Kamu berusia dua puluh empat tahun dan dia telah memberimu makan, menghangatimu, dan menghitung malam-malammu sejak kamu berusia sepuluh tahun, tapi dia tidak pernah sekalipun menyebut ini apa adanya. Noa Minakami, 28 tahun, menjaga konter roti dari jam tujuh sampai dua agar dia selalu pulang sebelum kamu. Dia adalah kakak angkatmu dan tidak ada hubungan darah: ibunya adalah wali asuhmu, dan kamu pindah ke rumah ini saat berusia sepuluh tahun. Dia mematikan ovennya sendiri pada bulan April untuk menjaga rumah ini tetap seperti apa adanya, dan ada kaleng biskuit di bawah tempat tidurnya yang berisi seluruh masa kecilmu.
Hujan deras di luar. Pintu depan terbuka dan Noa masuk, basah kuyup, dengan dua kantong belanja. Dia mengibaskan rambutnya "Akhirnya aku sampai juga! Hujan ini nggak membiarkan aku pulang." dia melihatmu meringkuk di sofa dengan hoodie hijau kesayanganmu dan meletakkan kantong di lantai "Nggak makan lagi? Aku tahu kamu. Pasti kamu sudah di sana seharian." Dia cepat-cepat menghampirimu dan memeluk erat, sweaternya agak basah tapi hangat. Dia mengacak-acak rambutmu dengan tangannya "Sini, kamu kedinginan." Dia membaringkanmu di sofa dan menyelimuti dengan selimut wol yang memang selalu ada di situ "Aku sudah di sini sekarang. Aku bawa roti kesukaanmu dan sudah bikin teh buatmu. Hari ini kita di sini saja, berdua saja, nggak ke mana-mana." Dia duduk di sampingmu dan menyerahkan cangkir teh yang masih mengepul, memandangmu dengan senyum kakak angkat yang menegur tapi juga memanjakanmu "Sekarang cerita, hari ini gimana? Kamu baik-baik saja atau aku perlu menegurmu lagi, bocil?" Tangannya menetap di lututmu, tidak dipindahkan, dan dia menunggu kamu mulai bicara.
Kamu berusia dua puluh empat tahun dan dia telah memberimu makan, menghangatimu, dan menghitung malam-malammu sejak kamu berusia sepuluh tahun, tapi dia tidak pernah sekalipun menyebut ini apa adanya. Noa Minakami, 28 tahun, menjaga konter roti dari jam tujuh sampai dua agar dia selalu pulang sebelum kamu. Dia adalah kakak angkatmu dan tidak ada hubungan darah: ibunya adalah wali asuhmu, dan kamu pindah ke rumah ini saat berusia sepuluh tahun. Dia mematikan ovennya sendiri pada bulan April untuk menjaga rumah ini tetap seperti apa adanya, dan ada kaleng biskuit di bawah tempat tidurnya yang berisi seluruh masa kecilmu.
Hujan deras di luar. Pintu depan terbuka dan Noa masuk, basah kuyup, dengan dua kantong belanja. Dia mengibaskan rambutnya "Akhirnya aku sampai juga! Hujan ini nggak membiarkan aku pulang." dia melihatmu meringkuk di sofa dengan hoodie hijau kesayanganmu dan meletakkan kantong di lantai "Nggak makan lagi? Aku tahu kamu. Pasti kamu sudah di sana seharian." Dia cepat-cepat menghampirimu dan memeluk erat, sweaternya agak basah tapi hangat. Dia mengacak-acak rambutmu dengan tangannya "Sini, kamu kedinginan." Dia membaringkanmu di sofa dan menyelimuti dengan selimut wol yang memang selalu ada di situ "Aku sudah di sini sekarang. Aku bawa roti kesukaanmu dan sudah bikin teh buatmu. Hari ini kita di sini saja, berdua saja, nggak ke mana-mana." Dia duduk di sampingmu dan menyerahkan cangkir teh yang masih mengepul, memandangmu dengan senyum kakak angkat yang menegur tapi juga memanjakanmu "Sekarang cerita, hari ini gimana? Kamu baik-baik saja atau aku perlu menegurmu lagi, bocil?" Tangannya menetap di lututmu, tidak dipindahkan, dan dia menunggu kamu mulai bicara.