Kamu sedang di altar menikahi salah satu saudara Dorngaard ketika yang lain masuk, sudah tujuh tahun meninggal, membawa cincin yang tak pernah sempat ia berikan padamu.
Pintu gereja terbanting terbuka begitu keras hingga membentur dinding. Sebuah desahan kaget bergema di sepanjang kapel. Entah dari baris depan terdengar suara kaca pecah menghantam lantai batu. Musik berhenti, pemain biola menyeret satu nada terakhir yang sumbang sepanjang keheningan. Kamu nyaris tak menyadari. Karena pria yang berdiri di ambang pintu itu punya rambut gelap yang sama, bahu lebar yang sama, bekas luka membelah alis kiri yang begitu lama berusaha kamu lupakan. Tujuh tahun terbangun meraih seseorang yang tak pernah ada. Tujuh tahun menangis ke bantal supaya tak ada yang mendengar. Tujuh tahun mengunjungi makam kosong karena hanya di sanalah kamu bisa menitipkan duka. Tujuh tahun belajar bernapas tanpanya. Dan kini— Kini dia berdiri di belakang kapel, berpakaian serba hitam, dadanya naik turun seolah telah berlari sejauh masa lalu ke masa kini demi sampai di sini. Whitby. Whitby-mu. Hidup. Buketan bungamu terlepas. Mawar putih berjatuhan di lorong, kelopaknya diinjak para tamu yang berdiri ingin melihat lebih jelas. Bisik-bisik menyeruak di sekeliling, tapi terdengar jauh, sayup-sayup, seolah kamu sedang tenggelam di bawah air. Tidak. Tidak mungkin ini nyata. Kamu menyaksikan sendiri agen FBI berdiri di teras ibumu dengan wajah tegas dan kata-kata hati-hati. Kamu mendengar mereka menjelaskan bahwa Whitby hilang di bawah dugaan mencurigakan. Berminggu-minggu kamu bertahan pada kemungkinan ia masih ada di luar sana, terluka atau bersembunyi, menanti kesempatan untuk pulang. Sampai akhirnya harapan hanya menjadi luka lain yang tak sanggup kamu panggul. Jasadnya tak pernah ditemukan. Tapi akhirnya semua berhenti mencari. Semua kecuali kamu. Meski kamu tak lagi melafalkan namanya. Meski akhirnya kamu belajar tersenyum kembali. Meski kamu memutuskan menikahi saudaranya. Di sampingmu, Fordham membeku total. Kamu bisa merasakannya sebelum melirik ke arahnya. Tegangnya genggaman tangannya, bahu yang tiba-tiba kaku. Barusan dia masih menggenggam tanganmu, hangat dan menenangkan, ketika penghulu membacakan soal cinta, komitmen dan selamanya. Sekarang Fordham menatap ke arah pintu seolah baru melihat hantu. "Whitby," bisiknya. Suaranya pecah saat menyebut nama itu. Kamu menoleh pada tunanganmu, jantungmu berdetak begitu kencang hingga mual. "Kamu tahu?" bisikmu. Mata Fordham langsung menatapmu. "Apa? Tidak." Namun sesuatu melintas di wajahnya. Tak bisa kamu kenali, terkubur di bawah keterkejutan dan ketidakpercayaan. Kemudian Whitby melangkah mendekat. Dan lagi. Para tamu menyingkir memberi jalan, sebagian mundur, lainnya terpaku menganga. Ia tampak lebih tua. Tentu saja. Tujuh tahun telah berlalu. Ada guratan halus di sudut matanya, rahang yang kini lebih tegas, serta kegelapan dalam ekspresinya yang dulu belum pernah kamu lihat saat kalian muda. Tapi itu memang dia. Laki-laki yang mengecupmu di balik tribun setelah pertandingan kampus terakhirmu. Yang mencuri truk ayahnya untuk mengajakmu ke danau di ulang tahun ke-18-mu. Pria yang pernah berjanji padamu, menempelkan dahi ke dahimu, jari-jari saling terajut, bahwa takkan ada satu hari pun yang membuatmu ragu akan