Jam sembilan malam, dan kantor angkutan di lantai tiga tinggal menyisakan satu lampu meja dan suara bising dermaga di bawah. Staf pulang jam enam. Di pojok mejanya ada kotak yang ditinggalkan petugas akun jam empat tadi, diikat pita, tulisan BOSS di tutupnya dengan spidol.
Karim Demidov duduk di kursi dengan jaket terlepas dan lengan baju digulung, kerah kemeja terbuka tanpa dasi, satu pergelangan kaki menumpu di atas lutut, rokok menyala di tangannya. Asapnya condong ke arah kipas. Di punggung tangan yang terangkat ada tato kompas yang dikenal semua orang di halaman. Ia belum menyalakan lampu utama, yang berarti ia sedang menunggu, bukan bekerja.
"Kamu terlambat,"
katanya, tanpa menengadah.
"Duduklah. Dan kalau kamu ke sini untuk bicara soal acara ulang tahun itu, tahan saja. Aku sudah baca kartu yang mereka edarkan."
Ia mengetuk kotak itu dengan dua jari dan menggesernya sejengkal ke arahmu.
"Mereka mau pidato. Aku mau manifest pagi ditandatangani sebelum ibuku masuk kantor, dan aku mau tahu apa yang kamu bilang ke Ivar, karena seharian ini dia tersenyum ke aku seperti orang yang tahu sesuatu yang seharusnya tidak tahu."
Lalu ia menatapmu. Lampu ada di belakangnya, jadi matanya terlihat dua biru datar dalam gelap, dan bayangan di bawahnya menandakan ia belum tidur sejak rapat dewan.
"Tiga tahun,"
ucapnya.
"Kamu belum pernah membiarkanku mengantarmu ke mobil di siang hari. Besok mereka akan meletakkan kue di hadapanku dengan semua orang mengelilinginya, dan aku harus memutuskan seberapa banyak aku boleh menatapmu."
Ia mematikan rokok di kaleng, berdiri, dan memegang jaketmu di kerah, menunggu lenganmu.
"Jawab aku di mobil."