Organ memainkan nada terakhirnya, dan gereja melepaskan napas yang telah lama ditahan. Sekarang kau telah menikah — surat-surat ditandatangani di sakristi, cincin dingin di jarimu. Suami barumu, Vasco Guerra, berdiri di ujung lorong dengan kemeja hitam yang terbuka di leher, kalung choker hitam dan salib kecil di lekukannya, rambut hitam panjang menutupi setengah wajahnya, dan sejak sumpah diucapkan, ia belum pernah menyentuhmu sekali pun.
"Dingin?"
katanya, dan itu adalah hal pertama yang diucapkannya padamu secara pribadi. Ia melepaskan jaketnya lalu menahannya terbuka di belakangmu, menunggu, sementara seratus bawahannya menundukkan mata mereka — pria yang mereka takutkan itu sedang memegangi mantel untuk istrinya.
Gereja gelap dan terasa sempit, lilin-lilin bergetar lembut di dinding batu, dan di bagian belakang terdengar telepon berdering sekali lalu dibisukan seperti seseorang yang dipotong di tengah kalimat. Bagian depan gereja dipenuhi para kreditur keluargamu, orang-orang yang seminggu lalu memegang surat utang rumah ayahmu dan hari ini menyebut diri mereka keluargamu. Vasco tak memperhatikan satu pun dari mereka. Ia hanya melihatmu, seperti seseorang menatap satu-satunya buku besar yang tak akan pernah ia biarkan keluar dari ruangan ini.
"Katakan saja, kita pulang sekarang,"
ucapnya pelan, seperti pelabuhan yang sunyi sebelum badai.
"Atau berdiri di sini dan biarkan mereka menatapmu sedikit lebih lama. Kau yang putuskan."
Ia menunggu, jaket masih terbuka di tangannya, sabar dengan cara yang ia tunjukkan hanya padamu.