cintanya. Pria yang menghilang di akhir pekan dia berencana melamarmu. Kakimu mulai goyah. Whitby berhenti di tengah lorong. Tatapannya menemukanmu, dan sejenak waktu seolah berhenti—kalian sama-sama tak bergerak. Kamu mencari penjelasan di wajahnya. Permintaan maaf. Apapun yang bisa membuat tujuh tahun terakhir masuk akal. Pandangannya bergerak ke gaun putihmu, kerudung yang disematkan di rambut, cincin yang menanti di jarimu. Lalu ia memandang Fordham. Dan sesuatu dalam dirinya runtuh. "Tidak," ucap Whitby. Tak perlu keras. Sudah cukup. Fordham melangkah melindungi dirimu. "Whitby." Kali ini suaranya lebih tajam. "Apa yang kau lakukan di sini?" Whitby tertawa getir, matanya tak lepas darimu. "Menurutmu apa, Fordham?" "Kamu harus pergi." "Pergi?" ulang Whitby, baru menatap saudaranya. "Aku hilang tujuh tahun, dan pulang-pulang kudapati kamu di altar dengan wanita yang akan kunikahi?" Napasmu tercekat. Kapel begitu sunyi hingga suara AC terdengar samar. Rahang Fordham mengeras. "Kamu sudah pergi." "Aku masih hidup." "Kami tak tahu itu." "Aku pun sempat tak yakin." Kata-kata itu seperti batu menimpa hati. Baru kini kamu menyadari tangan Whitby bergetar di samping tubuhnya. Ia tampak kelelahan. Bukan sekadar lelah, tapi tergerus jadi sosok rapuh di balik amarah itu. Ia tampak seperti pria yang sudah lama berlari. Namun hanya satu hal yang bisa kamu pikirkan: dia kembali. Ia kembali, dan kamu berdiri di altar, bersiap berjanji hidupmu pada saudaranya. "Katakan sesuatu," bisikmu. Ekspresi Whitby berubah seketika. Amarah lenyap, terluapkan oleh yang jauh lebih menghancurkan: luka. Ia maju selangkah tak pasti. "Sayang." Satu kata itu memecahkan dirimu. Tanganku menutup mulut, tapi isakan tetap lolos. Tubuhmu mengingat dia jauh sebelum pikiranmu sempat menalar. Suara lembutnya, panggilan sayang yang dulu cuma milikmu, sorot matanya yang pernah jadi duniamu. Tujuh tahun seolah memudar dalam sekali helaan napas. Kamu ingin lari padanya. Kamu ingin memukulnya. Kamu ingin menuntut kenapa ia membiarkanmu menguburnya di hati, padahal nyatanya masih bernafas di dunia ini. Tapi kamu membeku di tempat. "Jangan," gumammu tercekik. Whitby berhenti. "Jangan panggil aku seperti itu." Wajahnya nyaris runtuh sebelum dipaksanya tetap tenang. "Oke." Kamu benci dia mendengarkan. Benci caranya menatapmu dengan mata yang begitu familiar. Kamu benci sebagian dirimu, masih rusak, bodoh, berharap ia meraih tanganmu. "Kamu sudah mati," bisikmu. "Aku tahu." "Tidak." Suaraku naik, bergetar. "Tidak, kamu tak berhak bilang begitu. Kamu tak bisa berdiri di sana dan bilang kamu tahu. Aku melihat ibuku menabur bunga di makam kosongmu. Tujuh tahun aku bertanya-tanya, apakah kamu kedinginan di suatu tempat, atau terluka, atau—" Suaramu pecah. Whitby tampak seperti setiap kata melukainya secara fisik. "Aku sudah mencoba pulang." "Jadi kenapa tidak pulang?" Mulutnya terbuka, tak ada jawaban. Fordham mendekat ke arahmu. "Waktu ini tidak tepat." Kepala Whitby menoleh cepat ke arahnya. "Kamu benar. Memang tidak." Suaranya melembut. "Tapi aku juga tidak benar-benar punya pilihan waktu." "Apa maksudmu?" Whitby menatap melewati Fordham ke pintu gereja. Baru kamu menyadari dua pria berdiri di luar. Mereka tidak berpakaian seperti tamu pernikahan. Setelan hitam, wajah datar, mata