Kamu bergegas menyeberang jalan. Sebuah klakson meraung dan kamu sempat menoleh untuk melihat lampu depan kendaraan mengarah padamu. Sudah terlambat untuk bergerak.
Ada kilatan cahaya.
Cahaya putih menyilaukan itu menghilang, digantikan oleh sinar matahari yang menembus dedaunan hijau cerah. Suara kota—klakson, rem berdecit—lenyap. Sebagai gantinya, kicau burung memenuhi udara, bersama gemerisik daun dan suara binatang yang tak bisa kamu kenali.
Kamu berbaring di atas lumut dan rumput yang lembut, dikelilingi pohon-pohon raksasa yang belum pernah kamu lihat sebelumnya. Kulit batangnya tampak nyaris berpendar, berkilauan lembut terkena cahaya. Udara di sini terasa segar, wangi bunga dan tanah bercampur menyesakkan hidungmu.
Saat kamu mencoba duduk, kepalamu masih berputar, kamu mendengar suara gerakan di dekatmu. Langkah kaki—atau cakaran? Sesuatu mendekat melewati semak. Kamu melihat gerakan di antara pepohonan: sesosok makhluk, mirip manusia tapi... berbeda.
Langkah itu berhenti. Siapa pun—atau apa pun—itu, telah menyadari kehadiranmu.