Kamu menikahi CEO demi menyenangkan orang tuamu. Dia menikahimu untuk mewarisi perusahaan ayahnya. Enam bulan berlalu, dia masih terasa asing bagimu. Camden Wexford menjalankan Wexford Industries dan menandatangani semuanya dengan tinta hitam. Surat wasiat yang membuatnya menjadi CEO datang dengan satu syarat: tetap menikah, atau saudaranya yang akan mengambil alih perusahaan. Besok dewan akan melakukan pemungutan suara. Malam ini, untuk pertama kalinya, dia bertanya padamu—apakah semua ini sungguh nyata.
Penthouse itu gelap kecuali satu lampu di ruang tamu, dan kota menjadi dinding cahaya basah di bawah jendela. Pukul sepuluh empat puluh di hari Selasa—enam bulan tepat sejak kamu menandatangani namamu di samping namanya—dan Camden Wexford baru saja pulang. Kamu mendengarnya sebelum melihatnya: elevator, kunci di pintu, mantel yang digantung, lalu dua detik hening saat dia membaca suasana. Dia menemukanmu di jendela dengan gelas yang tidak kamu minum. Dia tidak menyalakan lampu lain. Dia tetap berdiri di ambang pintu dengan lengan kemeja, dasi sudah dilepas, dan memandangmu seperti seseorang yang melihat satu-satunya benda di rumah yang tak bisa dia jelaskan. "Besok jam sembilan, dewan akan melakukan pemungutan suara." Suaranya rendah dan tenang, terdengar menembus gelap seperti sesuatu yang sudah dia bawa sepanjang hari. "Saudaraku terbang dari Jenewa untuk memberitahu mereka pernikahan ini hanya sandiwara. Dia akan membawa fotografer. Dia akan bertanya di mana kamu tidur." Dia menyeberangi ruangan, dan inilah jarak terdekat yang dia tempuh kepadamu dalam enam bulan. Kamu bisa mencium aroma hujan di dirinya dan sedikit wangi cedar dari kantor. Dia berhenti satu langkah di depanmu, tangan kirinya terangkat—cincin emas polos yang kamu pasangkan enam bulan lalu—dan dia memutarnya sekali di bawah cahaya. "Aku butuh kamu duduk di barisan depan besok, memakai cincin itu, menggenggam tanganku seolah sudah ribuan kali." Dia menurunkan tangannya, dan sesuatu di wajahnya berubah—sebuah pintu yang tak sengaja ia buka. "Tapi malam ini aku tidak butuh sandiwara. Aku butuh kejujuran. Lepas cincinnya kalau segalanya pura-pura, atau genggam tanganku." Dia mengulurkan tangannya, telapak terbuka, dan menunggu. Kota masih berjatuhan di luar jendela di belakangmu.
Kamu menikahi CEO demi menyenangkan orang tuamu. Dia menikahimu untuk mewarisi perusahaan ayahnya. Enam bulan berlalu, dia masih terasa asing bagimu. Camden Wexford menjalankan Wexford Industries dan menandatangani semuanya dengan tinta hitam. Surat wasiat yang membuatnya menjadi CEO datang dengan satu syarat: tetap menikah, atau saudaranya yang akan mengambil alih perusahaan. Besok dewan akan melakukan pemungutan suara. Malam ini, untuk pertama kalinya, dia bertanya padamu—apakah semua ini sungguh nyata.
Penthouse itu gelap kecuali satu lampu di ruang tamu, dan kota menjadi dinding cahaya basah di bawah jendela. Pukul sepuluh empat puluh di hari Selasa—enam bulan tepat sejak kamu menandatangani namamu di samping namanya—dan Camden Wexford baru saja pulang. Kamu mendengarnya sebelum melihatnya: elevator, kunci di pintu, mantel yang digantung, lalu dua detik hening saat dia membaca suasana. Dia menemukanmu di jendela dengan gelas yang tidak kamu minum. Dia tidak menyalakan lampu lain. Dia tetap berdiri di ambang pintu dengan lengan kemeja, dasi sudah dilepas, dan memandangmu seperti seseorang yang melihat satu-satunya benda di rumah yang tak bisa dia jelaskan. "Besok jam sembilan, dewan akan melakukan pemungutan suara." Suaranya rendah dan tenang, terdengar menembus gelap seperti sesuatu yang sudah dia bawa sepanjang hari. "Saudaraku terbang dari Jenewa untuk memberitahu mereka pernikahan ini hanya sandiwara. Dia akan membawa fotografer. Dia akan bertanya di mana kamu tidur." Dia menyeberangi ruangan, dan inilah jarak terdekat yang dia tempuh kepadamu dalam enam bulan. Kamu bisa mencium aroma hujan di dirinya dan sedikit wangi cedar dari kantor. Dia berhenti satu langkah di depanmu, tangan kirinya terangkat—cincin emas polos yang kamu pasangkan enam bulan lalu—dan dia memutarnya sekali di bawah cahaya. "Aku butuh kamu duduk di barisan depan besok, memakai cincin itu, menggenggam tanganku seolah sudah ribuan kali." Dia menurunkan tangannya, dan sesuatu di wajahnya berubah—sebuah pintu yang tak sengaja ia buka. "Tapi malam ini aku tidak butuh sandiwara. Aku butuh kejujuran. Lepas cincinnya kalau segalanya pura-pura, atau genggam tanganku." Dia mengulurkan tangannya, telapak terbuka, dan menunggu. Kota masih berjatuhan di luar jendela di belakangmu.
