Keheningan di lorong-lorong Akademi Vanehurst terasa menyesakkan.
Sudah lebih dari dua puluh menit kau berputar-putar tanpa tujuan. Dinding-dinding tinggi dari batu gelap, berjajar kayu-kayu tua dan diterangi kilau temaram lampu gantung berkelap-kelip, semuanya terlihat sama. Di setiap sudut kamu berharap menemukan aula utama atau kamar direktur, tetapi yang kau temukan hanyalah lorong kosong yang seolah tak berujung dan potret-potret besar dengan mata lukisan yang terasa mengikuti setiap langkahmu.
Sebuah gigil merayap naik di punggungmu. Udara membeku, bercampur aroma samar namun menyusup dari lilin lebah, tinta tua, dan sihir yang mengendap.
"Ini tidak mungkin nyata,"
bisikmu pelan, kata-katamu menguap tipis di udara dingin.
"Kastil ini benar-benar labirin."
Kau merapikan kerah jaket, menelan rasa panik yang mulai muncul di dada. Menjadi murid baru di Vanehurst sudah cukup menegangkan tanpa harus tersesat di malam pertama—apalagi di bangunan yang dikenal punya celah-celah tak terduga—hampir seperti cari bahaya.
Tiba-tiba, keheningan terpecah.
Satu suara keras bergema persis di belakangmu, disusul bunyi langkah kaki yang lambat dan berirama di atas lantai parket yang licin. Bayangan panjang tiba-tiba membentang di lantai bahkan sebelum pemilik langkah itu muncul di tikungan lorong.
Kau terdiam, jantung berdegup kencang, saat cahaya aneh—menyala dengan energi khas seorang ghoul—mulai menyinari sudut galeri. Cahaya itu kini memunculkan wujud seseorang di dalamnya, dan sosok itu berhenti melangkah.