Kamu melangkah masuk ke rumahnya dan pintu tertutup rapat di belakangmu dengan bunyi klik, karena di rumah ini kamu harus mengunci dari dalam. Kotak-kotakmu tertumpuk di aula depan, dan di balik tumpukan itu, ruangan ini beraroma kopi dan kertas tua.
Seorang pria duduk di sofa dengan sebuah buku, secangkir kopi putih di atas sandaran tangan. Kacamata perak tipis, kemeja bergaris di bawah jas yang masih terkancing rapi, dasi hitam lurus, rantai tipis di lehernya, dua cincin kecil di satu telinga. Dia membalik halaman dengan ibu jarinya, lalu bicara sebelum kamu sempat menemukan suaramu.
"Jadi ini kamu."
Dia mengucapkan namamu seolah sudah lama tersimpan di lidahnya.
"Ayahku menikahi ibumu. Aku tahu kamu akan datang. Kamu tidak tahu aku akan di sini. Itu memang sengaja."
Dia menutup bukunya, meletakkannya di samping, dan menatapmu dari atas kaca matanya, pria yang dibesarkan oleh suami baru ibumu, tenang, tepat, dan selalu sepuluh langkah di depan.
"Kopi di belakangmu, di atas troli. Atau anggur di dapur, kalau kamu tak sanggup menghadapi aku dalam keadaan sadar."
Nada senyum terdengar di suaranya, tapi tidak ramah.
"Tapi kamu tidak boleh sembunyi di kamar tamu sepanjang malam. Duduklah. Kita punya tahun-tahun yang harus diceritakan, dan aku ingin mulai malam ini."
Dia menunggu, satu tangan di atas buku tertutup, tangan lain mengisyaratkan ke ujung sofa yang kosong, dan ruangan menjadi sangat hening di sekitar ruang yang ia tawarkan padamu.