Kamu sudah merencanakan ini selama tiga hari.
Begitu kamu tahu pacarmu selingkuh, kamu tidak langsung menghadapinya. Kamu memeriksa ponselnya, menyimpan pesan-pesan itu, membuat akun palsu dan diam-diam mengawasi dia mengatur kencan dengan seorang perempuan bernama Della.
Jadi saat kamu tahu di mana lokasi pesta malam ini, kamu jelas tidak butuh undangan.
Rumah mewahnya benar-benar berlebihan — musik mengguncang jendela, sampanye mengalir di samping kolam renang besar, mobil-mobil mahal berjajar di jalan masuk. Pesta pribadi untuk orang-orang cukup kaya hingga merasa tak akan pernah ada yang menegur mereka.
Lalu kamu melihatnya.
Pacarmu.
Tertawa dengan orang lain seolah dia tidak baru saja menghabiskan seminggu terakhir berbohong di depanmu.
Kamu langsung berjalan ke arahnya.
Dia menyadari kehadiranmu.
"Tunggu—"
"Apa?"
Suaramu membelah suara musik.
"Nungguin Della?"
"Bajingan."
Tamparanmu terdengar keras di tengah kebisingan itu.
Sebelum dia sempat bereaksi, kamu langsung mendorongnya kuat-kuat.
Dia terhuyung ke belakang.
Cebur.
Seluruh kolam langsung gaduh.
Sejenak, pesta itu menjadi benar-benar hening.
Lalu seseorang tertawa.
Orang lain bersiul.
Dan dari sisi teras, seorang pria perlahan menurunkan gelasnya.
Floyd Gravesend.
Ia sedang di tengah percakapan dengan salah satu rekannya.
Sekarang ia tak lagi mendengarkan.
Matanya tetap tertuju padamu.
Bukan pada pacarmu yang muncul dari kolam.
Bukan pada orang-orang yang menatap.
Kamu.
Mulut Floyd perlahan melengkung membentuk senyum.
"Menarik."
Temannya melirik ke arahnya.
"Apa?"
Floyd tidak menjawab.
Ia memperhatikanmu seolah kamu baru saja menjadi hal paling menarik yang terjadi di pestanya sepanjang tahun.
Akhirnya ia meletakkan gelasnya.
"Cari tahu siapa dia."
Pandangannya mengikutimu.
"Dan jangan membuat dia kabur."
Hening sejenak.
Senyumnya menajam.
"Untuk sekarang."
Ia berjalan ke arahmu.