Shift pertamamu dimulai pukul enam, dan pria pertama yang masuk sudah selesai satu ronde dan meletakkan kuncinya di meja konter tanpa sepatah kata pun. Jannik Sturm berusia dua puluh dua, dua meter penuh otot diam dan jawaban kering, dan adalah petinju terbaik di gedung ini. Dia tidak suka basa-basi, tidak pernah menjelaskan dirinya, dan sejak minggu kamu diterima kerja, dia selalu datang satu jam lebih awal. Lalu seseorang meninggalkan catatan di mejamu tentang dirinya, dan dia berdiri di pintu keluar seolah-olah tidak tahu apa-apa soal itu.
Senin | 05.56 WIB | Kranich Boxing & Fitness Di luar masih gelap. Jalanan basah karena hujan semalam, dan pada jam segini, kota terasa hampir damai. Di dalam gym, lampu sudah berdengung pelan. Dari aula tinju, seorang pelatih, datar seperti metronom: "Tangan di atas. Lagi." Aroma karet, logam, disinfektan, dan lantai yang baru dipel tang baru tercium di udara. Kamu sudah di sini tepat dua puluh empat menit. Hari pertama kerja. Resepsionis baru. Studio baru. Orang-orang baru. Dan di jam segini, jumlah pria yang ternyata rela bangun sebelum orang lain sempat mengumpat pada jam weker mereka cukup banyak. ⸻ Kranich bukan studio kebugaran biasa. Di depan ada resepsionis dengan komputer, telepon, dokumen keanggotaan, dan etalase kaca berisi protein bar, minuman, dan hand wrap. Ke kiri, ada lorong menuju area tinju. Dari sana, sudah terdengar suara pukulan tumpul ke samsak. Musik pelan mengalun di latar. Seseorang menghitung repetisi dengan suara keras. Seseorang tertawa. Orang lain mengumpat tentang burpees sepagi ini. ⸻ Bosmu, manajer studio Kurt Hallmann, tadi menjelaskan hal-hal penting hanya beberapa menit lalu. "Kalau ada yang tanya soal kontrak, masukkan ke sistem. Kalau ada supplier datang, terima paket. Dan kalau Jannik Sturm muncul—" Dia tidak menyelesaikan kalimatnya. Sebaliknya, dia hanya menatapmu sebentar. "Sebenarnya, tak perlu perlakuan khusus. Dia sudah lama latihan di sini. Hampir tiap pagi datang. Gampang orangnya. Cuma …" Sebentar berhenti. "Dia jarang bicara." Lalu Kurt tersenyum. "Jangan ambil pusing. Memang begitu orangnya." ⸻ 06.03 WIB. Pintu masuk terbuka. Angin dingin bertiup masuk. Bersama itu, seorang pria yang langsung mencolok masuk. Jannik Sturm. Tinggi. Badan bidang. Bahu kokoh, tubuh atas berotot, dan cara berjalan tenang dan terkendali, seolah tiap gerakannya sudah diperhitungkan. Dia mengenakan celana training gelap, kaus tanpa lengan hitam, wrap hitam melilit kedua tangan, dan tas gym hitam di pundak. Lengan bawahnya penuh tato. Garis-garis gelap, gradasi, dan gambar-gambar menghiasi kulitnya sampai tepat di bawah siku, dan di lengan kiri tinta naik ke bahu: elang, salib, singa, jam. Rambut pirang gelapnya pendek dan agak berantakan, seperti baru diusap tangan basah. Wajahnya tegas. Hidung mancung lurus. Garis rahang tegas. Janggut tipis. Dan mata abu-abu terang mencolok, hampir perak di sinar pagi yang dingin. ⸻ Jannik berjalan lurus ke konter resepsionis. Pandangan matanya singkat padamu. Kemudian ke name tag di meja. Lalu kembali ke arahmu. "Kamu orang baru." Suaranya dalam dan tenang. Tidak ramah, tapi juga tidak berusaha mengarahkan percakapan ke arah yang hangat. Dia meletakkan kunci loker di meja konter. "Kurt akhirnya berhasil cari orang yang mau kerja sepagi ini." Sebentar berhenti. Lalu sudut bibirnya naik sedikit sekali. "Hormatilah." ⸻ Sebelum kamu sempat menjawab, Kurt muncul dari area belakang. "Itu dia, pasien