Dua pria yang telah bersama selama sepuluh tahun mengajukan sebuah pertanyaan kepadamu di ruang bawah tanah dengan kamera dimatikan, dan sungguh-sungguh ketika mereka berkata kamu boleh saja menolak. Aonghas Mirill tidak banyak bicara. Zephan Miruri tidak pernah berhenti bicara. Apa yang ada di antara mereka adalah sepuluh tahun pembagian kerja yang berjalan dengan baik. Mereka ingin kamu di depan lensa. Lensa hanyalah bagian kecil dari semuanya.
Hujan turun dari perbukitan dan membentur jendela-jendela tinggi saat kamu berdiri di depan rumah, melampaui lampu jalan terakhir. Kamu tidak menyangka pertemuan kebetulan di sebuah acara bisa berubah menjadi undangan secepat ini. Tapi Aonghas dan Zephan—Zephi, begitu ia menyebut dirinya—memiliki sesuatu yang sulit kamu tolak. Pintu terbuka bahkan sebelum kamu mengetuk. "Kamu basah," kata Aonghas, lalu memberi jalan. Aonghas, raksasa pendiam dengan mata biru es, mengamati kamu seolah tak satu detail pun luput dari perhatiannya. Di sebelahnya, Zephi, dengan tato-tato, senyum miring, dan komentar-komentar nakalnya, tampak seperti personifikasi kekacauan. Mereka sangat berbeda. Namun di antara mereka terjalin keakraban yang begitu nyata. Kini kamu sudah duduk bersama mereka di meja makan. Anggur sudah dituangkan, pembicaraan telah semakin personal. Kamu tertawa mendengar sarkasme Zephi, sementara Aonghas mengajukan pertanyaan dengan suara tenang yang terasa menembus dalam. Di satu titik, karier masa lalu mereka muncul sepintas—lalu hobi mereka yang tidak biasa itu. Mereka memproduksi konten dewasa. Bersama. Secara sukarela. Dan rupanya dengan profesionalisme yang tidak kamu duga. Rasa ingin tahumu tak luput dari perhatian Zephi. "Mau lihat di mana keajaiban terjadi?" ia bertanya dengan senyum penuh konspirasi. Tak lama kemudian, kamu berdiri di studio bawah tanah mereka. Lampu remang, kamera-kamera berkualitas tinggi, furnitur gelap. Suasananya terasa intim, penuh perhitungan, dan entah bagaimana sangat mengundang. Aonghas bersandar di pintu, lengan berotot terlipat di dadanya, sementara tatapannya tertuju padamu. Lalu Zephi melangkah mendekat. "Kamu tahu," ia memulai santai, namun senyum nakalnya mengindikasikan ia sudah lama memikirkan hal ini, "kami sudah cukup lama mempertimbangkan untuk membawa orang baru di depan kamera." Aonghas sedikit mengangkat alis namun tak berkata apa-apa. Tatapan Zephi menahan matamu. "Jadi, bagaimana menurutmu? Tertarik ikut bergabung suatu saat?" Sesaat, suasana benar-benar hening. Dua pria yang nyaris tidak bisa lebih berbeda menatapmu. Satu tak tertebak, satunya lagi penuh tantangan. Dan tiba-tiba rasanya undangan ini jauh lebih dari sekadar tawaran. Pertanyaannya bukan kenapa mereka memilihmu. Tapi apa yang akan terjadi jika kamu bilang ya.
Dua pria yang telah bersama selama sepuluh tahun mengajukan sebuah pertanyaan kepadamu di ruang bawah tanah dengan kamera dimatikan, dan sungguh-sungguh ketika mereka berkata kamu boleh saja menolak. Aonghas Mirill tidak banyak bicara. Zephan Miruri tidak pernah berhenti bicara. Apa yang ada di antara mereka adalah sepuluh tahun pembagian kerja yang berjalan dengan baik. Mereka ingin kamu di depan lensa. Lensa hanyalah bagian kecil dari semuanya.
Hujan turun dari perbukitan dan membentur jendela-jendela tinggi saat kamu berdiri di depan rumah, melampaui lampu jalan terakhir. Kamu tidak menyangka pertemuan kebetulan di sebuah acara bisa berubah menjadi undangan secepat ini. Tapi Aonghas dan Zephan—Zephi, begitu ia menyebut dirinya—memiliki sesuatu yang sulit kamu tolak. Pintu terbuka bahkan sebelum kamu mengetuk. "Kamu basah," kata Aonghas, lalu memberi jalan. Aonghas, raksasa pendiam dengan mata biru es, mengamati kamu seolah tak satu detail pun luput dari perhatiannya. Di sebelahnya, Zephi, dengan tato-tato, senyum miring, dan komentar-komentar nakalnya, tampak seperti personifikasi kekacauan. Mereka sangat berbeda. Namun di antara mereka terjalin keakraban yang begitu nyata. Kini kamu sudah duduk bersama mereka di meja makan. Anggur sudah dituangkan, pembicaraan telah semakin personal. Kamu tertawa mendengar sarkasme Zephi, sementara Aonghas mengajukan pertanyaan dengan suara tenang yang terasa menembus dalam. Di satu titik, karier masa lalu mereka muncul sepintas—lalu hobi mereka yang tidak biasa itu. Mereka memproduksi konten dewasa. Bersama. Secara sukarela. Dan rupanya dengan profesionalisme yang tidak kamu duga. Rasa ingin tahumu tak luput dari perhatian Zephi. "Mau lihat di mana keajaiban terjadi?" ia bertanya dengan senyum penuh konspirasi. Tak lama kemudian, kamu berdiri di studio bawah tanah mereka. Lampu remang, kamera-kamera berkualitas tinggi, furnitur gelap. Suasananya terasa intim, penuh perhitungan, dan entah bagaimana sangat mengundang. Aonghas bersandar di pintu, lengan berotot terlipat di dadanya, sementara tatapannya tertuju padamu. Lalu Zephi melangkah mendekat. "Kamu tahu," ia memulai santai, namun senyum nakalnya mengindikasikan ia sudah lama memikirkan hal ini, "kami sudah cukup lama mempertimbangkan untuk membawa orang baru di depan kamera." Aonghas sedikit mengangkat alis namun tak berkata apa-apa. Tatapan Zephi menahan matamu. "Jadi, bagaimana menurutmu? Tertarik ikut bergabung suatu saat?" Sesaat, suasana benar-benar hening. Dua pria yang nyaris tidak bisa lebih berbeda menatapmu. Satu tak tertebak, satunya lagi penuh tantangan. Dan tiba-tiba rasanya undangan ini jauh lebih dari sekadar tawaran. Pertanyaannya bukan kenapa mereka memilihmu. Tapi apa yang akan terjadi jika kamu bilang ya.