menyapu ruangan dengan ketelitian terlatih. Salah satu menyentuh alat komunikasi di telinganya. Perutmu melilit. Whitby kembali menatapmu. "Kumohon dengarkan aku," katanya. "Dan kumohon, percayalah bahwa semua yang kamu kira terjadi tujuh tahun lalu, itu semua dusta." Kamu menggeleng, air mata mengaburkan wajahnya. "Whitby—" "Aku tidak meninggalkanmu." Ia menelan ludah. "Aku hendak melamarmu di akhir pekan itu." Napasmu tersedot habis. Tentu saja ia ingat. Akhir pekan yang direncanakan di kabin kecil pinggir danau. Akhir pekan yang ia bilang bakal mengubah segalanya. Akhir pekan yang kamu habiskan menunggunya, menelpon sampai akhirnya hanya masuk pesan suara. Whitby merogoh saku jaket dalamnya. Fordham seketika tegang. "Jangan," peringatnya. Whitby tak mengindahkan, mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sebuah cincin perak. Tanganku menutupi mulut. Cincin mungil, batu oval dikelilingi berlian kecil. Kamu tak pernah melihatnya, tapi kamu tahu seketika—seolah melihat potongan hatimu sendiri. Whitby sudah membelikanmu cincin tunangan. Tujuh tahun lalu. "Aku membelinya hari Jumat itu," katanya, suara berat. "Aku akan melamarmu Sabtu malam. Semuanya sudah kurencanakan. Kabin, lilin, anggur busuk yang kamu pura-pura suka karena tahu aku yang beli." Senyum tangismu menyelip di antara isak. "Aku benci anggur itu." "Aku tahu." Senyum tipisnya lenyap seketika. "Aku sedang dalam perjalanan ke rumahmu ketika melihat sesuatu yang seharusnya tidak kulihat." Jari-jarinya menutup cincin itu. "Adriano Sarmento membunuh seorang senator Amerika malam itu." Seisi kapel gaduh. Bahkan penghulu menurunkan kitab di tangannya. Sarmento. Semua tahu nama itu. Pria dengan uang membeli politisi, kuasa membungkam jurnalis, dan cukup banyak musuh untuk membuat orang lenyap tanpa bekas. Tatapan Whitby melirik ke dua pria di luar sana. "Aku melihat kejadiannya. Mereka melihatku juga. Esok pagi FBI sudah menahan aku, dan sebelum mereka paham apa yang kulihat, harga sudah dipasang di kepalaku." Ia menatapmu. "Mereka masukkan aku ke program perlindungan saksi. Nama baru. Identitas baru. Tak boleh menghubungi siapa pun dari masa lalu. Mereka bilang, jika aku menghubungimu—bahkan sekadar memberi tahu bahwa aku hidup—Sarmento akan menggunakanmu memancing aku." Air matamu tak terbendung. "Jadi kamu biarkan aku percaya kamu sudah mati?" Matanya berkaca-kaca. "Mereka bilang kamu akan lebih aman dengan percaya itu." "Dan kamu percaya?" "Tidak." Suaranya pecah. "Aku melawan. Aku lawan mereka tiap hari." Ia menarik napas berat. "Tapi aku tak bisa pertaruhkan keselamatanmu. Kamu satu-satunya yang tak bisa kehilanganku." Kamu menatapnya, nyaris tak bisa bernapas. Tujuh tahun. Tujuh tahun meratapi pria yang ternyata hidup. Tujuh tahun memohon hari lain bersamanya. Sedang ia bertahun-tahun di luar sana, membawa cincin yang disiapkan untukmu. "Kenapa sekarang?" bisikmu. Whitby menatap Fordham. Untuk pertama kalinya, sesuatu selain amarah—ketakutan—terpancar di wajahnya. "Karena Sarmento diputuskan bersalah tiga hari lalu. Karena FBI baru melepas aku dari perlindungan pagi ini. Dan karena aku baru tahu adikku akan menikahi wanita yang tak pernah kulupa." Wajah Fordham benar-benar pucat. "Whitby," lirihnya. "Kamu tak paham apa yang kamu lakukan." Tatapan Whitby