favorit kita." Jannik menatapnya dengan pandangan datar. "Selamat pagi juga." Kurt menyeringai. "Jannik, ini resepsionis baru kita." Lalu ia menatapmu. "Dan ini Jannik. Petinju profesional, member rutin, hampir tiap pagi sudah di sini sebelum jam tujuh, dan alergi sama basa-basi nggak penting." Jannik melepas tas dari pundaknya dan menatap Kurt. "Aku nggak alergi." Sebentar. "Cuma benci saja." Kurt tertawa keras. "Lihat? Biasa saja kok." ⸻ Jannik mengambil lagi kuncinya tapi sempat ragu sebentar. Lalu ia memandang ke arahmu sekali lagi. "Kalau hari ini ada yang bilang aku sulit, itu cuma separuh benar." Ia mengambil minuman energi dari kulkas samping meja. "Separuhnya lagi dilebih-lebihkan." Kurt menggelengkan kepala. "Sejak diwawancara sekali itu, dia merasa lucu sendiri." Jannik membuka kalengnya. "Penontonnya puas sekali." "Penontonnya cuma tiga wartawan dan satu perempuan bawa mic." "Empat fans itu awal yang bagus." ⸻ Dengan komentar kering itu, Jannik menghilang ke area latihan. Di sana, dia membalut tangannya, seolah-olah sudah jadi rutinitas. Tak menoleh kiri kanan. Tak tampak seperti mencari perhatian. Dan justru karena itu dia menonjol sendiri. ⸻ 06.27 WIB. Setengah jam berikutnya berlalu dengan kartu member, tanya-jawab soal jam buka, dan seorang kakek yang yakin botol minumnya dicuri padahal hanya tiga meter dari dirinya. Lalu situasi jadi agak sepi. Dari aula tinju terdengar suara ritmis sarung tinju menghantam samsak. Presisi. Cepat. Keras. Akhirnya, Kurt muncul lagi ke depan. "Kalau mau, nanti kamu bisa lihat-lihat studio dengan tenang. Sekalian kenalan sama pelatih dan ruangan belakang." Ia mengangguk ke arah belakang. "Jannik biasanya latihan sampai setengah delapan. Habis itu, dia nyaris manusia biasa." Sebentar berhenti. "Nyaris." ⸻ 07.11 WIB. Kamu baru saja membawa beberapa formulir ke kantor kecil di samping aula latihan saat terdengar suara orang dari ruang latihan. "Pertahanannya lebih tinggi!" Itu suara Kalthoff. "Sudah tinggi." "Kalau masih bisa kena, berarti belum cukup tinggi." Suara benturan tumpul. Lalu tawa berat, kering. Jannik. "Mungkin kamu memang terlalu ceria buat jam segini." "Kamu saja yang lambat." "Ulangi sekali lagi." "Terlalu. Lambat." ⸻ Saat melewati ruang latihan yang pintunya terbuka, untuk pertama kali kamu melihat Jannik latihan yang serius. Sekarang dia memakai sarung tangan hitam. Kaosnya menempel di bahu dan tubuh bagian atas. Gerakannya terfokus dan bersih. Tak banyak gerakan sia-sia. Tak ada gaya-gayaan. Dia cepat, terkendali, dan tampak hampir menyeramkan dalam ketenangannya. Saat Kalthoff memanggil istirahat pendek, Jannik melonggarkan salah satu sarung tangannya pakai gigi, lalu meraih botol minum. Saat itu, dia mengangkat pandangan. Menyadari kehadiranmu di pintu. Sebentar saja, perhatiannya tertuju padamu. Bukan menekan. Tapi jelas disengaja. "Sudah kabur?" Suaranya kini agak serak karena latihan. Setetes air mengalir dari garis rambut ke pelipisnya. Dia mengusapnya dengan punggung tangan. "Atau kamu cukup tahan menghadapi kami?" ⸻ Kurt memanggil untuk paket di belakang. Kalthoff sebentar pergi ke ruang alat. Beberapa detik, area latihan yang biasanya ramai tiba-tiba jadi sunyi. Jannik meletakkan botol minum dan melangkah mendekat beberapa langkah. Dari dekat, tatonya tampak makin detail. Shading hitam-abu, garis tegas, juga angka kecil di bagian dalam lengan bawah, tampak seperti sesuatu yang personal. Ia berhenti di jarak aman. "Buat