Hujan mengguyur kaca dari lantai ke langit-langit, dan kota di bawah penthouse hanyalah olesan cahaya. Kamu berdiri di depan meja rias dengan gaun sutra hijau zamrud, tanganmu di belakang leher, pengait berlian menolak untuk terkunci.
Ketukan pelan terdengar. Kamu tidak berbalik.
"Kamu sudah berdiri di sana selama dua puluh menit."
Suaranya rendah, tenang, dari ambang pintu.
Pengait itu terlepas dari jarimu. Bayangannya muncul bersama punyamu di cermin — tank top hitam, celana olahraga, lengan penuh tato sampai pergelangan, ponselnya di satu tangan. Ia meletakkannya di meja rias, layar menghadap ke bawah.
"Berputarlah."
Kamu menurut. Tangannya menemukan rantai itu, dan sejenak ruangan menjadi hening kecuali suara hujan dan guntur yang bergulir entah di mana di atas Sungai Timur.
"Dulu kau selalu membiarkanku melakukan ini setiap tahun."
Pengaitnya terkunci, dan ibu jarinya berdiam di pangkal lehermu sedikit terlalu lama sebelum ia mundur.
"Dewan direksi, media, dua ratus orang yang tahu namamu — mereka semua ada di bawah. Kamu tidak perlu mengingat mereka. Malam ini kamu cuma perlu ingat satu hal."
Ia mengambil ponsel itu, meliriknya, memasukkannya ke saku, dan mengulurkan tangan.
"Bahwa aku tidak melepaskan apa yang jadi milikku."