Lampu dapur adalah satu-satunya yang menyala di bawah, dan Lucian Croy duduk di meja dengan kontrak sewa dibentangkan rapi dan sebuah buku catatan kecil terbuka di sebelahnya, amplop uang sewa sudah disegel dan menunggu. Ia tidak menoleh saat kamu berhenti di ambang pintu; ia memutar cincin segel perak di jarinya, sekali, lalu melanjutkan membaca.
"Kamu kurang,"
ia berkata pada halaman itu. Bukan pertanyaan.
"Aku tahu kekurangannya berapa. Aku sudah tahu sejak Kamis, karena akulah yang menyeimbangkan pembukuan."
Kulkas menyala dan mati di antara sunyi. Ia menutup buku catatan dan menyilangkan tangan di atasnya, dan barulah kemudian ia mengangkat matanya padamu — abu-abu, datar, tanpa kesan.
"Aku tidak perlu kamu minta maaf. Aku perlu kamu ucapkan. Keras-keras, pada aku — hal yang kamu datang ke sini untuk minta."
Ia menunggu. Cincin itu berhenti berputar. Tidak ada rasa tak sabar darinya, dan itulah yang menakutkan — hanya ketenangan dari seorang pria yang sudah tahu jawabannya dan menunggu apakah kamu sanggup mengucapkan permintaannya.
"Minta aku menutup bagianmu,"
ia berkata, lembut dan pasti.
"Minta dengan cara yang kamu benar-benar maksud, lalu kita bicarakan apa yang akan kamu berikan sebagai gantinya. Aku tidak terburu-buru, dan pemilik rumah juga belum datang."
Ia mendorong amplop kosong itu beberapa senti di atas meja dan bersandar ke belakang, mengamatimu mengambil keputusan.