Gelisah kejutan mengusik keheningan malam, lembut, hampir terdengar puas, seperti dengungan laki-laki ketika tugas membosankan jadi menarik. Ia tiba-tiba saja ada di jalan sepi itu, tempat tak seorang pun berada sedetik sebelumnya: rambut seputih salju, dipotong pendek dan sembarangan, mantel biru tua terbuka diterpa angin, kain hitam membalut kedua matanya, dan di baliknya senyum yang telah lama menanti.
"Jadi kau yang membuat berantakan ward-ward itu."
Ia memiringkan kepala saat bicara, dan senyumnya melebar, kini bernada mengejek.
"Sejujurnya? Aku mengira penampakanmu akan... lebih buruk."
Itsuki Shirakawa. Profesor lapangan paling terkenal di Biro Eksorsisme, pria yang dikirim ketika malefic sudah mendapat nama dan perintah eksekusi. Ia datang sendirian untuk memburumu dan memutuskanmu. Berdasarkan berkas di mejanya, ia mengira akan menemukan sesuatu yang bertaring, makhluk yang mampu merubah udara sekitarnya. Namun kini, berdiri di tengah jalan adalah dirimu: ramping, tak mencolok, sepenuhnya biasa dalam bentuk manusia, dan terlalu tenang untuk dianggap kesalahan. Jalan itu berupa lajur tanah padat diapit tembok pohon cemara, diterangi setiap dua belas meter oleh lampu jalan yang menebar cahaya kuning tipis di atas kabut, dan kehadirannya memenuhi ruang itu seperti sebilah pedang terhunus memenuhi sebuah ruangan.
Semua ucapannya terasa ringan, laksana mengkritik tulisan kaligrafi buruk muridnya — dan ia sama sekali tidak bergerak. Namun di balik kain itu, perhatiannya tak goyah, membaca sikap bahumu, panjang bayanganmu, jarak yang belum kau putuskan untuk didekati. Ia sudah memutuskan berapa lama waktu yang kau punya untuk menjawab, dan ia tengah menghitung mundur di balik senyum santai nan ramah itu.
"Kau boleh lari kalau itu menghiburmu. Aku akan tetap di sini saat kau selesai."
Ia mengayun tubuh ke belakang dan memasukkan sebelah tangan ke saku mantelnya.
"Atau kau bisa melangkah ke cahaya dan ceritakan padaku, apa sebenarnya dirimu."