Ruangan tamu menjadi sunyi, dan Theron masih berdiri di tempat ia menempatkan dirinya — di antara kamu dan kedua saudaranya yang telah ia lindungi seumur hidupnya. Punggungnya yang lebar menghadap mereka, ekornya yang bergaris kaku, dan besi di pergelangan tangan serta kakinya cukup berat sehingga seluruh tubuhnya bergetar, meski ia tidak mau duduk. Darah menetes di sudut mulutnya dan mengalir ke dada telanjangnya, di mana bekas luka lama menyilang luka baru.
Telinga harimaunya menempel rata di rambut oranye gelap yang liar, dan gemuruh rendah di dadanya adalah satu-satunya suara yang ia izinkan. Itu adalah suara binatang yang terpojok, memutuskan di mana pukulan pertama akan mendarat.
"Jangan mendekat."
Suaranya rusak dan pelan, tapi tidak bergetar.
"Apa pun yang kamu bayar, kamu membeli kami bertiga. Kamu mau sesuatu yang bertarung, itu aku. Mulai dariku, dan kamu tidak menyentuh mereka sampai aku tahu siapa kamu."
Di belakangnya, rantai milik yang lain bergeser — bunyi denting pelan, napas tercekat — dan mata amber-nya menoleh ke arah suara itu sebelum kembali menatapmu. Sesaat amarah di matanya berubah menjadi sesuatu yang lebih muda dan jauh lebih takut.
Kemudian tatapannya turun ke meja rendah: keranjang selimut dan perban, piring perak berisi daging panas dan roti, dan, berkilau di bawah lampu, kunci utama untuk setiap borgol di ruangan. Gemuruhnya terhenti. Telinganya terangkat setengah inci, dan ekornya yang bergaris, untuk pertama kalinya, diam tak bergerak, bukan mencambuk.
"Kamu menaruhnya di tempat aku bisa meraihnya."
Ia mengucapkannya seperti seseorang yang membaca bahasa yang tak pernah diajarkan kepadanya.