mengerut, tajam. "Kalau begitu jelaskan." Fordham tak menjawab. Kamu menatap bergantian dua saudara itu, nadi berdegup kencang. "Fordham?" Ia menoleh padamu, dan apapun yang kamu lihat di matanya menguras darah di pipimu. Bukan keterkejutan lagi. Melainkan rasa bersalah. Whitby juga mengetahuinya. Ekspresinya membeku. "Ya Tuhan," gumamnya. "Kau tahu sesuatu." Genggaman tangan Fordham makin erat. "Tolong," ujarnya padamu, suara panik. "Jangan dengarkan dia. Bukan di sini. Bukan di depan semua orang." Kamu menarik tanganmu. Ia menatapmu seolah kamu baru saja menamparnya. Whitby mendekat, menatap saudaranya. "Katakan padanya, Fordham." "Tutup mulut." "Katakan apa yang kamu tahu." "Kuminta diam!" Bentakannya menggaung di kapel. Seseorang di barisan depan terkejut. Penghulu melangkah mundur cemas. Kamu menatap Fordham, tunanganmu, pria yang memelukmu dari mimpi buruk tentang Whitby, mendampingi setiap peringatan tahun kepergiannya, meyakinkan bahwa menemukan cinta lagi bukan pengkhianatan bagi mendiang. "Katakan apa?" bisikmu. Mata Fordham mulai berkaca-kaca. Dan Whitby, yang berdiri hanya beberapa langkah darimu dengan tujuh tahun kesedihan di wajahnya, mengucapkan kata-kata yang akan menghancurkan semua keyakinanmu. "Tanyakan pada tunanganmu, kenapa ia tak pernah memberi tahu bahwa aku meneleponnya malam aku menghilang." Jantungmu serasa berhenti. Kamu memandang Fordham. Perlahan ia membuang muka. Dan di saat itu, bahkan sebelum ia berucap sepatah kata, kamu sadar sesuatu yang jauh lebih menakutkan daripada kembalinya orang mati. Pria yang akan kamu nikahi bisa saja sudah lama tahu alasan cinta sejatimu tak pernah kembali.
Kamu sedang di altar menikahi salah satu saudara Dorngaard ketika yang lain masuk, sudah tujuh tahun meninggal, membawa cincin yang tak pernah sempat ia berikan padamu.
Pintu gereja terbanting terbuka begitu keras hingga membentur dinding. Sebuah desahan kaget bergema di sepanjang kapel. Entah dari baris depan terdengar suara kaca pecah menghantam lantai batu. Musik berhenti, pemain biola menyeret satu nada terakhir yang sumbang sepanjang keheningan. Kamu nyaris tak menyadari. Karena pria yang berdiri di ambang pintu itu punya rambut gelap yang sama, bahu lebar yang sama, bekas luka membelah alis kiri yang begitu lama berusaha kamu lupakan. Tujuh tahun terbangun meraih seseorang yang tak pernah ada. Tujuh tahun menangis ke bantal supaya tak ada yang mendengar. Tujuh tahun mengunjungi makam kosong karena hanya di sanalah kamu bisa menitipkan duka. Tujuh tahun belajar bernapas tanpanya. Dan kini— Kini dia berdiri di belakang kapel, berpakaian serba hitam, dadanya naik turun seolah telah berlari sejauh masa lalu ke masa kini demi sampai di sini. Whitby. Whitby-mu. Hidup. Buketan bungamu terlepas. Mawar putih berjatuhan di lorong, kelopaknya diinjak para tamu yang berdiri ingin melihat lebih jelas. Bisik-bisik menyeruak di sekeliling, tapi terdengar jauh, sayup-sayup, seolah kamu sedang tenggelam di bawah air. Tidak. Tidak mungkin ini nyata. Kamu menyaksikan sendiri agen FBI berdiri di teras ibumu dengan wajah tegas dan kata-kata hati-hati. Kamu mendengar mereka menjelaskan bahwa Whitby hilang di bawah dugaan mencurigakan. Berminggu-minggu kamu bertahan pada kemungkinan ia masih ada di luar sana, terluka atau bersembunyi, menanti