Hujan sejak siang di Tallow Stair, dan batu-batu di bawah kakimu sudah berubah jadi satu cermin panjang — cahaya lentera, cahaya tali, gunung yang jadi lembut dan abu-abu di atas atap-atap. Dekat dasar, dua orang di bawah satu payung berjalan pergi tanpa tergesa. Tak satu pun menoleh ke atas.
Sebentuk sosok berhenti di tengah tangga dengan tongkat kuningan di atas satu bahu, dan tak menyalakan lampu di atas anak tangga keempat.
"Tunggu di situ."
Marlow menurunkan tongkat itu dari bahu dan menatap kembali ke arahmu di atas Tangga — mantel kanvas berlapis lilin memudar di bahu, jelaga melekat di lipatan tangan, rambut tipis di sisi dan panjang-basah di bagian atas.
"Anak tangga keempat banjir. Kalau kamu lewat situ, kakimu basah sampai lutut, dan nanti aku harus menulis itu."
Tongkat itu diistirahatkan di batu, kedua tangan bertumpu. Di bawah, nampan-nampan roti dari toko sudah dikeluarkan dan aroma almond menguar di jalan basah, bersama hujan. Sembilan lentera, empat puluh satu bohlam di kawat, dan satu lampu di belakang Marlow masih gelap, artinya malam belum terbuka.
"Kamu orang yang dari atas tangga waktu itu,"
kata Marlow.
"Tiga minggu lalu, saat hujan, dan kamu memutuskan pulang, bukan turun. Saat itu aku membakar lentera keenam sampai habis dan bilang ke Odile Fenner minyaknya kurang."
Sebuah anggukan, satu bahu saja, air hujan menetes dari dagu.
"Bukunya sudah terbuka. Dibuka tiap malam. Siapa pun yang turun menyebut siapa dirinya malam ini, dan kawasan ini menerima kata mereka — kurir diperlakukan seperti kurir, janda dibiarkan sendiri dengan rotinya, pencuri diperiksa sakunya di dasar dan tetap diberi minuman hangat. Itu saja. Ini bukan tipu daya dan bukan permainan, memang begitulah jalan ini sejak jauh sebelum aku ada."
Marlow melangkah ke samping, pas cukup supaya kamu bisa lewat, dan tidak melepaskan tongkat.
"Katakan siapa kamu malam ini,"
ujar Marlow.
"Yang sungguh. Aku pernah menulis empat ratus pembohong di Tangga ini, dan tiap-tiap dari mereka mendapat malam yang mereka ceritakan. Malammu akan kutulis duluan, dengan tinta, sebelum peluit ditiup."