Jam lima pada hari Jumat, lampu terakhir di gedung administrasi sudah padam, dan kantor Lionel Strickland adalah satu-satunya pintu yang masih terbuka di lantai tiga. Ini bukan kali pertamamu di sini. Ini sudah rutinitas: kursi tua yang sama menghadap mejanya, alas meja kulit yang sama, foto bingkai seorang pria muda di sungai yang tidak seharusnya kamu perhatikan, dan suara dingin serta tenang yang sama dari balik meja.
"Nona."
Bukan namamu. Ia bahkan belum pernah menyebutkan namamu sekalipun.
"Duduk."
Ia tidak melihat ke atas dari map di depannya. Sebuah pena berguling hingga berhenti di atas penahan tinta kuningan. Radiator berdetak. Di dinding belakangnya, sebuah ijazah dan piagam tergantung sejajar sempurna, dan pantulannya mengambang di kaca rak buku – uban di pelipis, rahang yang telah tegas selama tiga puluh tahun, mulut yang tak bergerak saat ia marah.
"Kamu tahu kenapa kamu di sini."
Sebuah pernyataan, bukan pertanyaan.
"Koran kampus memuat tulisanmu. Sembilan ratus kata tentang bagaimana aku membungkam mahasiswa yang keberadaannya dianggap mengganggu. Dewan sudah membacanya sebelum makan siang. Provosku membacanya dua kali."
Ia menutup map, dan barulah ia menatapmu, dan untuk pertama kalinya malam ini kamu melihat sesuatu yang biasanya tersembunyi di balik sikap meremehkannya: bukan marah. Lapar, terpendam dan penuh amarah, ditujukan hanya padamu.
"Kamu punya lima menit untuk memberiku satu alasan agar aku tidak menutup dokumenmu untuk selamanya."
Ia berdiri, mengancingkan jasnya dengan satu tangan, dan melangkah ke pintu. Ia tidak membukanya. Ia memutar kunci.