persiapan." Mata abu-abunya menatapmu. "Pagi aku pendiam. Habis latihan, biasanya sedikit lebih bisa diajak bicara." Nada suaranya ada sedikit gurauan. "Dan kalau Ottmar, si berat baru, datang hari ini, jangan percaya omongannya. Sudah berminggu-minggu dia bilang aku takut hook kanannya." Jannik mengambil botolnya lagi. "Aku cuma takut dia keseleo sendiri waktu nyerang." ⸻ Lalu ponselnya bergetar di bangku. Dia melirik layar. Ekspresinya nyaris tak berubah, tapi sedikit kelonggarannya lenyap. Dia membaca pesan itu. Rahangnya mengeras. Kalthoff kembali masuk dan langsung melihat perubahan itu. "Ada apa?" Jannik menyimpan ponselnya. "Nggak apa-apa." Terlalu cepat. Terlalu datar. Kalthoff tidak menanggapi. Tapi matanya menatap Jannik sebentar lebih lama. Jannik merapikan lagi sarung tangannya. Lalu menatapmu lagi. "Kalau ada yang nanya aku hari ini dan katanya mood-ku ceria banget—itu bohong." Sebentar berhenti. Lalu dia balik ke ring. Hanya beberapa detik setelah itu, kombinasi pertama kembali menghantam focus mitt dengan keras. Lebih keras dari sebelumnya. Lebih terkontrol. Dan jelas lebih penuh tenaga. ⸻ Menjelang akhir shift pertamamu, ada kertas catatan tergulung di meja resepsionis. Tanpa amplop. Tanpa penjelasan. Bahkan tanpa nama kamu. Hanya pesan singkat yang ditulis buru-buru: "Bilang ke Jannik jangan pulang sendirian malam ini." Di bawahnya, tanpa nama pengirim. Hanya titik hitam yang digambar miring. Dan saat kamu mendongak, Jannik sudah berdiri beberapa meter di pintu keluar, tas gym di pundak, seolah-olah benar-benar tidak tahu apapun. Dia lama menahan pandangan matamu, lalu mengangkat dagu ke arah kertas di tanganmu. "Baca setelah aku pergi," katanya. "Dan jangan bilang ke Hallmann."
Shift pertamamu dimulai pukul enam, dan pria pertama yang masuk sudah selesai satu ronde dan meletakkan kuncinya di meja konter tanpa sepatah kata pun. Jannik Sturm berusia dua puluh dua, dua meter penuh otot diam dan jawaban kering, dan adalah petinju terbaik di gedung ini. Dia tidak suka basa-basi, tidak pernah menjelaskan dirinya, dan sejak minggu kamu diterima kerja, dia selalu datang satu jam lebih awal. Lalu seseorang meninggalkan catatan di mejamu tentang dirinya, dan dia berdiri di pintu keluar seolah-olah tidak tahu apa-apa soal itu.
Senin | 05.56 WIB | Kranich Boxing & Fitness Di luar masih gelap. Jalanan basah karena hujan semalam, dan pada jam segini, kota terasa hampir damai. Di dalam gym, lampu sudah berdengung pelan. Dari aula tinju, seorang pelatih, datar seperti metronom: "Tangan di atas. Lagi." Aroma karet, logam, disinfektan, dan lantai yang baru dipel tang baru tercium di udara. Kamu sudah di sini tepat dua puluh empat menit. Hari pertama kerja. Resepsionis baru. Studio baru. Orang-orang baru. Dan di jam segini, jumlah pria yang ternyata rela bangun sebelum orang lain sempat mengumpat pada jam weker mereka cukup banyak. ⸻ Kranich bukan studio kebugaran biasa. Di depan ada resepsionis dengan komputer, telepon, dokumen keanggotaan, dan etalase kaca berisi protein bar, minuman, dan hand wrap. Ke kiri, ada lorong menuju area tinju. Dari sana, sudah terdengar suara pukulan tumpul ke samsak. Musik pelan mengalun di latar. Seseorang menghitung repetisi dengan suara keras. Seseorang tertawa. Orang lain mengumpat tentang burpees sepagi ini. ⸻ Bosmu, manajer studio Kurt Hallmann, tadi menjelaskan hal-hal penting hanya beberapa menit lalu. "Kalau ada yang tanya soal kontrak, masukkan ke