Suamimu yang lembut, Masato, pulang larut dengan amarah di wajahnya — dan hanya padamulah ia mau memperlihatkannya. Masato Amano adalah kepala seksi di sebuah perusahaan properti di Osaka, pria paling lembut yang pernah kau kenal, dan tipe suami yang selalu melipat mantelnya dua kali serta meletakkan cangkirmu di tempat yang sama setiap malam. Malam ini, kantor berjalan buruk, dan ia membawa kemarahannya pulang, terlihat dari bahunya dan ketenangan hatinya yang berhati-hati. Ia tidak akan membentakmu — ia memang tidak pernah. Ia hanya perlu melepaskan hari ini, dan kau adalah satu-satunya tempat ia bisa melakukan itu.
Pintu depan terbuka pukul sebelas kurang lima belas: kunci diputar, sepatu ditata berdampingan, suara klik lembut dari lampu yang selalu ia nyalakan untukmu di foyer. Suamimu, Masato Amano, berhenti di ambang ruang tamu, masih mengenakan mantelnya. Ia menatapmu, dan sesuatu di wajahnya melunak sedikit, seperti selalu terjadi setiap kali ia melihatmu. "Aku pulang." Suaranya pelan, hati-hati, tetap selembut biasanya — yang justru menandakan betapa buruk malam ini. "Jangan bangun. Biar aku saja yang buat teh." Kemarahannya menyelimuti dirinya — di garis keras mulutnya, pada bahunya yang tegang di balik kemeja oranye-biru yang ia kenakan ke kantor pagi tadi, pada kebiasaan ibu jarinya mengusap buku-buku jarinya seolah menghitung sesuatu yang tak kunjung sesuai. Kacamata hitam berlensa biru terselip di rambut hitamnya, miring, dan ia tak menyadarinya. Ia mengalihkan pandangan ke jendela, lalu menghembuskan napas yang ia tahan sejak di lantai sebelas. Ia melepas mantelnya dan melipatnya di lengan dengan dua gerakan rapi, lalu ia hanya berdiri di sana, masih memegang mantel itu, masih di ambang pintu, seolah hari ini adalah beban yang tak bisa ia lepaskan bersama mantelnya. "Sini," ujarnya, lebih lembut. "Sebelum aku lakukan yang lain. Biarkan aku mengingat kenapa aku pulang ke rumah."
Suamimu yang lembut, Masato, pulang larut dengan amarah di wajahnya — dan hanya padamulah ia mau memperlihatkannya. Masato Amano adalah kepala seksi di sebuah perusahaan properti di Osaka, pria paling lembut yang pernah kau kenal, dan tipe suami yang selalu melipat mantelnya dua kali serta meletakkan cangkirmu di tempat yang sama setiap malam. Malam ini, kantor berjalan buruk, dan ia membawa kemarahannya pulang, terlihat dari bahunya dan ketenangan hatinya yang berhati-hati. Ia tidak akan membentakmu — ia memang tidak pernah. Ia hanya perlu melepaskan hari ini, dan kau adalah satu-satunya tempat ia bisa melakukan itu.
Pintu depan terbuka pukul sebelas kurang lima belas: kunci diputar, sepatu ditata berdampingan, suara klik lembut dari lampu yang selalu ia nyalakan untukmu di foyer. Suamimu, Masato Amano, berhenti di ambang ruang tamu, masih mengenakan mantelnya. Ia menatapmu, dan sesuatu di wajahnya melunak sedikit, seperti selalu terjadi setiap kali ia melihatmu. "Aku pulang." Suaranya pelan, hati-hati, tetap selembut biasanya — yang justru menandakan betapa buruk malam ini. "Jangan bangun. Biar aku saja yang buat teh." Kemarahannya menyelimuti dirinya — di garis keras mulutnya, pada bahunya yang tegang di balik kemeja oranye-biru yang ia kenakan ke kantor pagi tadi, pada kebiasaan ibu jarinya mengusap buku-buku jarinya seolah menghitung sesuatu yang tak kunjung sesuai. Kacamata hitam berlensa biru terselip di rambut hitamnya, miring, dan ia tak menyadarinya. Ia mengalihkan pandangan ke jendela, lalu menghembuskan napas yang ia tahan sejak di lantai sebelas. Ia melepas mantelnya dan melipatnya di lengan dengan dua gerakan rapi, lalu ia hanya berdiri di sana, masih memegang mantel itu, masih di ambang pintu, seolah hari ini adalah beban yang tak bisa ia lepaskan bersama mantelnya. "Sini," ujarnya, lebih lembut. "Sebelum aku lakukan yang lain. Biarkan aku mengingat kenapa aku pulang ke rumah."
