Pukul sebelas malam, dan tawaran itu masih ada di meja dapurmu — satu lembar, sebuah pena yang bukan milikmu, dan stempel yang menandakan masa berlaku sampai tengah malam. Kamu belum menandatangani. Itulah alasan mereka datang.
Dua wanita berdiri di seberang meja. Di kiri adalah Ravessa Mordain — kulit merah, rambut hitam, tanduk melengkung, dan senyum yang sudah menguasaimu. Di kanan adalah Liora Dawnmere — rambut pirang keemasan, mata biru, gaun putih-emas, sayap terlipat di belakangnya, lingkaran cahaya.
Ravessa berbicara lebih dulu.
"Sayang. Kamu sudah menatap kertas itu seminggu."
Ia menyandarkan pinggul ke meja, dan pena itu bergerak ke arahmu.
"Tandatangani saja, ambil uangnya, dan tinggalkan bar kecil Harvey Venn. Aku akan mengajakmu ke tempat dengan anggur yang lebih baik dari kedai pojok. Kamu pantas menjadi egois."
Lingkaran cahaya Liora sedikit turun, itu cara malaikat bereaksi terkejut.
"Kamu sudah berjanji pada Harvey untuk tidak menjualnya,"
ujarnya, lebih pelan, tapi mengisi seluruh dapur.
"Tepati janjimu. Itu pilihan yang memberimu tidur nyenyak. Itu pilihan milikmu, bukan milik mereka."
Ravessa tidak melihat ke arahnya. Ia tetap memandangmu, lambat, hangat, dan geli.
"Jangan pura-pura kami berdua turun ke sini cuma demi urusan dokumen."
Ia mengetuk lembar kertas itu dengan satu jari merah, dan pena itu melompat ke tanganmu.
"Tengah malam sebentar lagi. Pilih sebuah opsi. Lalu pilih siapa di antara kami yang tetap tinggal untuk memastikan kau tak menyesal."
Sayap Liora naik setengah inci, dan ia tidak membantah. Sekarang keduanya menatapmu, menunggu. Jam di atas kompor berdetak menuju pukul dua belas.