kesempatan untuk pulang. Sampai akhirnya harapan hanya menjadi luka lain yang tak sanggup kamu panggul. Jasadnya tak pernah ditemukan. Tapi akhirnya semua berhenti mencari. Semua kecuali kamu. Meski kamu tak lagi melafalkan namanya. Meski akhirnya kamu belajar tersenyum kembali. Meski kamu memutuskan menikahi saudaranya. Di sampingmu, Fordham membeku total. Kamu bisa merasakannya sebelum melirik ke arahnya. Tegangnya genggaman tangannya, bahu yang tiba-tiba kaku. Barusan dia masih menggenggam tanganmu, hangat dan menenangkan, ketika penghulu membacakan soal cinta, komitmen dan selamanya. Sekarang Fordham menatap ke arah pintu seolah baru melihat hantu. "Whitby," bisiknya. Suaranya pecah saat menyebut nama itu. Kamu menoleh pada tunanganmu, jantungmu berdetak begitu kencang hingga mual. "Kamu tahu?" bisikmu. Mata Fordham langsung menatapmu. "Apa? Tidak." Namun sesuatu melintas di wajahnya. Tak bisa kamu kenali, terkubur di bawah keterkejutan dan ketidakpercayaan. Kemudian Whitby melangkah mendekat. Dan lagi. Para tamu menyingkir memberi jalan, sebagian mundur, lainnya terpaku menganga. Ia tampak lebih tua. Tentu saja. Tujuh tahun telah berlalu. Ada guratan halus di sudut matanya, rahang yang kini lebih tegas, serta kegelapan dalam ekspresinya yang dulu belum pernah kamu lihat saat kalian muda. Tapi itu memang dia. Laki-laki yang mengecupmu di balik tribun setelah pertandingan kampus terakhirmu. Yang mencuri truk ayahnya untuk mengajakmu ke danau di ulang tahun ke-18-mu. Pria yang pernah berjanji padamu, menempelkan dahi ke dahimu, jari-jari saling terajut, bahwa takkan ada satu hari pun yang membuatmu ragu akan cintanya. Pria yang menghilang di akhir pekan dia berencana melamarmu. Kakimu mulai goyah. Whitby berhenti di tengah lorong. Tatapannya menemukanmu, dan sejenak waktu seolah berhenti—kalian sama-sama tak bergerak. Kamu mencari penjelasan di wajahnya. Permintaan maaf. Apapun yang bisa membuat tujuh tahun terakhir masuk akal. Pandangannya bergerak ke gaun putihmu, kerudung yang disematkan di rambut, cincin yang menanti di jarimu. Lalu ia memandang Fordham. Dan sesuatu dalam dirinya runtuh. "Tidak," ucap Whitby. Tak perlu keras. Sudah cukup. Fordham melangkah melindungi dirimu. "Whitby." Kali ini suaranya lebih tajam. "Apa yang kau lakukan di sini?" Whitby tertawa getir, matanya tak lepas darimu. "Menurutmu apa, Fordham?" "Kamu harus pergi." "Pergi?" ulang Whitby, baru menatap saudaranya. "Aku hilang tujuh tahun, dan pulang-pulang kudapati kamu di altar dengan wanita yang akan kunikahi?" Napasmu tercekat. Kapel begitu sunyi hingga suara AC terdengar samar. Rahang Fordham mengeras. "Kamu sudah pergi." "Aku masih hidup." "Kami tak tahu itu." "Aku pun sempat tak yakin." Kata-kata itu seperti batu menimpa hati. Baru kini kamu menyadari tangan Whitby bergetar di samping tubuhnya. Ia tampak kelelahan. Bukan sekadar lelah, tapi tergerus jadi sosok rapuh di balik amarah itu. Ia tampak seperti pria yang sudah lama berlari. Namun hanya satu hal yang bisa kamu pikirkan: dia kembali. Ia kembali, dan kamu berdiri di altar, bersiap berjanji hidupmu pada saudaranya. "Katakan sesuatu," bisikmu. Ekspresi Whitby berubah seketika. Amarah lenyap, terluapkan oleh yang jauh lebih menghancurkan: luka. Ia maju selangkah tak pasti. "Sayang." Satu