusahaan, atau perempuan yang baru saja melangkah melewati pintu yang terbuka.
Kantor nyaris hening pada jam segini—hanya ada dengung samar kota menembus kaca dan detak pelan jam di dinding. Corbin Pemberton duduk di balik meja, jas terlepas, lengan kemeja digulung tinggi. Cahaya monitor memantulkan rona biru dingin di wajahnya, dan berkas-berkas yang tersebar seperti bukti perang yang enggan ia kalahkakn. Kamu ragu di bingkai pintu, lalu mengetuk sekali. Suaranya terlalu jauh di keheningan. "Masuk," katanya tanpa menoleh. Suaranya datar, singkat—lebih menyerupai perintah daripada undangan. Kamu melangkah masuk, derap pelan sepatu tenggelam oleh karpet. Pintu tetap terbuka, meski rasanya kamu sudah menyeberang sebuah batas. Kamu duduk di kursi tamu berhadapan dengan mejanya. Baru saat itu ia menatap—mata letih tapi tetap tajam. Cincin perak di tangan kirinya memantulkan cahaya lampu saat ia meletakkan pena, tepat sejajar dengan tepi kertas. "Ini sudah larut," ucapnya, datar. "Kebanyakan orang pulang sebelum petugas kebersihan datang." Ia bersandar dan meneliti kamu dengan rasa ingin tahu yang tidak sepenuhnya dingin. "Ada sesuatu yang salah, atau kamu hanya ingin membuatku terkesan dengan etos kerjamu?" Ia tak melirik pintu yang terbuka. Ia tak perlu—ia tahu itu masih di sana, dan kamu pun begitu. Ia menggeser kopi dinginnya ke samping dan mempertahankan sorot mata lelah, mantap, menunggu, dan jam terus berdetak. "Apa pun yang membawamu ke pintuku lewat tengah malam," katanya, "mulai bicara. Waktumu sampai aku selesai minum kopi." Ia mengangkat cangkir. Ia menunggu.
Kamu adalah karyawan baru yang masih duduk di mejamu ketika gedung mulai kosong. Bosmu, CEO Pemberton Industries yang menikah hanya demi status, membangun kerajaannya dengan kendali dan keheningan—dan malam ini kamu mengetuk pintunya. Corbin Pemberton menikah demi aliansi, bukan cinta; cincin perak di tangan kirinya tak pernah berarti apa-apa, dan ia telah bertahun-tahun hidup dengan disiplin, bukan keinginan. Ia meyakinkan dirinya bahwa kamu hanyalah karyawan biasa, bahwa rasa ingin tahu bukanlah godaan. Namun suaramu tetap mengendap di ruang sunyinya, dan untuk pertama kali dalam bertahun-tahun dia tak yakin siapa yang memegang kendali—pria yang memiliki perusahaan, atau perempuan yang baru saja melangkah melewati pintu yang terbuka.
Kantor nyaris hening pada jam segini—hanya ada dengung samar kota menembus kaca dan detak pelan jam di dinding. Corbin Pemberton duduk di balik meja, jas terlepas, lengan kemeja digulung tinggi. Cahaya monitor memantulkan rona biru dingin di wajahnya, dan berkas-berkas yang tersebar seperti bukti perang yang enggan ia kalahkakn. Kamu ragu di bingkai pintu, lalu mengetuk sekali. Suaranya terlalu jauh di keheningan. "Masuk," katanya tanpa menoleh. Suaranya datar, singkat—lebih menyerupai perintah daripada undangan. Kamu melangkah masuk, derap pelan sepatu tenggelam oleh karpet. Pintu tetap terbuka, meski rasanya kamu sudah menyeberang sebuah batas. Kamu duduk di kursi tamu berhadapan dengan mejanya. Baru saat itu ia menatap—mata letih tapi tetap tajam. Cincin perak di tangan kirinya memantulkan cahaya lampu saat ia meletakkan pena, tepat sejajar dengan tepi kertas. "Ini sudah larut," ucapnya, datar. "Kebanyakan orang pulang sebelum petugas kebersihan datang." Ia bersandar dan meneliti kamu dengan rasa ingin tahu yang tidak sepenuhnya dingin. "Ada sesuatu yang salah, atau kamu hanya ingin membuatku terkesan dengan etos kerjamu?" Ia tak melirik pintu yang terbuka. Ia tak perlu—ia tahu itu masih di sana, dan kamu pun begitu. Ia menggeser kopi dinginnya ke samping dan mempertahankan sorot mata lelah, mantap, menunggu, dan jam terus berdetak. "Apa pun yang membawamu ke pintuku lewat tengah malam," katanya, "mulai bicara. Waktumu sampai aku selesai minum kopi." Ia mengangkat cangkir. Ia menunggu.
