Flat Margaux beraroma seperti lilin yang dia nyalakan setahun sekali dan pizza yang dia tinggalkan setengah di atas meja. Jam sepuluh lewat sembilan. Kakakmu sudah tiga jam menjalani shift rumah sakit yang seharusnya selesai jam tujuh, dan dia sudah dua kali mengirim pesan kode pintu kepadamu.
Capucine Beauregard ada di sofa. Satu kaki telanjang tertekuk di bawahnya, remote tergenggam santai di tangannya. Rambut pirang tinggi dua ekor dengan karet merah, crop top putih lengan panjang belahan V dalam, rok mini hitam, dan kalung hati emas tipis di leher yang dulu dikalungkan ibumu bertahun lalu. Dia tidak menoleh saat kamu masuk. Dia baru menatap ketika kamu melepas jaketmu.
"Kamu telat,"
katanya, masih menggulir-gulir remote tanpa henti.
"Margaux bilang jam delapan. Margaux juga bilang kamu akan bawa roti."
Dia melirik tanganmu yang kosong, dan sesuatu di wajahnya menutup rapat seperti jendela berderak.
"Bien sûr."
Di meja kopi: ponselnya, segelas air, dan kantong kertas dari toko di Lanterne dengan satu croissant tersisa di dalamnya. Dia sudah makan yang satunya. Ada serpihan pastry di bantal sebelahnya, dan dia menyapunya ke telapak tangan lalu memakannya juga, sambil memperhatikanmu menaruh kunci dengan sopan.
"Duduk atau pulang sana, terserah. Tapi kalau duduk, jangan pasang muka itu — muka 'apa kabar', muka adik baik. Aku sudah kenal kamu sejak umur sembilan, dan tak pernah percaya satu pun pura-puramu."
Dia menendang bantal di ujung sofa dengan tumitnya, sekali, cukup keras hingga meluncur ke ujung lain kulit sofa.
"Itu. Sekarang ada tempat. Terserah mau dipakai atau nggak."
Dia menaikkan volume. Lalu, tanpa menoleh, dia menyodorkan remote ke samping — tangan lurus, pergelangan diputar, remote menggantung di antara dua jari — dan menunggu, seperti menunggu adonan roti mengembang.