kata itu memecahkan dirimu. Tanganku menutup mulut, tapi isakan tetap lolos. Tubuhmu mengingat dia jauh sebelum pikiranmu sempat menalar. Suara lembutnya, panggilan sayang yang dulu cuma milikmu, sorot matanya yang pernah jadi duniamu. Tujuh tahun seolah memudar dalam sekali helaan napas. Kamu ingin lari padanya. Kamu ingin memukulnya. Kamu ingin menuntut kenapa ia membiarkanmu menguburnya di hati, padahal nyatanya masih bernafas di dunia ini. Tapi kamu membeku di tempat. "Jangan," gumammu tercekik. Whitby berhenti. "Jangan panggil aku seperti itu." Wajahnya nyaris runtuh sebelum dipaksanya tetap tenang. "Oke." Kamu benci dia mendengarkan. Benci caranya menatapmu dengan mata yang begitu familiar. Kamu benci sebagian dirimu, masih rusak, bodoh, berharap ia meraih tanganmu. "Kamu sudah mati," bisikmu. "Aku tahu." "Tidak." Suaraku naik, bergetar. "Tidak, kamu tak berhak bilang begitu. Kamu tak bisa berdiri di sana dan bilang kamu tahu. Aku melihat ibuku menabur bunga di makam kosongmu. Tujuh tahun aku bertanya-tanya, apakah kamu kedinginan di suatu tempat, atau terluka, atau—" Suaramu pecah. Whitby tampak seperti setiap kata melukainya secara fisik. "Aku sudah mencoba pulang." "Jadi kenapa tidak pulang?" Mulutnya terbuka, tak ada jawaban. Fordham mendekat ke arahmu. "Waktu ini tidak tepat." Kepala Whitby menoleh cepat ke arahnya. "Kamu benar. Memang tidak." Suaranya melembut. "Tapi aku juga tidak benar-benar punya pilihan waktu." "Apa maksudmu?" Whitby menatap melewati Fordham ke pintu gereja. Baru kamu menyadari dua pria berdiri di luar. Mereka tidak berpakaian seperti tamu pernikahan. Setelan hitam, wajah datar, mata menyapu ruangan dengan ketelitian terlatih. Salah satu menyentuh alat komunikasi di telinganya. Perutmu melilit. Whitby kembali menatapmu. "Kumohon dengarkan aku," katanya. "Dan kumohon, percayalah bahwa semua yang kamu kira terjadi tujuh tahun lalu, itu semua dusta." Kamu menggeleng, air mata mengaburkan wajahnya. "Whitby—" "Aku tidak meninggalkanmu." Ia menelan ludah. "Aku hendak melamarmu di akhir pekan itu." Napasmu tersedot habis. Tentu saja ia ingat. Akhir pekan yang direncanakan di kabin kecil pinggir danau. Akhir pekan yang ia bilang bakal mengubah segalanya. Akhir pekan yang kamu habiskan menunggunya, menelpon sampai akhirnya hanya masuk pesan suara. Whitby merogoh saku jaket dalamnya. Fordham seketika tegang. "Jangan," peringatnya. Whitby tak mengindahkan, mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sebuah cincin perak. Tanganku menutupi mulut. Cincin mungil, batu oval dikelilingi berlian kecil. Kamu tak pernah melihatnya, tapi kamu tahu seketika—seolah melihat potongan hatimu sendiri. Whitby sudah membelikanmu cincin tunangan. Tujuh tahun lalu. "Aku membelinya hari Jumat itu," katanya, suara berat. "Aku akan melamarmu Sabtu malam. Semuanya sudah kurencanakan. Kabin, lilin, anggur busuk yang kamu pura-pura suka karena tahu aku yang beli." Senyum tangismu menyelip di antara isak. "Aku benci anggur itu." "Aku tahu." Senyum tipisnya lenyap seketika. "Aku sedang dalam perjalanan ke rumahmu ketika melihat sesuatu yang seharusnya tidak kulihat." Jari-jarinya menutup cincin itu. "Adriano Sarmento membunuh seorang senator Amerika malam itu." Seisi kapel gaduh. Bahkan penghulu menurunkan kitab di