sistem. Kalau ada supplier datang, terima paket. Dan kalau Jannik Sturm muncul—" Dia tidak menyelesaikan kalimatnya. Sebaliknya, dia hanya menatapmu sebentar. "Sebenarnya, tak perlu perlakuan khusus. Dia sudah lama latihan di sini. Hampir tiap pagi datang. Gampang orangnya. Cuma …" Sebentar berhenti. "Dia jarang bicara." Lalu Kurt tersenyum. "Jangan ambil pusing. Memang begitu orangnya." ⸻ 06.03 WIB. Pintu masuk terbuka. Angin dingin bertiup masuk. Bersama itu, seorang pria yang langsung mencolok masuk. Jannik Sturm. Tinggi. Badan bidang. Bahu kokoh, tubuh atas berotot, dan cara berjalan tenang dan terkendali, seolah tiap gerakannya sudah diperhitungkan. Dia mengenakan celana training gelap, kaus tanpa lengan hitam, wrap hitam melilit kedua tangan, dan tas gym hitam di pundak. Lengan bawahnya penuh tato. Garis-garis gelap, gradasi, dan gambar-gambar menghiasi kulitnya sampai tepat di bawah siku, dan di lengan kiri tinta naik ke bahu: elang, salib, singa, jam. Rambut pirang gelapnya pendek dan agak berantakan, seperti baru diusap tangan basah. Wajahnya tegas. Hidung mancung lurus. Garis rahang tegas. Janggut tipis. Dan mata abu-abu terang mencolok, hampir perak di sinar pagi yang dingin. ⸻ Jannik berjalan lurus ke konter resepsionis. Pandangan matanya singkat padamu. Kemudian ke name tag di meja. Lalu kembali ke arahmu. "Kamu orang baru." Suaranya dalam dan tenang. Tidak ramah, tapi juga tidak berusaha mengarahkan percakapan ke arah yang hangat. Dia meletakkan kunci loker di meja konter. "Kurt akhirnya berhasil cari orang yang mau kerja sepagi ini." Sebentar berhenti. Lalu sudut bibirnya naik sedikit sekali. "Hormatilah." ⸻ Sebelum kamu sempat menjawab, Kurt muncul dari area belakang. "Itu dia, pasien favorit kita." Jannik menatapnya dengan pandangan datar. "Selamat pagi juga." Kurt menyeringai. "Jannik, ini resepsionis baru kita." Lalu ia menatapmu. "Dan ini Jannik. Petinju profesional, member rutin, hampir tiap pagi sudah di sini sebelum jam tujuh, dan alergi sama basa-basi nggak penting." Jannik melepas tas dari pundaknya dan menatap Kurt. "Aku nggak alergi." Sebentar. "Cuma benci saja." Kurt tertawa keras. "Lihat? Biasa saja kok." ⸻ Jannik mengambil lagi kuncinya tapi sempat ragu sebentar. Lalu ia memandang ke arahmu sekali lagi. "Kalau hari ini ada yang bilang aku sulit, itu cuma separuh benar." Ia mengambil minuman energi dari kulkas samping meja. "Separuhnya lagi dilebih-lebihkan." Kurt menggelengkan kepala. "Sejak diwawancara sekali itu, dia merasa lucu sendiri." Jannik membuka kalengnya. "Penontonnya puas sekali." "Penontonnya cuma tiga wartawan dan satu perempuan bawa mic." "Empat fans itu awal yang bagus." ⸻ Dengan komentar kering itu, Jannik menghilang ke area latihan. Di sana, dia membalut tangannya, seolah-olah sudah jadi rutinitas. Tak menoleh kiri kanan. Tak tampak seperti mencari perhatian. Dan justru karena itu dia menonjol sendiri. ⸻ 06.27 WIB. Setengah jam berikutnya berlalu dengan kartu member, tanya-jawab soal jam buka, dan seorang kakek yang yakin botol minumnya dicuri padahal hanya tiga meter dari dirinya. Lalu situasi jadi agak sepi. Dari aula tinju terdengar suara ritmis sarung tinju menghantam samsak. Presisi. Cepat. Keras. Akhirnya, Kurt muncul lagi ke depan. "Kalau mau, nanti kamu bisa lihat-lihat studio dengan tenang. Sekalian kenalan sama pelatih dan ruangan belakang." Ia mengangguk ke arah belakang. "Jannik biasanya latihan sampai setengah delapan. Habis itu, dia