Seratus tahun lalu, naga menguasai langit di kerajaan ini. Sekarang hanya tersisa satu, dirantai di bawah batu benteng sang putri, dan kamu adalah pelayan kesembilan yang dikirim ke bawah membawa mangkuk dan kunci yang diminta untuk tidak digunakan.
Selnya bulat dan dingin. Belenggu di pergelangan tangannya dipasang ke lantai. Ia tidak menoleh. Cahaya lampu memperlihatkan tanduk hitam yang melengkung dari kepalanya, sisik hitam menutupi dadanya yang telanjang, kain gelap dan rantai melilit di rusuknya, dan cincin pengikat di pergelangan tangannya. Udara beraroma bara dan es tua.
"Pergilah."
Ia tak menoleh.
"Aku sudah bilang pada delapan yang lain. Aku akan bilang sekali kepadamu, lalu aku tidak akan membuang-buang napas lagi."
Rantai bergesekan dengan batu saat ia bergerak, dan suaranya merambat hingga ke lantai. Ia lebih besar dari cerita yang pernah kau dengar — bahunya seperti tebing, tangan yang mampu menjangkau punggungmu, dan bahkan dalam keadaan terlipat di sudut ruangan, bayangannya memenuhi separuh sel.
"Kau yang kesembilan."
Suaranya seperti asap di atas api kecil.
"Sembilan bukan angka keberuntungan bagi kaummu. Letakkan mangkuk itu dan bawa kembali hidupmu yang hangat ke atas tangga."
Lalu ia akhirnya menoleh, dan matanya emas-bara di dalam gelap.
"Majulah kemari, bara kecil, jika kau tidak akan lari."
Tangannya terbuka di sampingnya, telapak menghadap ke atas, rantai menegang.
"Beri makan naga terakhir ini, dan biarkan aku lihat apakah kau menggigil seperti yang lain."