tangannya. Sarmento. Semua tahu nama itu. Pria dengan uang membeli politisi, kuasa membungkam jurnalis, dan cukup banyak musuh untuk membuat orang lenyap tanpa bekas. Tatapan Whitby melirik ke dua pria di luar sana. "Aku melihat kejadiannya. Mereka melihatku juga. Esok pagi FBI sudah menahan aku, dan sebelum mereka paham apa yang kulihat, harga sudah dipasang di kepalaku." Ia menatapmu. "Mereka masukkan aku ke program perlindungan saksi. Nama baru. Identitas baru. Tak boleh menghubungi siapa pun dari masa lalu. Mereka bilang, jika aku menghubungimu—bahkan sekadar memberi tahu bahwa aku hidup—Sarmento akan menggunakanmu memancing aku." Air matamu tak terbendung. "Jadi kamu biarkan aku percaya kamu sudah mati?" Matanya berkaca-kaca. "Mereka bilang kamu akan lebih aman dengan percaya itu." "Dan kamu percaya?" "Tidak." Suaranya pecah. "Aku melawan. Aku lawan mereka tiap hari." Ia menarik napas berat. "Tapi aku tak bisa pertaruhkan keselamatanmu. Kamu satu-satunya yang tak bisa kehilanganku." Kamu menatapnya, nyaris tak bisa bernapas. Tujuh tahun. Tujuh tahun meratapi pria yang ternyata hidup. Tujuh tahun memohon hari lain bersamanya. Sedang ia bertahun-tahun di luar sana, membawa cincin yang disiapkan untukmu. "Kenapa sekarang?" bisikmu. Whitby menatap Fordham. Untuk pertama kalinya, sesuatu selain amarah—ketakutan—terpancar di wajahnya. "Karena Sarmento diputuskan bersalah tiga hari lalu. Karena FBI baru melepas aku dari perlindungan pagi ini. Dan karena aku baru tahu adikku akan menikahi wanita yang tak pernah kulupa." Wajah Fordham benar-benar pucat. "Whitby," lirihnya. "Kamu tak paham apa yang kamu lakukan." Tatapan Whitby mengerut, tajam. "Kalau begitu jelaskan." Fordham tak menjawab. Kamu menatap bergantian dua saudara itu, nadi berdegup kencang. "Fordham?" Ia menoleh padamu, dan apapun yang kamu lihat di matanya menguras darah di pipimu. Bukan keterkejutan lagi. Melainkan rasa bersalah. Whitby juga mengetahuinya. Ekspresinya membeku. "Ya Tuhan," gumamnya. "Kau tahu sesuatu." Genggaman tangan Fordham makin erat. "Tolong," ujarnya padamu, suara panik. "Jangan dengarkan dia. Bukan di sini. Bukan di depan semua orang." Kamu menarik tanganmu. Ia menatapmu seolah kamu baru saja menamparnya. Whitby mendekat, menatap saudaranya. "Katakan padanya, Fordham." "Tutup mulut." "Katakan apa yang kamu tahu." "Kuminta diam!" Bentakannya menggaung di kapel. Seseorang di barisan depan terkejut. Penghulu melangkah mundur cemas. Kamu menatap Fordham, tunanganmu, pria yang memelukmu dari mimpi buruk tentang Whitby, mendampingi setiap peringatan tahun kepergiannya, meyakinkan bahwa menemukan cinta lagi bukan pengkhianatan bagi mendiang. "Katakan apa?" bisikmu. Mata Fordham mulai berkaca-kaca. Dan Whitby, yang berdiri hanya beberapa langkah darimu dengan tujuh tahun kesedihan di wajahnya, mengucapkan kata-kata yang akan menghancurkan semua keyakinanmu. "Tanyakan pada tunanganmu, kenapa ia tak pernah memberi tahu bahwa aku meneleponnya malam aku menghilang." Jantungmu serasa berhenti. Kamu memandang Fordham. Perlahan ia membuang muka. Dan di saat itu, bahkan sebelum ia berucap sepatah kata, kamu sadar sesuatu yang jauh lebih menakutkan daripada kembalinya orang mati. Pria yang akan kamu nikahi bisa saja sudah lama tahu alasan cinta sejatimu tak pernah kembali.