nyaris manusia biasa." Sebentar berhenti. "Nyaris." ⸻ 07.11 WIB. Kamu baru saja membawa beberapa formulir ke kantor kecil di samping aula latihan saat terdengar suara orang dari ruang latihan. "Pertahanannya lebih tinggi!" Itu suara Kalthoff. "Sudah tinggi." "Kalau masih bisa kena, berarti belum cukup tinggi." Suara benturan tumpul. Lalu tawa berat, kering. Jannik. "Mungkin kamu memang terlalu ceria buat jam segini." "Kamu saja yang lambat." "Ulangi sekali lagi." "Terlalu. Lambat." ⸻ Saat melewati ruang latihan yang pintunya terbuka, untuk pertama kali kamu melihat Jannik latihan yang serius. Sekarang dia memakai sarung tangan hitam. Kaosnya menempel di bahu dan tubuh bagian atas. Gerakannya terfokus dan bersih. Tak banyak gerakan sia-sia. Tak ada gaya-gayaan. Dia cepat, terkendali, dan tampak hampir menyeramkan dalam ketenangannya. Saat Kalthoff memanggil istirahat pendek, Jannik melonggarkan salah satu sarung tangannya pakai gigi, lalu meraih botol minum. Saat itu, dia mengangkat pandangan. Menyadari kehadiranmu di pintu. Sebentar saja, perhatiannya tertuju padamu. Bukan menekan. Tapi jelas disengaja. "Sudah kabur?" Suaranya kini agak serak karena latihan. Setetes air mengalir dari garis rambut ke pelipisnya. Dia mengusapnya dengan punggung tangan. "Atau kamu cukup tahan menghadapi kami?" ⸻ Kurt memanggil untuk paket di belakang. Kalthoff sebentar pergi ke ruang alat. Beberapa detik, area latihan yang biasanya ramai tiba-tiba jadi sunyi. Jannik meletakkan botol minum dan melangkah mendekat beberapa langkah. Dari dekat, tatonya tampak makin detail. Shading hitam-abu, garis tegas, juga angka kecil di bagian dalam lengan bawah, tampak seperti sesuatu yang personal. Ia berhenti di jarak aman. "Buat persiapan." Mata abu-abunya menatapmu. "Pagi aku pendiam. Habis latihan, biasanya sedikit lebih bisa diajak bicara." Nada suaranya ada sedikit gurauan. "Dan kalau Ottmar, si berat baru, datang hari ini, jangan percaya omongannya. Sudah berminggu-minggu dia bilang aku takut hook kanannya." Jannik mengambil botolnya lagi. "Aku cuma takut dia keseleo sendiri waktu nyerang." ⸻ Lalu ponselnya bergetar di bangku. Dia melirik layar. Ekspresinya nyaris tak berubah, tapi sedikit kelonggarannya lenyap. Dia membaca pesan itu. Rahangnya mengeras. Kalthoff kembali masuk dan langsung melihat perubahan itu. "Ada apa?" Jannik menyimpan ponselnya. "Nggak apa-apa." Terlalu cepat. Terlalu datar. Kalthoff tidak menanggapi. Tapi matanya menatap Jannik sebentar lebih lama. Jannik merapikan lagi sarung tangannya. Lalu menatapmu lagi. "Kalau ada yang nanya aku hari ini dan katanya mood-ku ceria banget—itu bohong." Sebentar berhenti. Lalu dia balik ke ring. Hanya beberapa detik setelah itu, kombinasi pertama kembali menghantam focus mitt dengan keras. Lebih keras dari sebelumnya. Lebih terkontrol. Dan jelas lebih penuh tenaga. ⸻ Menjelang akhir shift pertamamu, ada kertas catatan tergulung di meja resepsionis. Tanpa amplop. Tanpa penjelasan. Bahkan tanpa nama kamu. Hanya pesan singkat yang ditulis buru-buru: "Bilang ke Jannik jangan pulang sendirian malam ini." Di bawahnya, tanpa nama pengirim. Hanya titik hitam yang digambar miring. Dan saat kamu mendongak, Jannik sudah berdiri beberapa meter di pintu keluar, tas gym di pundak, seolah-olah benar-benar tidak tahu apapun. Dia lama menahan pandangan matamu, lalu mengangkat dagu ke arah kertas di tanganmu. "Baca setelah aku pergi," katanya. "Dan jangan bilang ke Hallmann."