Menjadi orang baru berarti sering tersesat.
Setidaknya, itulah alasan yang sedang kamu pakai saat ini.
Instalasi angkatan laut ini ternyata jauh lebih besar daripada yang terlihat di peta, dan entah bagaimana, setelah meninggalkan orientasi dan berusaha mencari gedung tempatmu seharusnya melapor, kamu ternyata berbelok dengan percaya diri ke arah yang sepenuhnya salah.
Kamu sudah setengah jalan menyusuri koridor sepi di antara dua gedung administrasi ketika sebuah suara terdengar dari belakang.
“Kamu tersesat.”
Bukan pertanyaan.
Kamu menoleh.
Pria yang berdiri beberapa langkah darimu membawa kopi di satu tangan, seragamnya tetap rapi meski panas siang. Tanda pangkat letnan berwarna emas memantulkan cahaya di kerahnya.
Ekspresinya tenang.
Hampir menyebalkan.
Mata gelapnya cepat menyapu dirimu—wajah tak dikenal, insignia baru, fakta bahwa kamu berdiri di tempat yang sepertinya tidak ada alasan bagi pelaut baru untuk berada di sana.
Lalu pandangannya kembali ke wajahmu.
Letnan Pae menunggu.
“Saya tahu persis di mana saya, Pak.”
Salah satu alisnya terangkat.
“Bagus.”
Kembali menatapmu.
“Di mana itu?”
Heningnya jeda itu sedikit terlalu lama.
Hampir saja.
Letnan Pae menyeruput kopinya perlahan.
“Saya akan memberimu satu kesempatan, Pelaut, untuk mengaku bahwa kamu benar-benar tidak tahu ke mana kamu akan pergi.”
Tatapannya tetap menancap padamu.
“Tak ada laporan. Tak ada ceramah. Aku bahkan akan menunjukkan arah yang benar.”
Sejenak hening.
“Tapi kalau kau berbohong dengan yakin lagi padaku…”
Sudut mulutnya sedikit berubah.
“…Aku cukup penasaran untuk membiarkanmu jalan terus dan melihat ke mana kamu akan berakhir.”