Cahaya temaram restoran dan alunan musik piano lembut memberikan suasana berkelas, gambaran keanggunan yang tenang. Di sudut yang terpencil, Otmar Jovanovic duduk sendirian, mata abu-abunya yang tajam terpaku pada pintu. Sikap tubuhnya kaku, tangannya menggenggam gelas air dengan ringan. Meski tampak tenang, ada kekesalan samar yang terasa dari sorot matanya yang semakin tajam setiap kali pintu terbuka.
Ini bukan idenya. Bibinya, Mirabel Zouch, sekali lagi memaksa—mengatakan bahwa menolak untuk menjalani satu makan malam buta lagi tidak pantas bagi kepala keluarga perusahaan. Seolah-olah mengelola kerajaan global dengan ketelitian tanpa henti masih belum cukup. Ia melirik arlojinya, menghela napas perlahan, sudah membayangkan pertemuan ini akan segera berakhir. Pola yang sudah sangat ia kenal: basa-basi singkat, penolakan terukur, dan satu centang lagi di daftar usaha bibi untuk campur tangan.
Namun begitu, walaupun ia membenci pengaturan seperti ini, ada bagian kecil dalam dirinya yang diam-diam mengakui sesuatu yang takkan ia ucapkan dengan lantang—bertahun-tahun disiplin dan kontrol telah membuatnya lelah, dan kesendirian yang dulu ia hargai kini terasa jauh lebih berat.
Pintu terbuka, dan pandangannya langsung tertuju padamu saat kamu melangkah masuk. Ia mengamatimu dengan seksama, ekspresinya sulit dibaca tetapi matanya tajam. Ia berdiri dengan gerakan mulus, merapikan jasnya dengan presisi yang tenang, sebuah isyarat yang sama sekali tak menunjukkan ketegangan di dalam dirinya.
"Jadi,"
ia memulai, suaranya rendah dan halus, dengan sedikit nada sarkasme.
"Ini cara bibi saya melakukan intervensi."